JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 47


__ADS_3

Setelah jam pertama usai, ketiganya berakhir duduk di taman belakang sekolah. Agatha bilang, dia sedang tidak ingin sesuatu, dia juga bilang sedang tidak ada tempat untuk dikunjungi. Maka berakhirlah mereka disini.


Agatha membuka secarik kertas berisi catatan lagu barunya, lagi-lagi gadis itu bersenandung yang membuat Arka murka.


"Eh, Ta? Lo ngapain sih repot-repot begini, Emang si Mas-Mas wafello Lo itu pernah ngerespon usaha Lo?"


Agatha terdiam cukup lama mendengar pertanyaan bernada sinis yang Arka lontarkan sebelum menjawab dengan ragu, " Namanya juga masih PDKT, Ka. Sejauh ini dia baik kok ke gue, sering beliin cilok, ngasi rekomendasi musik terbaru, terus-"


"Dasar bego! baik bukan berarti dia suka sama Lo, Tau?" kata Arka ketus.


"Kok Lo ngomongnya gitu banget sih, Ka?" Intonasi Agatha juga sedikit meninggi, dia tidak senang dengan cara bicara Arka.


"Gue begini juga karena gue khawatir sama Lo, Agatha!! Gue takut Lo patah hati, kemudian depresi dan berujung gila. Kalo itu sampe terjadi, gue adalah orang pertama yang berbela sungkawa kepada para suster di RSJ karena dapet pasien somplak seperti Lo." Sindir Arka melalui kelucuan yang sengaja ia buat sejak lama.


Krik...Krik...


"Semua perubahan yang terjadi pada diri Lo... juga terlalu memaksa, Ta! kenapa? dia yang minta?" lanjut Arka Lagi.


Agatha menggeleng, "Bukan, Mas Raffa ngga pernah minta apalagi nyuruh gue buat merubah apapun yang ada pada diri gue. Ini murni karna usaha gue sendiri, Karna menurut gue, setelah gue berubah jadi feminim, mungkin mas Raffa bakalan lebih tertarik sama gue, soalnya kata Abang, Mas Raffa suka sama cewek feminim."


"Hahaha...." Arka tertawa puas.


"Seharusnya dari sini Lo udah sadar, Agatha!! Kalo memang si Wafello itu sayang sama Lo, suka sama Lo, dia ngga bakalan mau ngelihat ada perubahan yang dipaksa daripada Lo, dia bakal Nerima gimana pun bentuk Lo."


"Rafaello, Arka ih," koreksi Agatha membenarkan.


"Bodo amat, gue mau manggilnya wafello kok, mau apa Lo?"


"Yang dikata sama Arka barusan separuh ada benarnya juga, Ta. Elo terlalu memaksakan diri. Tantangan dari Angel and the gang ngga seharunya Lo sanggupi. Bener-bener ngga penting dan ngga ngaruh apapun buat pendidikan Lo," Kini Delan yang bersuara.

__ADS_1


"Lo berdua pada kenapa sih? temen pengen berubah bukannya mendukung malah nge-down gue!" Agatha menyahut.


"Kalau soal penampilan, bukan semata-mata karena Mas Raffa doang, gue emang lagi pengen berubah, kok. Suara itu memelan.


"Gue juga kepengen kelihatan manis, seperti anak perempuan kebanyakan."


Delan menahan senyumnya. "Kalau itu alasannya, gue sih fine-fine aja, Ta. Gue dukung malah, tapi harus tulus dari hati, bukan sekedar menuruti pendapat, apalagi berdasarkan selera orang lain. Be yourself, jangan mengada-ada."


"Dan lupain tantangan itu!" sambung Arka.


"Ngga bisa!" bantah Agatha cepat.


"Bisa! Lo ngga perlu mikirin apa kata geng ngga jelas itu, biarin aja udah!" sergah Arka.


"Masalahnya bukan sepenuhnya pada tantangan Angel and the geng Arka, gue emang suka sama Mas Raffa gimana, dong?"


"Lan, tahu tempat kursus vokal yang bagus ngga?" tanya Agatha setelah ketiganya lama terdiam.


Delan menggeleng malas, matanya tak bergerak sedikit pun dari buku pelajaran ditangannya.


"Kalo Lo, ka?"


"Ada, tapi gue ngga mau kasi tau ah. Karena gue kasihan sama guru les Lo ntar, apes banget nasibnya sampe ketemu murid yang suaranya stadium akhir seperti Lo!"


Bughh... Tinju Agatha melayang ke bahu Arka. Pandangannya lalu beralih "Lan, tau shampoo yang bisa manjangin rambut dalam waktu singkat ngga?"


Delan tak menggubris pertanyaan Agatha, tetap tekun membaca.


"Kenapa, Ta. Mau nyerah ya Lo?" tanya Arka menebak.

__ADS_1


"Ngga kok, Kata Bang Dika, Mas Raffa itu suka sama cewe yang rambut panjang."


"Lo pergi ke pasar terus beli selusin sapu ijuk, baru tempelin dah di kepala Lo, panjang ntar rambut Lo." Jawab Arka ketus.


"Mas Raf-"


"Apa lagi?" sergah Arka.


"Mas-"


Udah deh, Ta, lupain Lo harus bisa nyanyi, Lo harus cantik, Lo harus ini dan itu, lupain Mas Raffa! Ujian kenaikan kelas tinggal beberapa hari lagi, lebih baik Lo belajar daripada musingin hal unfaedah begitu!" Suara Delan tegas dan menusuk dalam.


Agatha Diam tak menyahut, ia melirik tampang Arka dan Delan bergantian. Merasa sangat aneh dengan reaksi kedua sohibnya itu setiap kali ia berbicara mengenai Rafaello.


Agatha akhirnya menarik nafas dalam-dalam. Mungkin waktunya saja yang salah. Delan benar. Tidak seharusnya ia berpikir untuk mencari pacar sekarang ini, buktinya saja Mas Mahesa-nya saja meskipun sudah kuliah belum memiliki pacar.


"Oke Agatha, sebaiknya kita konsentrasi saja pada pelajaran, karena lusa sudah mulai ujian kenaikan kelas. Fighting!"


.


.


.


.


Bersambung.!!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rate karya othor yang ini ya🥰🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2