
Sepuluh menit kemudian.
"Ta... Gue seriusan minta maaf loh, ini! maafnya diterima ngga?" Arka meringsek maju mendekati Agatha yang pura-pura sibuk membaca.
"Ngga, gue bosen denger kata maaf dari, Lo!" ketus Agatha.
"Ta, jangan gitu dong! Lo mau apa sebagai ganti maafnya? coklat? pernak-pernik BTS? ayo gas, kita beli sekarang," mohon Arka membujuk.
Agatha diam saja.
"Ta... Ngomong dong, gue takut kalo Lo diemin gue lama-lama begini,"
Agatha bergeming.
"Ta, ngga baik loh, marah lama-lama. Tar keriputan lagi tuh muka," Delan ikut bersuara, berusaha mencairkan hati Agatha yang beku.
"Ta, please dong!" panggil Arka lagi.
Agatha tetap asyik membolak-balik novel yang baru saja dibelinya dari Gramedia sepulang sekolah tadi. Seakan-akan tak menganggap kehadiran dua mahluk tampan ciptaan Tuhan di depannya.
"Ta...!" Arka tak menyerah membujuk gadis berpipi chubby di hadapannya, sehari saja didiamkan oleh Agatha rasanya hampa, seolah-olah tak ada kehidupan lain selama seribu tahun di bumi.
Agatha menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap tajam kearah Arka.
"Berisik banget sih, Lo? mending Lo pada balik geh, Sono! gue cape mau istirahat."
"Ta, Arka kan udah ngakuin kalo dia salah ngga nolongin Lo sewaktu tragedi jambu biji menimpa, dia juga udah minta maaf. Apa iya Lo tega ngga maafin Arka?" bujuk Depan lagi.
Agatha secara tiba-tiba membanting novelnya ke atas meja, bahkan saking kerasnya lemparan agatha novelnya sampai jatuh ke lantai dengan keadaan mengenaskan.
"Lo," tunjuk Agatha tepat mengarah ke wajah Delan.
"Ngga usah ikut campur urusan gue sama Arka, mending Lo diem aja, daripada berlagak seperti pahlawan yang munculnya kesiangan, deh! ngga usah sok bela-belain Arka kalo Lo ngga tau gimana kronologi sebenarnya," sahutnya ketus.
Delan kaget setengah mati dibuatnya, sungguh tak mengira jika reaksi yang Agatha berikan akan seperti itu. Niat hati hanya ingin mendamaikan keduanya, kini dirinya malah ikutan menikmati getahnya. Kacamata nya bahkan nyaris melorot dari hidung yang tak seberapa mancungnya itu.
__ADS_1
Selama mereka menjalin persahabatan, baru kali ini ia melihat Agatha mengamuk seperti ini.
"Gue ngga bermaksud belain si Arka nyalahin tindakan Lo yang ceroboh itu, Ta! T-tapi..."
"Cih! Lo berdua tau kan dimana letak pintu keluarnya? mau gue seret satu per satu, ato keluar sendiri? Ngapain juga pake acara Dateng ke sini segala, udah tau gue lagi marah, malah enak-enakan makanin puding kesukaan gue."
"Ta..."
"Pulang ngga Lo pada? Gue pengen sendiri," Bentak Agatha galak.
Arka bengong, tidak tahu harus berbuat bagaimana lagi untuk membujuk Agatha agar mau memaafkannya. Tak di sangka perkara tragedi jambu biji di waktu lalu membuat amarah Agatha menjadi sedemikian rupa kepadanya dan juga Delan.
"Lo ngusir kita, ta? seriusan?" tanya Delan. Ada rasa tak percaya menyelimuti benaknya melihat perubahan sikap Agatha hari ini. Agatha yang mereka temui sekarang seolah bukan Agatha sahabat mereka di beberapa tahun belakang.
"Masih pake nanya lagi, Lo budek apa gimana sih?" Agatha bangkit dan berkacak pinggang.
Melihat tampang Agatha yang sedang tidak bersahabat, Arka dan Delan akhirnya menyerah. Perlahan-lahan mereka bangkit dari duduk masing-masing dan berjalan menuju pintu.
Di depan pagar, Arka menoleh, berharap Agatha akan menahannya.
"Yah, pulang aja. Lebih cepat lebih bagus."
"Gue sama Arka pamit dulu ya, Ta...." Delan menimpali.
"Cih! ngapain pamit lagi sih? berharap gue tahan? ngga bakal! udah sana buruan pulang, gangguin waktu istirahat gue aja Lo berdua,"
Arka dan Delan berjalan gontai. Spot jantung rasanya melihat kemarahan agatha kali ini.
Melihat punggung kedua sahabatnya telah menghilang di balik pembatas rumah, Agatha buru-buru masuk kedalam rumah. Tak ingin ketahuan, kedua telapak tangannya bergerak menutup mulutnya rapat-rapat tapi tetap tidak bisa. Sekuat apapun usahanya, tawa itu tetap juga pecah.
Ia tidak dapat menahan tawa ketika membayangkan betapa lucunya wajah ketakutan plus syok yang Arka dan Delan tunjukkan sewaktu dirinya membanting buku dan berlagak ketua, sungguh mengemaskan.
Tawa cekikan Agatha yang khas ternyata masih dapat di dengar oleh Arka dan Delan yang ternyata masih berada belum jauh dari rumah agatha. Refleks, kedua lelaki tampan itu menghentikan langkahnya dan saling tukar pandang, menatap curiga.
Mereka buru-buru kembali masuk kedalam rumah Agatha.
__ADS_1
Agatha yang tengah terpingkal-pingkal dengan kedua mata tertutup, tidak menyadari jika Arka dan Delan sudah berada di depannya.
"Ta, Lo sebenernya udah ngga marah lagi kan sama kita?" tanya Delan memberanikan diri.
Mendengar suara dekan, Agatha membuka matanya, tapi bukannya berhenti, tawanya malah semakin kencang. Apalagi melihat wajah Arka dan Delan yang kebingungan, sangat lucu.
"Ta..." sekarang giliran Arka yang memanggil.
"Bodo, emang enak marahan lama-lama, Hahaha...."
Mendengar jawaban Agatha barusan, Arka dan Delan segera sadar bahwa mereka berdua baru saja dikerjai. Saling menatap sesaat kemudian menyeringai lebar, lalu mengangguk-angguk kompak.
Tanpa dikomando, tangan keduanya bergerak ke satu tempat yang sama, yaitu pipi bulat Agatha. Mereka hendak mencubitnya keras-keras demi melampiaskan rasa takut, bingung dan cemas mereka rasakan tadi.
Agatha yang sudah bisa membaca kemana arah pikiran kedua sahabatnya pun gegas menghindar, berusaha mencari pertolongan pertama.
Tak ingin memberi ampun, Arka dan Delan terus mengejar Agatha hingga ke dalam.
"Bunda tolong, ada rampok nackall masuk rumah!" teriaknya panik.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!
Jangan lupa like, koment, share, voting dan rating karya othor ya🥰
love U all💜
__ADS_1