JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 45


__ADS_3

Ditengah keriuhan diantara empat pemuda tersebut, tiba-tiba ada sebuah kepala menyembul malu-malu dari balik pintu.


Mata Arka dan Delan sontak membesar, menatap tak berkedip pada sosok dihadapan mereka.


Senyum Agatha melebar melihat reaksi yang ditunjukkan oleh kedua sahabatnya itu. "Dih, biasa aja dong tatapannya. Ini gue, Agatha! kalian seperti melihat hantu saja."


Bagaimana Arka dan Delan tidak kaget coba, teman mereka yang biasanya super cuek kalau soal urusan outfit dan berlagak lebih ke laki-laki, yang selalu berpenampilan asal-asalan itu terlihat berbeda hari ini.


Dia mengenakan gaun berenda sepanjang lutut dengan warna pink, motif bunga-bunga kecil berwarna merah dan kuning, di lengkapi ikat pinggang bentuk kupu-kupu dan bando mungil berwarna senada menempel pada kepalanya.


Penampilan Agatha kali ini terasa amat memaksakan diri, meskipun sedikit lebih manis dari biasanya.


Tak pernah terpikirkan di benak Arka dan Delan, jika waktu yang habis selama dua setengah jam di Aksesori kemarin hanya untuk membelanjakan barang-barang ini. Mereka tahu betul bagaimana Agatha, jangankan untuk mengkoleksi benda cantik seperti bando dan lain-lain, lah wong rambutnya yang hitam, lembut dan lurus saja selalu di pangkas pendek, hanya berbeda beberapa sentimeter saja mungkin dari rambut tebal milik Arka.


"Mau ke mana, Ta? ada party kah?" Tanya Delan sangat ingin tahu.


Ia telah berhasil mengatasi kekagetannya.


Agatha menggeleng kalem.


"Kalo ngga ada acara, kenapa juga Lo mesti dandan aneh begini? biasa nya juga kaosan," timpal Arka. Jiwa mak-mak kompleksnya seketika meronta-ronta.


Matanya terus memandangi sosok Agatha dari ujung rambut sampai ujung kaki secara berulang.


"Kalo dandanan Lo bener, ternyata Lo cantik juga ya, Ta? makin manis aja," Batinnya memuji takjub.


"Ngga apa-apa sih, lagi kepengen aja." Agatha tersenyum-senyum kecil melihat reaksi kedua sahabatnya.


"Menurut kalian, gue cakep ngga?" tanyanya tanpa basa-basi.


Paras Depan langsung berubah warna, sementara Arka hanya mesem-mesem. Keduanya sama-sama malu untuk mengakui dan berterus terang, meski dalam hati setuju jika gadis itu memang kelihatan lebih mirip perempuan pada umumnya.


"Cih! dimintain pendapat aja susah banget," Gerutu Agatha pelan.


Dengan langkah anggun, Agatha berjalan menuju kursi rotan dan duduk bergabung bersama keempat pria kesayangannya itu.


"Eh, Bang. Temen-temen Lo pada jadi Dateng kan buat latihan band di sini? parah sih kalo sampe ngga jadi,"


"Lah, kenapa?" tanya Mahardika pada sang bungsu.


"Ya rugi banyak lah gue,"


"Apa hubungannya sama Lo coba, Ta? Emangnya Lo juga mau ikutan nge-band bareng Bang Dika?" Arka memiringkan kepalanya, sangat tak yakin.

__ADS_1


Arka tahu betul kemampuan Agatha dalam hal seni. Gadis itu sama sekali tidak becus dalam hal musik, dan bentuk seni lainnya. Kecuali seruling sih, itu pun dengan kemampuan yang pas-pasan.


"Apaan sih, Lo tahu sendiri kan gimana gue di seni?" jawab Agatha sambil tersenyum pelan.


"Kalau bukan jadi anak band-nya, terus mau apa dong, Ta? Vokalis?" Tebak Delan. Lelaki berkacamata minus itu ikut penasaran seperti hal nya Arka.


Tawa yang sejak tadi berusaha Agatha tahan akhirnya pecah juga, tapi tidak seperti biasanya. Gadis itu dengan segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ngga kok,"


"Terus apa yang buat Lo pengen berpenampilan seperti sekarang?"


"Alasannya adalah... Gue mau buktiin ke Angel and the geng kalau gue juga bisa nyari pacar," Agatha menyebut nama kelompok yang terdiri dari 3 cewek centil di kelasnya.


"Gimana sih, Ta? makin ngga ngerti gue tuh," tanya Arka bingung.


"Jadi gini, kemarin Angel and the geng ngatain gue cupu karena temennya cuma Lo berdua doang, mereka ngatain gue belok, karena katanya gue ngga pernah gandeng pacar, seperti mereka. Ngga terima dong gue ya, gue ngamuk lah. Eh mereka malah nantangin gue,"


"Nantangin gimana, Ta?" tanya Mahesa. Pria itu memang agak sensitive jika ada yang mengusik adik-adiknya.


"Mereka kasi aku waktu selama empat belas hari untuk cari pacar, nah pada hari kelima belas aku hari udah nunjukin pacar aku ke mereka." dengan kepala menunduk ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi padanya.


Arka dan Delan bengong.


"Ya ampun dek, tantangan yang unfaedah itu mah. Udah ih, ngga usah diturutin!" Jawab Mahardika.


"Hukumannya apa?" tanya Delan.


"Ngga boleh memotong rambut sampai lulus SMA," sahut Agatha pelan. Dari kecil gadis itu memang selalu memotong pendek rambutnya. Dia tidak suka rambut panjang, susah ngurusnya katanya.


"Hahahaha...." Arka dan Mahardika ngakak berbarengan.


"Bagus tuh hukumannya, mas setuju kalo itu. Tapi untuk segera mendapatkan pacar, mas ngga suka. Usia seperti kalian ini masih usia belajar, ngga cocok buat pacar-pacaran. Lihat mas, udah semester 6 saja masih sendiri." Mahesa memberi nasehat.


"Kalo Mas, sih? sepertinya bukan karena pengen fokus kuliah dulu ya, Ka? emang ngga laku aja." sanggah Mahardika. Arka tertawa mendengar guyonan Mahardika.


"Enak aja,"


"Bener apa yang di bilang sama Mas Esa, Ta! apaan tantangan begitu, ngga bermutu banget. Ngga usah dengerin apa kata orang, biarin aja mereka mau ngatain Lo gimana, yang tau betul gimana Lo itu kan cuma gue dan Arka doang," ujar Delan.


"Kalian pada kenapa sih? setidaknya biarin gue usaha dulu, lagian gue udah terlanjur sanggupin tantangan itu." sungut Agatha karena tak seorang pun yang memberinya semangat untuk berjuang.


"Masalahnya Lo mau nyari pacar dimana, Agatha?" tanya Arka gemas.


"Ada, Lo tenang aja. Gue udah ada cowok yang di suka, bahkan sekarang kita sedang PDKT,"

__ADS_1


"Hah?"


"Siapa, Ta?"


"Siapa, Dek?"


Keempat lelaki itu kembali di buat sport jantung oleh Agatha.


"Mas Rafaello,"


"Wafello? itu bukannya ciki-ciki di Indopril ya, Ta?"


"Ih, bukan Wafello ogeb, nama dia tuh Rafaello vilmo, temen sekampus sekaligus temen bandnya bang Dika." Jelas Agatha malu-malu.


"Lo sama Vilmo dek? sejak kapan?" tanya Mahardika kaget.


"Iya, sejak barusan. Habis dia orangnya asik banget, seru juga."


"....."


"Dan yang paling bikin meleyot tuh suaranya mas Rafa itu loh, merdu banget, mantap lah pokoknya!" Kata Agatha terus memuji-muji.


Tiba-tiba terdengar suara celetukan seseorang dari balik pintu pagar. "Affah Iyah begitu?"


Seorang cowok berkulit bersih, berambut gondrong tapi rapi, tersenyum ramah pada kelima mahluk yang sedang ngerumpi di sana. Di belakangnya menyusul beberapa cowok lain juga.


Dalam hati, Arka memuji ketampanan cowok itu.


Muka Agatha mendadak berubah warna. "Eh, Mas Rafa... Baru datang ya?" tanyanya yang sebenarnya tidak memerlukan jawaban lagi.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, voting dan rating karya othor ya🥰🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2