
Arka benar-benar merasa kecewa pada Agatha. Dia juga marah. Ia merasa bahwa kekalahan timnya bukan semata hanya karna ketangguhan BIMA SAKTI, tapi juga karena Agatha mengingkari janji dan berujung menolak hadir untuk menjadi suporternya dan lebih memilih menemani Delan di rumah sakit.
Arka merasa Agatha tidak benar-benar khusuk berdoa untuk kemenangannya sama seperti ketika gadis itu berdoa untuk kesembuhan Delan.
Kemarin beberapa kali lemparan Arka memang melenceng jauh dari ring. Itu karena dia merasa tidak terlalu semangat seperti biasanya. Ia juga kurang konsentrasi. Karenanya, ia mendapat teguran yang sangat keras dari pak Edward. Lelaki yang biasa selalu tersenyum dan menyanjung performanya itu, kemarin terlihat sangat berbeda. Tak ada senyum dan raut bangga di wajahnya.
Arka mendengus geram. Seandainya Delan dan Agatha tahu mengenai perasaanya yang sebenarnya. Ia juga menyukai Agatha, sama seperti Delan. Bahkan sejak lama ia memendam rasa ini sendirian. Tapi karena perjanjian yang sudah terlanjur mereka sepakati, ia berusaha menepis setiao rasa yang hadir untuk Agatha. Dia mencoba mengubur dalam-dalam perasaanya. Berharap keduanya juga demikian. Setia dan berpegang teguh pada janjinya.
Tapi kini... Apa yang di saksikan dan dialaminya belakangan ini telah membuka mata hati dan logikanya. Arka benar-benar kecewa. Agatha dan Delan telah melanggar kesepakatan mereka sendiri.
...****************...
Matahari yang bersinar cerah kini bertolak ke peraduan. Mengantarkan semburat jingga pada sang angkasa raya. Setelah puas menepi di pantai demi meresapi diri, akhirnya Arka memilih pulang ke rumah.
Saat kakinya baru menapak dua langkah di ambang pintu rumahnya, terdengar suara bik Minah memanggil namanya.
"Den Arka."
Arka pun menoleh. "Apa bik?"
__ADS_1
Wanita setengah tua itu menggeleng dan menatapnya dengan sorot yang aneh.
"Ngga ada apa-apa kok, Den," jawabnya tergagap.
"Arka hendak melanjutkan langkah.
"Tunggu Den..."
Arka memejamkan matanya sebentar dan menghembuskan nafas pelan. Kembali membalikan badan menatap sang pengasuh sekaligus ART di rumahnya.
"Sudah makan?"
"Saya ngga lapar bik, hanya itu kan? kalo gitu saya permisi. Saya sedang butuh istirahat. Capek!" Arka mengubah nada suaranya menjadi sinis. Bukan tak hormat atau menghargai wanita tua yang sudah bekerja kurang lebih dua puluh tahun lamanya bersama keluarga mereka, hanya saja tubuh dan jiwa Arka benar-benar perlu istirahat.
...****************...
Lampu disko warna-warni bergerak ke segala arah. Suara musik yang menyentak dan lautan manusia yang bergerak liar di atas lantai dansa membuat kondisinya makin ribut.
Di sebuah bangku putar di area bar, seorang remaja pria berusia 18 tahun tengah meneguk segelas whisky. Ketika kosong, matanya lalu memandangi tak peduli para betina yang hinggap di sisi kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Pergi si@lan! dasar parasit." kata Arka ketua kepada dua orang remaja putri yang sejak tadi menggodanya.
"Ck, menyebalkan!" mwlihat penampilan Arka yang berantakan serta pandangan yang mengabur, mereka kira akan muda untuk memanfaatkannya. Tapi ternyata kesadaran Arka masih utuh, meski sudah sedikit mabuk.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 2:30, dini hari ketika dia hendak memanggil bartender lagi. Belum sempat bibirnya memesan sesuatu, seseorang sudah menyodorkan segelas penuh minuman untuknya. Dengan mata yang memerah, Arka berusaha mengidentifikasi wujud lelaki muda yang tanpa permisi duduk di sampingnya.
"Sial," maki Arka dalam hati. Akibat sudah meminum alkohol dalam dosis tinggi dia mulai kesulitan mengenali benda-benda di depannya. Hanya bayang-bayang saja yang nampak di matanya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rate nya ya man teman๐๐๐ป