JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 08


__ADS_3

Arka menghela napas kasar, panjang dan sangat berat untuk di dengar.


Delan yang berada tepat di sisi samping sebelah kanan nya menoleh.


"Kenapa Lo? habis menang basket kok malah bete gitu."


"Lagi bete banget Gue," sahut Arka pelan. lelaki jangkung itu menyandarkan punggung tegap nya jauh-jauh ke bangku.


"Ada masalah?" tanya Delan prihatin


Arka kembali menarik nafas panjang sebelum berkata " Hhh... biasalah, urusan bonyok. Mereka pada belum balik, padahal ini udah hampir sebulan yang lalu mereka pergi."


"Nama nya juga kerja, Ka. Pulang nya pasti bawain Lo oleh-oleh yang banyak." ujar Delan tersenyum berusaha menghibur. Karena sepengetahuan Delan, orang tua Arka memang sedikit sibuk.


Menjadi pengusaha yang bergerak di segala bidang mengharuskan mereka untuk pulang pergi ke luar negeri secara terus menerus, tidak bersama-sama. Masing-masing di negara yang berbeda, oleh sebab itu waktu bersama keluarga sangat jarang mereka miliki.


Bibir tebal yang menghias wajah tampan Arka pun sedikit tertarik ke samping. Tapi tidak seperti Delan, senyum itu sangat pahit.


"Gue ngga butuh oleh-oleh Lan, yang Gue butuhin itu waktunya mereka!" katanya


"Ya udah, kalo memang Lo ga butuh, kasi ke Gue aja. Biar Gue yang tampung." canda Delan, sekedar untuk mencairkan suasana hati Arka yang sedang tidak baik-baik saja.


Bukannya merasa terhibur, Arka malah semakin menundukkan kepala nya dalam.


Senyum yang tadi nya hinggap di wajah melankolis Delan perlahan meredup. Lelaki berkaca mata minus itu menatap Arka penuh dengan rasa empati. Menunggu dengan sabar Arka mengeluarkan kekesalan hati nya.


"Sumpah.!! Gue ngga perlu barang mahal yang selalu mereka kasi Lan." kata Arka dengan suara nya yang terdengar sedikit bergetar karena serak.


"Yang gue butuh itu, waktu dan perduli nya mami papi ke gue."


"Mereka ga pernah nyadar, kalo dunia mereka bukan perkara duit doang, Lan. Tapi ada gue yang sebagai anak juga butuh perhatian dan kasih sayang." tatapan mata Arka mulai mengeras, penuh dengan emosi.


"Sekalinya sama-sama di rumah, mereka malah sering ribut." lanjut nya.


Delan hanya mengangguk, tanpa perlu bertanya lebih jauh lagi pada Arka. Ia sudah tahu begitu banyak tentang kondisi keluarga sahabat masa kecil nya ini.


Ke dua nya masih sibuk dengan eufhoria masing-masing saat seseorang datang menghampiri dan membuat suasana yang tadi hening kini menjadi gaduh.


"Halloooowww, my brother's.!!" sebuah suara yang sedikit cempreng itu menyapa.


Kompak ke dua lelaki itu menoleh ke arah pintu kelas. Sebuah kepala yang di tumbuhi rambut pendek lurus sebahu muncul dari balik pintu kelas Arka.


Agatha berjalan menghampiri ke dua nya disertai dengan cengiran di wajah nya.


"Muka Lo berdua kenapa dah, kok pada tegang gitu?" tanya nya santai.


Arka hanya menatap Delan suram. Tak berniat menjawab.


"Ayo ngaku, Lo berdua pasti lagi ngomongin gue kan?" tebak Agatha asal-asalan.


Arka masih diam di tempat dengan posisi yang sama, mulut terkunci rapat dengan tatapan mata tajam. Sedang Delan tersenyum geli melihat ke pedean Agatha.


"Ga usah keseringan ngomongin gue, semua orang juga udah tau kalo gue cantik.!!!" Agatha cengegesan menjawab sendiri pertanyaan nya.


"Mimpi apa sih Gue, punya temen tampang pas-pasan hobinya kok ngaku cakep?" sahut Arka mulai terpancing mendengar celotehan gadis berpipi chubby di depannya.


"Narsis dikit ngga apa-apalah, Hehehe..."


Arka tertawa mendengar candaan Agatha, tangan nya bergerak mengambil sepotong penghapus dari dalam laci meja nya dan..


Plukkk.!!!


Penghapus berbahan karet itu mendarat dengan sempurna pada kening Agatha yang lebarnya seluar lapangan pesawat.


"Ratu narsis..." cibir Arka

__ADS_1


"Daripada nungguin kalian yang muji gue, mending juga muji sendiri." balas Agatha sengit kemudian memungut benda yang tadi Arka lempar lalu memasukkannya ke dalam saku baju nya.


"Ngga usah minder gitu Ta, kan masih ada Doni. Asal Lo tau ya, si doi sering loh muji-muji Lo setinggi langit. kalo kita lagi gabut.!"


Agatha melotot menatap Arka, dia jadi ingat tujuannya kemari.


"Lo jahat banget tau, Ka. malem Minggu kemarin Doni nyamperin gue ke rumah. Untung di rumah masih ada Mas Mahes."


Arka langsung menutup mulutnya rapat.


Agatha tak bergerak, menatap tajam ke arah Arka yang diam tak berkutik.


"Kan Elo yang duluan mulai, siapa suruh ngeledekin gue sama si mata genit mulu."


Suasana menjadi tegang kala ke dua sahabat itu saling berperang dingin melalui tatapan mata ke duanya yang saling beradu pandang. tajam dan sangat menantang.


"Udah, udah... dua-duanya sama-sama salah. Sekarang saling minta maaf aja." lerai Delan. Berusaha mencairkan suasana


"Maafin gue ya, Ta..." suara Arka mulai melunak


"Oke, gue bakal maafin Lo. Asal..." ternyata Agatha memiliki syarat, meski begitu tampang nya juga ikut melunak. Ia sadar bahwa perbuatannya beberapa waktu lalu juga sudah melewati batas sehingga membuat Arka kesal.


"Bilang sama Doni, jangan gangguin gue lagi. risih gue nya."


Delan tersenyum.


"Ngomong-ngomong, lain kali, kalo mau ngelempar Jangan pake yang beginian Ka, yang berfaedah dikit lah." Agatha menunjukkan penghapus karet yang di pungut nya tadi dengan raut wajah sudah kembali riang.


"Terus, mau Lo di lempar menggunakan apa, batu kali?"


"Dih, sadis banget Lo... Ngga gitu juga konsep nya. Ege!"


"Lah, pake apa dong jadinya?" tanya Arka dengan tampang bingung nya.


Arka langsung merogoh kantong celana nya dan saku seragam yang ia kenakan, seolah-olah memang benar sedang mencari sesuatu dari dalam nya.


"Noh!" kembali di timpuk nya jidat Agatha. kali ini memenuhi syarat dan benar menggunakan uang, tapi seratus rupiah berbentuk logam. kembalian beli minum di kantin tadi pagi.


Delan terkekeh geli, Agatha juga.


"Oh iya, gue hampir lupa... " ucap Agatha sambil menepuk jidat nya sendiri.


"Lupa, apaan tuh?" tanya Arka.


"Lo pada belum tahu ya?" bukannya menjawab, Agatha justru balik bertanya. menatap wajah serius Arka dan Delan bergantian.


"Di sekolah kita kedatangan siswi baru, cakep.!! pindahan dari Bandung kalo ga salah."


"Seriusan, kelas berapa.?" tanya Arka, kemurungan yang sejak tadi menghiasi wajahnya seketika lenyap bersamaan dengan hadirnya Agatha di kelas nya.


"Sebelas."


"Wihh,,, seangkatan dong sama kita. Tapi..." ucap Arka terpotong.


"Tapi kenapa, Ka?" sahut Delan membuka suara.


" Beneran cakep, Ta.?" tanya Arka memastikan, sebab dirinya kurang yakin jika Agatha yang berbicara.


"Serius gue, kali ini beneran. Cakep bener dah itu anak baru!" ucap Agatha menyakinkan ke dua sahabat nya yang sedang menatap curiga terhadap dirinya.


"Hush,,, palingan bercanda doang Lo mah. Hafal gue.!!" bantah Arka


"Di kasi tau juga, seriusan. kali ini gue bener. Siswi pindahan itu cakep banget, suer!" Agatha mengangkat ke dua ibu jari tangan nya, berusah membuat Arka dan Delan percaya.


"Sok lah, kenalin ke kita-kita kalo memang cakep seperti kata Lo barusan." tantang Arka

__ADS_1


"Lo... mau informasi yang setengah-setengah atau yang lengkap sekalian?" Tanya Agatha senyum-senyum sendiri.


"Yah si kadal, bilang aja mau minta traktiran." sahut Arka, dirinya sudah bisa menilai gelagat aneh yang di tunjukkan temannya itu.


"Tau aja Lo, skuy lah..." Agatha berdiri di hadapan ke dua lelaki itu, dan mempersilahkan ke dua lelaki tampan itu berjalan mendahuluinya.


Arka tertawa lebar, menampakan barisan gigi putih nya berjajar dengan rapi di dalam mulut nya.


"Kalo gini kan oke, perut kenyang informasi datang!" ucap Agatha sambil terkekeh sendiri.


"Dasar gembul.!! ya udah ayo." Arka mengacak gemas rambut Agatha, kemudian menarik gadis itu supaya berjalan di tengah-tengah dirinya dan Delan.


"Hari ini, biar giliran gue yang traktir." ucap Delan saat sedikit lagi mereka tiba di kantin sekolah.


Arka dan Agatha saling pandang ke arah Delan. Karena selama ini, tanpa di suruh Arka lah yang paling sering membayar. Selain Royal, dompet Arka memang yang paling tebal di antara ke tiga nya.


eits, bukan tiga deng. Tapi dua. Karena Delan hampir tidak pernah membawa dompet kemana-mana.


Sebenarnya dompet Agatha juga lumayan tebal sih, tapi bukan karena kebanyakan uang seperti milik Arka. Mau tau apa isi nya? tebal nya dompet Agatha berasal dari kertas-kertas catatan, berupa lirik lagu dari BTS dan BLACKPINK kesayangannya.


"Baru dapet honor tulisan," sahut Delan menjawab pertanyaan ke dua sahabatnya.


"Nulis, sejak kapan?" tanya Agatha.


"Iya, gue nulis di platform aplikasi NT. Kita bisa nulis kapan aja dan di mana aja, gratis tanpa biaya apapun. Ya udah gue join aja. Selama masih ada peluang, kenapa engga ya kan?" jelas Delan.


Arka mengangguk-angguk seolah mengerti dengan penjelasan Delan barusan.


"Kali ini tentang apa lagi Lan?" tanya Agatha tak bisa menutupi rasa girang nya.


"Janji Aksara. Download aja aplikasi nya d playstore, terus klik kata kunci Authophille09 di kolom pencarian. Nanti bakalan muncul deh profil gue."


"Asiyapp..." kata agatha.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Holla bestie-bestie othor👋 lagi pada ngapain nih.? gimana kesan nya sampe sini.? seru ga.?


kalo suka jangan lupa like, koment, share dan vote juga ya🤗 sekalian di masukin ke dalam keranjang juga buat selalu dapet notif update nya.


sehat selalu kesayangan💜


love U All🥰

__ADS_1


__ADS_2