
Keesokan harinya, Agatha dan Delan kembali mengunjungi kediaman Arka sekeluarga. Memutuskan akan menunggu terus sampai Arka pulang, tidak peduli selama apapun. Saking niatnya mereka, mereka bahkan sudah ijin untuk pulang larut hari ini pada orang tua masing-masing. Untungnya semua bisa mengerti dan turut prihatin atas kondisi Arka saat ini.
Pukul 10 lewat 45 menit, Arka pulang. Pulang dengan keadaan memprihatinkan. Berantakan.
Mata merah, wajah yang tampak sangat kelelahan seperti kerja paksa. Rambut yang dulunya selalu tertata rapi kini memanjang seperti tak disisir setahun. Masih mengenakan seragam sekolah yang salah satu ujung kemejanya berada di luar, dua kancing teratas terbuka sehingga menyembulkan dada bidangnya yang terlihat sudah mengering.
Arka terkejut melihat keberadaan Agatha dan juga Delan dirumahnya. Meski tahu keduanya sering menunggunya, Arka pikir di larut malam begini mereka sudah pulang.
"Sekolah di mana Lo jam segini baru pulang?" sambut Agatha geram.
Delan memberi isyarat dengan lirikan matanya agar Agatha bisa menahan diri dan tidak meledak-ledak.
"Dari mana aja, Ka?" tanya Agatha lagi. Tapi dengan suara yang kini jauh lebih lunak. Gadis itu merasa sedih juga prihatin melihat keadaan Arka yang berantakan, pemuda itu terlihat sangat kurus.
Arka diam tak menjawab. Memandangi Agatha dan Delan bergantian, hanya sekilas. Memutar bola matanya malas lalu bergerak menuju ke lantai dua. Arah kamarnya.
"Ka..."
Arka masih meneruskan langkahnya, tak menghiraukan panggilan Agatha.
"ARKA...." ulang Agatha lebih keras.
Agatha berlari mengejar Arka, berdiri menghadang langkah gontainya. Tidak perduli lagi dengan lirikan dan isyarat yang Delan berikan.
"Lo kenapa sih? Lo pikir gue dan Delan dari tadi iseng nungguin Lo sampe malam-malam begini kek orang donggo?" kata Agatha dengan dada naik turun karena emosi.
"Ini udah kesekian kalinya gue dan juga Delan nungguin Lo, ngga tau kan Lo?"
"Gue tau kok, lagian... siapa suruh bego. Ngga ada yang minta juga," jawab Arka santai.
Agatha dan Delan speechless. Tak percaya dengan apa yang Arka katakan barusan.
"Lo pada pulang sono! gue mau istirahat, capek."
"Ngga, kita perlu bicara Ka." sergah Agatha. Gadis itu begitu gusar melihat seberapa kacau sahabatnya saat ini. Ia bahkan merasa Arka bukan lagi orang yang dekat dengannya.
"Gue lagi ngga mau diganggu!"
"Gue bakal tetep di sini sebelum kita bicara dulu," kekeh Agatha.
"Aelah, mau bicara apaan sih? Males banget gue..."
__ADS_1
"Banyak, Ka! banyak yang perlu kita bicarain."
"Pentingkah?" tanya Arka tanpa mau memandangi paras gadis yang dulu begitu membuatnya semangat untuk melakukan segala hal, gadis yang selalu ia jadikan motivasi untuk hidup lebih baik dari semua orang. Tapi kini, justru gadis itu yang meluluh lantakan keinginannya untuk hidup.
"Penting, sangat penting!" Agatha berucap tak sabar. "Kenapa Lo ngejauh dari gue dan Delan? kenapa sering bolos? kenapa ngga pernah latihan basket lagi? kenapa sekarang Lo berubah? Lo aneh dan misterius, Ka?" cecar Agatha.
Arka tergelak, sangat keras. Agatha bahkan tercengang mendengarnya. Tawa Arka begitu asing bagi telinganya.
"Lo alih profesi jadi wartawan, Ta?"
Agatha mendelik.
"Kenapa gue berubah? jawabannya 'TERSERAH GUE' dong, kan ngga ngerugiin siapapun, termasuk Lo berdua." balas Arka sinis.
"Tapi kenapa ke arah yang negatif sih, Ka?"
"Semua orang bisa berubah, Ta. Mereka berubah karna dua hal, pertama. Karna mereka pernah jadi baik tapi di sia-siakan. Kedua, mereka tulus tapi selalu dikecewakan."
"Tap-"
"CK! kenapa sih? suka-suka gue dong. Ada yang salah?" potong Arka cepat saat Agatha hendak berbicara.
"Ngga usah lebay, Ta!" Arka menatap tajam kearah Agatha.
Agatha tercengang luar biasa. begitu juga Delan.
"Semua yang Lo ucapin itu bohong! Lo kata apa tadi? Rindu? cih, munafik. Jangankan rindu gue, Lo bahkan ngga pernah sekali pun perduli sama gue, Ta."
"Maksud Lo gimana? kenapa Lo bisa ngomong seperti itu tentang gue? lalu, kalau bukan karna peduli, untuk apa juga gue bersusah payah nungguin Lo balik sampe larut malam begini? iseng? kurang kerjaan?"
Arka sekali lagi ngakak kencang.
"Karna Delan, Agatha! yang Lo peduliin cuma Depan, bukan gue. Lo ada disini karna ada Delan, kan? Lo diajak dia makanya betah sampe larut di rumah gue, bukan karna Lo serius perduli sama gue, si@lan!" Arka mulai terpancing emosi. Sesak dan cemburu yang selama ini ia tahan akhirnya pecah juga.
Pertahanan Agatha mulai goyah. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Arka akan berkata sedemikian keras bahkan mengatainya si@lan. Kata yang selama ini tidak pernah terucap dari bibir Arka terhadapnya.
"Ka, gue juga perduli kok sama Lo..." Agatha terisak.
"Bullshit!"
"Ngga, Ka. Percaya sama gue," Agatha masih berusaha menyakinkan Arka bahwa ia juga perduli akan pemuda itu.
__ADS_1
Delan yang sedari tadi berdiam diri, berjalan mendekat ke arah Arka dan juga Agatha.
"Kenapa Lo bisa ngeraguin pernyataan peduli Agatha sama Lo?" tanya Delan.
"Karna gue udah tau kalau kalian berdua saling cinta, janji yang pernah kita sepakati bersama udah Lo berdua langgar. Selain karna gue benci penghianat, gue juga ngga mau gangguin kalian berdua yang lagi kasmaran." Suara Arka tajam menghujam hati Agatha dan Delan.
"Ka, gue sama Delan masih sama seperti dulu, kok. Kita tetap hanya bersahabat! kami juga sayang sama Lo, Ka!" seru Agatha disela isakannya. Delan mengangguk, mengiyakan.
"Lo kira gue sebego itu? gue bisa ngebaca keadaan, Ta! Mata Lo ngga bisa bohong tentang gimana perasaan Lo ke Depan dan gue."
Delan dan Agatha saling berpandangan selama beberapa detik, kemudian dengan hati-hati Delan menjelaskan. "Oke, Ka. Sekarang kita mau ngomong jujur sama Lo." Ia menarik nafas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Bener... seperti yang Lo katakan. gue dan juga Agatha memang pernah saling mencintai..."
Arka tersenyum, sangat sinis.
"Tapi kami segera sadar, untuk tidak membiarkan perasaan itu tumbuh dan berkembang terlalu lama. Kami masih ingat dan memegang teguh janji kita, Ka. Dan demi janji itu pula, gue dan Agatha sepakat untuk bersahabat sampai kapan pun." di akhir kalimatnya suara depan makin melambat.
Agatha tertunduk. Air matanya jebol.
"Enteng bener tuh bibir kalo ngomong?"
"Ngga gampang memang, tapi itulah yang sejujurnya. Gue harap Lo mau percaya dan balik jadi Arka kita yang dulu lagi."
Arka mendengus kasar, "Never."
Sepi merayap diam-diam.
"Oke, biar Lo ngga sakit hati lama-lama sama kita, merasa telah terkhianati, mulai sekarang dan seterusnya, gue ngga akan deket-deket Delan lagi! gue akan ngejauh sejauh-jauhnya sampe Lo mau balik lagi, sampe kita bisa kumpul sama-sama lagi seperti dulu!"
Arka tersentak. Begitu pula Delan.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rating ya besti๐๐ป๐
__ADS_1