
"Agatha sahabatku yang manis, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, mau ya bantuin gue lagi?" Bujuk Delan sewaktu pulang sekolah.
"Uluh-uluh, giliran ada maunya aja muji-muji gue, Lo!" Ujar Agatha pura-pura cemberut.
"Bukan gitu juga konsepnya, Ta! Ada tulisan buat Mading yang harus gue selesaikan dengan segera. Sementara bahan yang masuk juga banyak banget. Beberapa bahkan belum sempat kita baca dan pertimbangkan."
Di tangan Delan Mading memang selalu menyajikan hal-hal yang menarik sehingga para pengikut setianya akan merasa kurang jika telat update.
"Gitu, Ya?" Tanya Agatha retoris.
"Iya, Ta." Ujar Delan dengan penuh semangat.
"Padahal edisi bulan ini seharusnya udah di pasang dari kemaren-kemaren. Banyak yang udah nanyain kapan update lagi. Jadi, mau ya, Ta?"
"Ngga mau, ah."
"Yah, Ta. Jangan gitu dong."
"Bodo amat! Lagi males gue,"
"Cuma bikinin hiasan aja, kok. Eh, ngomong-ngomong anak-anak pada suka banget loh sama hasil kerjaan Lo," Delan masih berusaha membujuk Agatha agar mau membantunya dengan cara terus menyemangati gadis itu.
"Ngga, ah. Lagian ya, Gue kan bukan anak Mading. Lagi pula kan, masih ada temen-temen Lo yang lain juga."
"Iya sih," Sahut Delan dengan nada lesu.
"Nah, kenapa ngga minta bantuan sama mereka aja?"
"Mereka semua udah pada gue kasi tugas, tapi tetep aja belom bisa selesai secepat itu, Ta. Yoga udah tiga hari ini ngga masuk, katanya sih, sakit tipus. Dena minta ijin balik duluan karena kakaknya mau nikah besok."
"Angga?"
"Tadi ada, tapi ngga tau dia alergi atau gimana, sehabis balik dari kantin dia terserang gatel-gatel. Ngga tau deh tuh anak abis makan apaan sampai sekujur badannya pada merah-merah gitu, karena kasihan ya udah kita suruh balik aja,"
__ADS_1
"...?!!"
"Mau ya, Ta?"
"Tapi, masih ada Puspita kan, yang bisa bantuin Lo?" sahut Agatha cepat.
"Iya, sih..."
"Ya, udah, berarti ngga ada masalah lagi seharusnya. Kalian tinggal kerjain aja berdua biar kerjaannya lebih cepat kelar."
"Justru itu masalahnya, Ta. Gue ngga bisa ngerjain kerjaan ini hanya berdua aja sama Puspita."
"Loh, kenapa? Bukannya malah seneng ya, Lan?"
Delan menghela nafas, diam. Agatha tak akan pernah tau bagaimana perasaannya.
"Karena Lo tahu bahwa Puspita suka sama Lo, ya?" tebak Agatha telak.
Gadis itu kemudian tertawa sambil menggeleng pelan. "Delan, Delan, Lo tuh emang dasarnya o'on apa gimana sih?"
"Harusnya Lo tuh bersyukur, Lo tuh beruntung banget, Delan, bisa disukai sama Puspita. Sementara banyak cowok lain yang bersaing dan hanya bisa berharap padanya. Mereka cuma bisa mengagumi tanpa memiliki, lah Lo?"
Delan memilih tetap diam.
"Gue tanya nih, Lo? beneran ngga punya perasaan apa-apa sama Puspita?"
Delan mengangguk patuh.
"Sedikit pun?"
Gerakan kepala Delan masih sama.
Agatha pun berusaha mencari kejujuran di mata Delan. Dan ia menemukannya. Tak ada sinar kebohongan yang terlihat di sana.
__ADS_1
Mereka berdua saling mendiamkan diri, sibuk menyelami pikiran lawan bicaranya masing-masing.
Jika dilihat dari fisik, sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa pada diri Delan. Sama sekali tidak ada keren-kerennya, apalagi jika disandingkan dengan Arka. Yah, meskipun kalau tersenyum lumayan manis.
Delan masuk dalam kategori biasa-biasa saja, kulitnya cenderung gelap. Namun prestasinya di bidang akademis, bakatnya, sisiknya yang dewasa dan teduh, menyimpan pesona tersendiri bagi beberapa gadis.
"Heran gue, cewek secantik dan menarik seperti Puspita begitu kok di tolak..." gumam Agatha seraya melirik ke arah Delan.
"Namanya hati, Ta. Kalo ngga suka ngga mungkin dipaksain juga, kan?"
"Iya sih, tapi tetep aja. Sori banget, hari ini gue emang ngga bisa bantuin Lo. Mager gue, maunya nyantai-nyantai aja, sambil lihat Arka dan teman-temannya latihan."
Agatha tidak sepenuhnya jujur, ada memang niatnya untuk menemani Arka latihan hanya saja alasan sesungguhnya gadis itu menolak ajakan Delan adalah karena ia merasa tidak nyaman sama Puspita. Pernah beberapa kali ia menangkap sinar kecemburuan di mata Puspita.
"Ya, udah lah. Gue mau nyusulin si Arka kelapangan dulu. Fighting." Agatha menekuk kedua tangannya di depan dada dengan wajah menggemaskan. Setelah berujar demikian gadis itu memutar langkah dan mematri langkahnya menuju lapangan.
Delan terus saja memperhatikan punggung Agatha yang perlahan menghilang di balik tembok. Lelaki itu terlihat membetulkan letak kaca mata minusnya, sebelum melangkah menuju sekretariat Mading dengan malas.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, voting, dan juga rate karya othor ya bestie😍
Terimakasih buat yang sudah dukung othor dari awal dan masih setia sampe sekarang🤗
__ADS_1
semoga kalian sehat selalu dan dilancarkan setiap jalan rezekinya, aminn🙏🏻