
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan yang cukup panjang, dokter akhirnya keluar dari ruang rawat Depan dengan raut wajah sulit diartikan.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok? dia baik-baik saja, kan?" tanya Agatha kepada Dokter, matanya terus menelisik kearah dalam dimana Delan tengah terkapar.
"Keadaan saudara Delan memang tidak terlalu parah, hanya saja jika dibiarkan lebih lama lagi maka ususnya yang sudah meradang akan pecah dan berakibat fatal. Kami dari pihak medis menyarankan agar saudara Delan segara melakukan tindakan lebih lanjut lagi."
"Lakukan yang terbaik untuk keselamatan teman saya Dok," pinta Arka sungguh-sungguh.
"Baik, tetapi kami membutuhkan wali dari saudara Delan untuk mengurus segala administrasi dan persetujuan untuk melakukan tindak operasi selanjutnya,"
Arka menganggukkan kepalanya paham, dan bergerak menuju Agatha yang sudah berdiri di depan ruang rawat Delan.
"Ta," panggilnya.
Agatha menoleh namun tidak bersuara. Matanya kembali mengeluarkan sejumput air jernih yang mengalir deras, hidung memerah dan mata bengkak.
"Gue ke administrasi RS dulu, Ya? dan gue minta tolong untuk kabari orang tua Delan mengenai kabarnya hari ini, dan beritahu jika kita sedang di Rumah Sakit saat ini."
Setelah mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, Arka pergi meninggalkan Agatha sendiri di depan ruang rawat Delan kemudian melangkah menuju luar bangsal untuk mengurus segala persyaratan administrasi yang dibutuhkan untuk menindaklanjuti perawatan Delan nanti.
...****************...
__ADS_1
Di ranjang rumah sakit Delan kini tengah berbaring lemah hingga membuat Agatha tak ingin beranjak barang sejenak darinya. Sorot mata gadis itu penuh dengan kesedihan.
"Udah, ah, Ta, Lo jelek banget tau kalo begini bentukannya. Jangan nangis terus dong! Gue juga udah baik-baik aja, kan udah ditangani sama Dokter ahli." Kata Delan lirih, saat dilihatnya dua butir bening kembali menitik dari mata Agatha. Lelaki itu merasa hatinya teriris, sakit sekali melihat Agatha begitu karena memikirkan dirinya.
"Apaan sih, gue ngga nangis pun!" Agatha buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan.
"Iya, Ta, jangan terlalu cemas ya nak? Syukurlah Delan memiliki orang-orang hebat seperti kamu dan Arka, jadi penyakitnya segera ketahuan oleh kita. Bapak yakin, setelah dioperasi nanti Delan akan segera pulih dan bisa bermain bersama kalian lagi," ujar lelaki sederhana yang memiliki mata teduh seperti milik Delan. Dia adalah ayah Delan.
Agatha tak mampu berkata-kata, sebisa mungkin ia menenangkan pikiran dan perasaannya yang kacau agar tidak menangis lagi.
"Ka..." Panggil Delan
Arka yang sedari tadi hanya berdiri di ujung pintu masuk pun berjalan mendekati Delan di ranjangnya.
"Santai lah, kayak sama siapa aja Lo." Balas Arka sambil tersenyum tulus.
"Sekarang udah hampir larut. Lo dan Agatha sebaiknya pulang. Seharian ngurusin gue pasti capek banget, kan?"
Arka mengangguk. Matanya beralih menatap ke arah Agatha yang seolah tuli akan perkataan bernada perintah yang Delan ucapkan barusan. Gadis itu masih berada di tempat semula, di sisi Delan.
"Ta, ayo!" ajak Arka.
__ADS_1
Agatha menggeleng, terus menatap Delan.
"Ta, pulang dulu gih! gue aman kok, lagian udah ada Ibuk dan Bapak yang jagain gue disini." Kata Delan.
Tatapan Agatha perlahan mengabur, "Ka, Lo bisa kan balik sendiri? gue masih pengen disini, gue pengen nungguin Delan sampai selesai operasi aja."
"Sebaiknya kamu pulang dulu ya, nduk? kasihan ibu dan juga ayah mu, mereka pasti juga menghawatirkan keadaan kamu yang tak kunjung balik hingga larut begini, operasinya besok, kan? Kalian bisa datang lagi besok. Kamu tenang saja, Ibu dan Bapak akan selalu berada disisi Delan. Kita sama-sama berdoa untuk Delan, oke?" Kali ini Ibu Delan yang angkat bicara. Sekali lagi Agatha menatap Delan lagi, yang segera dibalas oleh anggukan lemah serta senyuman menguatkan.
Agatha menghela nafas panjang, dan dengan gerakan paksa melangkah keluar diikuti Arka dibelakangnya.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga rating karya othor yang ini ya ges🙏🏻🥰