JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 68


__ADS_3

"Setelah pertemuan kita waktu itu, padahal gue udah yakin banget, kalau Arka bakalan datang untuk ikut ujian. Tapi ternyata gue salah, Arka sama sekali ngga mau perduli sama omongan gue! dia ngga perduli sama cita-cita kita bertiga. Sejahat itu ya gue ke dia karna suka sama Lo?" Suara Agatha serak.


Sejak hari pertama ujian mereka sudah berulang kali menghubungi Arka, tapi tak ada jawaban hingga hari ini.


Seperti Agatha, Delan juga sebenarnya gusar perihal Arka yang lagi-lagi menghilang.


"Lo makan dulu ya? mau gue pesenin mie ayam atau bubur aja?"


"Ngga usah Lan, gue lagi ngga mau makan atau minum apapun. Yang gue mau itu cuma satu, tau Arka ada dimana dan kenapa lagi-lagi begini."


Delan mengangguk-angguk mengerti.


...****************...


"Siang Buk." sapa Delan begitu tiba di rumah.


Sang ibu pun tersenyum dan mengulurkan tangan untuk di Salim.


"Bang, tadi ada kiriman paket buatmu. Udah ibu taruh di kamar ya?"


"Paket?" tanya Delan bingung.


"Punya siapa, Buk?"


Ibunya menggeleng. "Bukan punya kamu? inget-inget dulu, siapa tahu kamu lupa kalo cek-out barang."


"Seingat Delan ngga kok Bu, lihat id pengirimnya dari siapa tidak?" tanya Delan lagi.

__ADS_1


"Entahlah, ibu mana tau id pengirim yang mana. Mendingan kamu lihat saja ke kamar."


Delan bergegas menuju kamarnya.


Sebuah box yang tidak terlalu besar berbentuk persegi empat terbungkus rapat dan rapi di samping meja belajarnya menjadi pandangan pertama ketika pemuda itu memasuki kamarnya.


Delan takjub begitu membuka semua bungkusan dari barang kiriman tanpa nama itu. Di dalam box tersebut terdapat sebuah notebook keluaran terbaru, benda yang selalu Delan sebut dalam setiap doanya.


Di atas notebook tersebut ada sebuah catatan kecil yang di ketik pada selembar kertas putih isinya:


"Semoga bermanfaat ya, rajin lagi nulisnya biar bisa jajanin ponaan gue :) cukup gue aja pengangguran, Lo jangan."


"Arka..." gumam Delan.


...****************...


"Den... Den Arka teh mau kemana?" tanyanya sangat khawatir.


Arka diam tak menyahut, terus berjalan dengan langkah tergesa. Membuat buk Arum semakin mempercepat larinya. Dan berhasil, dia sudah berdiri di depan Arka. Memblokir sementara langkah pemuda yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.


"Aden mau kemana malam-malam begini?" tanya bik Arum lagi.


"Saya mau keluar, ada urusan."


"Urusan apa den? ngga bisa besok aja?" sorot mata bik Arum menampakkan kekhawatiran yang sangat.


"Bibik ngga akan ngerti kalo pun saya jelasin."

__ADS_1


"Maaf ya kalo bibik terkesan sangat ikut campur. Tapi Den Arka mau kemana? ada urusan sama siapa?" entah kenapa perasaan bik Arum malam ini gelisah sekali untuk melepaskan Arka keluar dari rumah. Padahal Arka biasa pergi dan pulang sesuka hati tanpa pernah memberitahunya terlebih dahulu.


Arka menghembuskan napas pelan dan memandangi wanita tua dihadapannya. Dengan gerakan spontan ia meraih tangan bik Arum, menciumi tangan keriput itu penuh takzim dan sepenuh hati.


Sama seperti bik Arum, pipinya pun ikutan basah. Kepalanya perlahan menunduk dan mengecup kening bik Arum begitu lembut. "Terimakasih, terimakasih banyak atas segala perhatian dan kasih sayang bibik kepada saya selama ya. Maaf kalau saya banyak merepotkan bibik,"


Bik Arum terkesima, semakin terisak. Hatinya begitu sedih melihat keadaan Arka. Semakin kurus, pucat. Juga berantakan.


"Jaga diri baik-baik ya bik, saya harus pergi." kata Arka sambil tersenyum, sembari membelai pipi bik Arum dengan tangannya yang dingin dan bergetar.


Belum sempat membuka mulut, Arka sudah menghilang dari hadapannya.


"Den Arka... Den... Jangan pergi!" isak bik Arum. Air matanya jatuh semakin deras, menutupi pandangannya. Entah mengapa, bik Arum merasa berat sekali melepaskan kepergian Arka. Tiba-tiba hatinya terasa kosong. Jauh lebih berat dari hari-hari sebelumnya.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating yang bestie๐Ÿ’œ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2