JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 67


__ADS_3

Agatha mengipas-ngipas wajahnya dengan tisu sedang bibirnya mendesis kepedasan. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung meraih gelas milik Arka yang memang masih terisi penuh dan hendak meminumnya.


"Ta, ngga boleh!" Arka syok dan spontan menahan tarikan tangan Agatha pada gelasnya.


Agatha tidak perduli dengan teguran Arka.


"Lo budek?" sentak Arka.


Delan kaget. Agatha juga. Dulu seingatnya Arka selalu berlomba memberikannya minum jika ia sedang kepedasan, tapi kenapa sekarang melarangnya?


"Pesan aja lagi, ntar gue bayar."


"Tapi gue lagi kepengen minum dari gelas Lo gimana dong?" Agatha kekeh pada pendiriannya.


"Ngga boleh, Lo ngerti bahasa manusia ngga sih?" suara Arka kembali mengeras, bahkan sampai menarik perhatian beberapa pengunjung lainnya. Delan menundukkan kepala sungkan kepada beberapa pengunjung yang menoleh ke meja mereka, agar memaafkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh Agatha dan juga Arka.


"Ngerti, tapi kenapa ngga boleh?"


"Ya karna gue ngga ijinin!"


"Bodo amat, wle" Agatha merebut paksa gelas itu. Saat minuman itu akan sampai di bibirnya, Arka buru-buru menepis gelas itu kuat sehingga jatuh kelantai.


"Kalo gue bilang jangan ya jangan! batu banget sih Lo kalo dibilangin?" kata Arka.


Delan diam, tak bisa berkata apa-apa.


Agatha syok ditempatnya, mukanya merah. Bibirnya gemetar. Air matanya bahkan sudah mengalir deras membasahi pipinya. Tidak menyangka Arka akan semarah ini hanya karena segelas jus orange miliknya.


Setelah membereskan serpihan gelas kaca tadi Arka langsung meraih sehelai tisu dari meja, mereka air mata Agatha dengan hati-hati. Meminta maaf dengan tulus.


"Maaf ya, Ta?"


"Kenapa? kenapa gue ngga lagi boleh minum dari gelas Lo? apa gue senajis itu? iya, Ka? Lo jijik sama bekas mulut gue, kan?" tanya Agatha dengan suara gemetar.


"Ngga, Lo bersih. Bukan itu alasannya." Arka terlihat bingung menjelaskan alasannya.


"Lalu apa?" desak Agatha.


"Gue ngga mau aja Lo ketularan, gue sakit, Ta." kata Arka dengan ekspresi selucu mungkin.

__ADS_1


"Sakit apaan lo, rabies?" Agatha tergelak mendengar penuturan Arka barusan. Delan tersenyum lebar. Arka juga tertawa, namun getir. Tanpa mereka sadari bahwa Arka sedang mengatakan yang sesungguhnya.


"Jalan-jalan ke pasar malam yuk? gue lagi kepengen naik biang Lala ini," usul Agatha saat ketiganya keluar dari restoran.


"Jam berapa, Lan?" tanya Arka sebelum mengiyakan usulan Agatha.


Yang ditanya hanya tersenyum geli memandangi arlojinya. "Perasaan jam satu Mulu dari tadi,"


"Tanda-tanda minta lem biru tuh," celetuk Agatha.


"Lem biru?" tanya Delan bingung.


"Lemparin kelaut, terus beli yang baru."


"Hahaha...." Arka dan Delan tertawa bersama.


Air mata Agatha kembali menetes, tapi kali ini karena terharu. Akhirnya persahabatan mereka kembali seperti dulu. Begitu indah...


...****************...


Sekitar pukul 20:30, malam. Mobil Arka tiba diparkiran halaman rumah Agatha. Setelah lama berkeliling dan berbagai bujukan akhirnya gadis itu setuju untuk pulang dengan janji mereka akan bermain bersama lagi besok hari.


"Gue cuma mau bilang terimakasih sama Lo berdua, makasih ya udah mau jadi sahabat gue."


"Yang seharusnya bilang makasih itu gue, Ka." sahut Delan. "Semoga bukan hari ini doang kita bisa seru-seruan lagi, tapi seterusnya. Setiap hari, seperti dulu."


Agatha mengangguk keras. Sementara Arka tersenyum tipis, setipis tisu dibagi dua.


"Buat yang di resto tadi, maafin gue ya, Ta?"


lagi-lagi Agatha hanya mengangguk. Tanpa Arka minta maaf pun gadis itu sudah memaafkannya.


"Lan, Ta." Panggil Arka. "Gue sekarang udah ngga keberatan kok seandainya emang Lo berdua masih saling suka."


"..."


"Kenapa malah bengong?" tegur Arka saat Agatha dan Delan hanya diam saja.


"Gue serius ini. Anggap aja perjanjian kita dulu ngga pernah ada. Berasa jadi penjahat gue kalo maksain kalian buat bunuh perasaan itu, ini gue ngomong karna gue sadar. Cinta itu pilihan dan murni, ngga bisa dipaksain buat hadir dan ngga semudah itu buat ninggalin. Mereka emang bisa tumbuh kapan aja, dan di hati siapa aja. Tapi tentang di anggap atau tidaknya itu tergantung sang empunya,"

__ADS_1


"...?"


"Kok sepi? jadi horor gue," kata Arka memecah kebisuan.


"Lo lagi capek, Ka. Balik gih," usir Agatha. Dia tidak ingin kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali hanya karna perasaannya.


Setelah Agatha masuk kedalam rumah, arka menoleh kepada Delan.


"Temenin gue ke pantai bentar yuk, Ka? gue lagi kepengen dengerin suara ombak."


Delan mengangguk. Belum terlalu larut untuknya kembali ke rumah pikirnya.


Arka duduk di kap depan mobilnya sedangkan Delan berdiri dengan kedua tangan bersedekap dada di samping mobil ketika keduanya tiba di pantai.


Arka memandang lepas ke arah laut. Menikmati angin sepoi-sepoi tanpa kata. Hingga tiba-tiba, "Lan."


Delan menoleh.


"Lo, tau ngga kenapa gue marah banget pas tau Lo berdua saling suka?"


"Karna kami ngelangar janji kita?" tebak Delan.


"Salah. Alasan yang sesungguhnya, bukan karena Lo pada ngelangar kesepakatan kita. Tapi... gue cemburu Lan. Gue sakit karna Agatha ternyata lebih milih Lo daripada gue,"


Delan kaget luar biasa. Sungguh tak mengira jika Arka ternyata memendam rasa yang sama terhadap Agatha.


"Tapi gue sadar kok, gue dan Agatha ngga mungkin bisa bersatu. Selain ada tembok yang tinggi banget, gue juga bukan laki-laki yang tepat buat bahagian Agatha. Cuma elo yang bisa, gue juga percaya, kalau gue bakalan dapat tempat khusus di hati kalian, meski kalian menjalin hubungan."


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating karya aku ya💜🙏🏻


__ADS_2