JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 44


__ADS_3

Arka dan Delan sampai di rumah Agatha hampir berbarengan. Memang setelah bel pelajaran terakhir berdentang, ketiganya bergegas ke tempat tujuan masing-masing dan tidak bisa balik berbarengan.


Arka sibuk latihan basket, Delan sibuk menyelesaikan Mading karena besok jadwalnya sudah harus update. Sedangkan Agatha, sebenarnya gadis itu tidak cukup sibuk, tapi karena hari ini rumahnya akan kedatangan tamu spesial, makanya dia harus persiapan terlebih dahulu.


"Sore bang," sapa Arka pada Mahardika yang kebetulan sedang bersantai di teras rumah.


"Yang bilang ini pagi siapa, Ka?" balas Mahardika dengan tampang super menyebalkan bagi Arka.


"Cih, di baikin salah, di jahilin juga salah." gerutu Arka.


"Mas Esa nya ada, Bang?" tanya Delan yang langsung mengambil posisi duduk di samping Mahardika.


"Ada, tadi masuk bentar, katanya ambil apa gitu ngga tau gue namanya. Ada janji?" tanya Mahardika santai, berbanding terbalik pada saat berbicara dengan Arka.


"Eh, bang. Kapan nih kita tanding basket lagi?" tanya Arka.


"Males gue, Lo mainnya payah." cibir Mahardika.


"Payah, payah. Lo belum liat aja skill gue sekarang," sungut Arka tak terima ada yang meremehkannya.


Lima menit kemudian, Mahesa muncul dari dalam dengan laptop di tangan kanan dan toples kue di tangan kirinya.


"Eh, Udah lama Lan?" tanya Mahesa begitu melihat ada Arka dan Delan tengah bersenda gurau bersama Mahardika di teras.


"Ngga kok mas, baru aja nyampe." Sahut Delan kalem.


"Wah, kali ini bunda bikin kue apa lagi mas?" tanya Arka basa-basi, lalu tanpa malu langsung mencomot kepingan kue yang ada di toples Mahesa. Mereka memang senang berkumpul di rumah agatha seperti ini, selain teduh karena selalu tersedia makanan enak buatan mama Agatha. Arka dan Delan juga bisa ngobrol seru tentang berbagai hal dengan kakak-kakak Agatha.

__ADS_1


"Kue bunda emang ngga pernah gagal rasanya, mantul." ucap Arka di sela-sela kunyahannya.


"Dasar beban, dateng-dateng taunya numpang makan Mulu." sindir Mahardika, tapi bukan Arka namanya jika dia perduli.


"Udah, biarin aja sih bang. Toh bunda selalu buat banyak kok," lerai Mahesa yang sudah yakin jika tidak segera dihentikan keduanya akan berakhir panjang karena sifat keras kepala keduanya.


Arka mencibir penuh kemenangan di bela oleh


"Eh, bang." panggil Arka setelah hening beberapa saat.


Tak berniat untuk menyahut, Mahardika hanya menjawab melalui lirikan matanya saja.


"Gue punya pertanyaan nih, penting banget." ujar Arka dengan mimik serius.


"Pertanyaan apaan?" tanya Mahardika yang sepertinya ikut serius memperhatikan.


"Nanti kalo misalnya Lo mati, Lo mau dikuburin atau di gradasiin aja?"


Arka mengangguk.


"Kalo Lo mas, mau dikuburin aja atau di gradasi seperti bang Dika?"


Mahesa dan Delan yang tengah sibuk membahas sesuatu di laptopnya pun mengalihkan fokusnya pada Arka dan Mahardika.


"Gimana, gimana pertanyaan tadi?"


"Amit-amit lah ini, tapi misalnya nih, misalkan ya, besok mas mati, mas maunya dikuburin aja atau di gradasi seperti bang Dika?" tanya Arka lagi.

__ADS_1


"Gradasi apaan sih, Ka?" otak jenius Mahesa tiba-tiba ngelag jika sudah bertemu Arka.


"Itu loh mas, yang kalo kita mati terus mayatnya di bakar biar jadi abu, terus abunya di taro dalem tong gitu biar bisa dibawa kemana-kemana." jelas Arka.


"Ohh, fermentasi maksudnya?" Mahesa mengangguk-angguk seolah jawabannya benar.


"Fermentasi, tape kali mas." timpa Delan sambil terkekeh di ujung kalimatnya.


"Terus apaan dong?" tanya ketiganya kompak.


"Kremasi," jawab Delan membetulkan.


"Nah itu maksud gue tadi, sengaja diplesetin dikit biar bisa lihat Lo pada fokus apa engga," kilah Arka.


"Bisa aja Lo cebong aer," ujar Mahardika kesal dan melemparkan beberapa biji kacang kulit ke arah Arka karena tidak mau mengakui secara terus terang ketidak tahuannya tentang kremasi tersebut.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.!!!


Jangan lupa like, koment dan share ya🙏🏻


__ADS_2