
Mobil yang dikendarai oleh Arka dengan Agatha sebagai penumpangnya melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya. Meninggalkan Rumah Sakit tempat Delan di rawat.
Di samping kemudi, ada Agatha yang terus menyeka air baik dari mata maupun hidung dengan sapu tangan miliknya yang sudah terlihat lecek dan Kumal.
Dengan segera tangan kiri Arka bergerak mengambil beberapa helai tissue dari dashboard samping depannya lalu memberikannya pada Agatha.
"Pakai ini aja, Ta."
Agatha menoleh dan melirik bergantian sebentar kearah tissue dan Arka, gadis itu pun mengambil tisu dari tangan Arka lalu menyeka mata dan hidungnya.
"Bawa santai aja, Ta. Jangan terlalu kebawa perasaan. Delan kan sudah ditangani sama Dokter, besok dia operasikan? dia pasti baik-baik aja," hibur Arka.
Agatha mengangguk-angguk di tempatnya.
Sepi.
Hening.
Sejak keluar dari ruang rawat Delan tadi Agatha lebih banyak diam daripada hari-hari biasa, Arka yang hendak menyetel CD Player pun urung tak kala melirik kursi samping kemudinya. Gadis yang ia klaim sebagai sahabat itu tengah mengatup tangan di depan dada, mata terpejam dan kepala menunduk dalam. Berdoa dengan khusuk.
Sepi.
Hening.
"Ta," panggil Arka saat melihat agatha telah selesai dengan kegiatan berdoa nya.
Agatha menoleh. "Apa?"
"Lo... Sayang banget ya sama Delan?"
Tanpa ragu, Agatha mengangguk antusias. "Gue takut terjadi apa-apa sama dia, Ka."
Perasaan Arka mulai kalut mendengar jawaban ambigu dari Agatha. Entah perasaan khawatir seperti apa yang agatha miliki terhadap Delan.
Arka diam sebentar, menarik napas dalam-dalam dan kembali bertanya dengan hati-hati, "Ta... Lo, ngga bawa perasaan kan di antara persahabatan kita ini? maksud gue, Lo ngga cinta kan sama Delan?"
Dari raut wajahnya dapat Arka tangkap jika Agatha sempat merasa kaget dengan pertanyaannya barusan, gadis itu bahkan memilih diam.
"Ta, kenapa? kok ngga di jawab pertanyaan gue barusan, Lo cinta ya sama Delan?" ulang Arka lagi.
"Pertanyaan konyol macam apa yang membutuhkan jawaban? gue emang sayang sama Delan, karena dia sahabat terbaik kedua setelah Lo yang gue punya." balas Agatha.
Bukannya puas, malah rasa penasaran dihatinya semakin membuncah. Dia tidak merasa puas mendengar alasan klasik yang Agatha berikan.
__ADS_1
"Tapi kalo keadaannya dibalik, misal nih ya, seandainya yang sakit itu gue... apakah Lo akan sesedih ini juga? sama seperti Lo khawatir terhadap Delan?" tanya Arka dengan suara yang hampir menghilang di udara.
Agatha berdecak pelan. "Ckck! ngapain sih, Ka? pertanyaan Lo ngga ada yang lain lagi apa gimana, gue ngga mau melihat siapapun diantara lo, juga Delan itu sakit. Daripada Lo mengajukan pertanyaan-pertanyaan aneh lainnya mendingan kita berdoa untuk kelancaran operasi Delan besok." jawab Agatha dengan intonasi sedikit meninggi.
"Sori, Ta..."
Sepi.
Sepanjang jalan kedua sahabat itu menyelami pikiran masing-masing. Hening. Tidak ada niatan untuk berbicara lebih.
Tiga puluh menit kemudian, mobil BMW Arka telah tiba di depan rumah Agatha. Agatha keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi ke arah Arka.
"Ini yang Lo bilang sayang Lo untuk gue dan Delan setara, Ta? lo bahkan tidak menoleh dan ngucapin hati-hati buat gue," batin Arka melirih iri dengan perhatian Agatha terhadap Delan.
Tin.. Tin..
Suara klakson motor dari arah berlawanan membuyarkan fokus Arka, di depan mobilnya berhenti sebuah motor sport yang sangat dikenali siapa pemiliknya.
Pengemudi motor sport itu turun dan berjalan menghampiri Arka.
"Ngapain Lo di depan rumah gue tengah malem begini?"
Arka yang enggan turun dari mobilnya pun hanya menurunkan kaca samping.
Dibalik helm full face nya dahi pemuda itu mengernyit heran. "Balik? dari mana saja kalian jam segini baru balik sekolah?" tanyanya sambil melirik ke arah dalam dan mendapati Arka masih mengenakan seragam SMA 5 SILA.
"Rumah sakit," balas Arka singkat.
"Rumah Sakit? siapa yang sakit, Aga kah?" tanyanya mulai panik, dilihat dari keadaan Arka yang terlihat baik-baik saja jelas tidak mungkin.
"Bukan, Agatha baik-baik aja kok."
Pemuda itu menghela napas lega ketika mendengar keadaan si bungsu baik-baik saja.
"Lalu?"
"Delan, tadi pagi tiba-tiba letoi dan hampir pingsan di sekolah, karna panik kita langsung bawa dia ke Rumah Sakit ternyata ada masalah pada ususnya. dan besok akan menjalani operasi." Jelas Arka.
"Parah banget ya sampe harus di operasi segala?"
"Yah begitulah kira-kira,"
"Eh, bang Dika belum jawab pertanyaan gue loh?"
__ADS_1
Ya, yang datang menghampiri Arka dan sedikit berbincang dengannya adalah kakak kedua dari Agatha. Mahardika.
"Heh bocah, pengen tau aja urusan orang tua. Minggir Lo, motor gue ngga bisa lewat karna mobil butut Lo nih," balas Dika sewot.
"Ckck! jomblo sok-sokan sibuk keluyuran, mending di rumah aja dan urusin skripsi Lo sono, Mas Esa noh, udah hampir kelar S2 Lo malah sibuk revisi mulu," balas Arka dalam mode jahil. Entah mengapa setiap bertemu dengan Mahardika, sesedih apapun suasana hatinya semula akan kembali mencair.
"Emang Lo ada pacar?"
Arka hening. Dika senyum mengejek.
"Kicep kan Lo? jomblo teriak jomblo."
Arka mecebik kesal.
"Biasa aja muka Lo, udah jelek tar makin ngga laku. Udah buruan minggirin nih mobil Lo, gue mau masuk."
"Iya ish, dasar jomblo old." gerutu Arka seraya mengikuti perintah yang Dika berikan.
Dika kembali ke motornya dan saat motornya hampir masuk ke halaman rumah ia berhenti, menoleh kebelakang saat Arka sedang memutar mobilnya hendak pulang.
Tin.. Tin...
"Apalagi sih orang tua, aelah?"
"Hati-hati."
Bukannya senang mendapat perhatian hangat begitu, Arka malah bergidik ngeri. Andaikan Agatha yang mengatakannya mungkin beda lagi rasanya. Sebelum meninggalkan halaman rumah Agatha, Arka melirik ke sebuah kamar di lantai atas yang Lampu kamarnya masih menyala terang. Menandakan si penghuni kamar masih terjaga di dalam sana.
"apa gue mesti sakit parah dulu ya, Ta? biar dapet sedikit perhatian dari Lo?"
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
jangan lupa like, koment, share, vote dan rating juga ya ges๐๐ป
__ADS_1