
Perempuan berparas manis itu berdiri di ambang pintu.
"Agatha nya masih belum sampai nih, memangnya tadi kalian baliknya ngga barengan seperti biasanya?" tanyanya keheranan pada Arka dan Delan.
"Ngga, Bun, tadi agatha nya balik duluan, ada urusan lain katanya, makanya ngga mau diajak bareng sama kita," Sahut Arka sopan.
Kedua alis minimalis milik wanita itu saling mendekat.
"Kok tumben banget, kalian? ada apa?" gumamnya.
"Kita semua baik-baik aja, Bun. Tapi, mungkin Agatha sedang ada urusan perempuan, makanya dia segan barengan sama kita berdua." sahut Arka dengan asal, hanya untuk menenangkan keresahan hati Nimas.
Bunda Agatha mengangguk pelan.
"Begitu toh?"
"Iya Bun," sahut Arka lagi.
"Kita berdua boleh nungguin Agatha balik kan, Bun?" Delan membuka topinya.
Bunda Agatha tersenyum. Senyum yang menenangkan siapa saja yang melihatnya, senyum yang selalu membuat Arka betah berlama-lama ada di sana. Damai dan menenangkan, berbanding terbalik dengan rumahnya yang kadang sepi dan juga riuh.
"Boleh dong, Ka! kamu seperti sama siapa aja sih, pake tanya dulu segala. Bentar ya, bunda ke dalem dulu, sambil nungguin si Aga nya balik, kita nyemil puding karamel dulu, enak loh panas-panas gini. Agatha aja suka sekali."
"Wahh," Bibir Arka berdecak pelan. Jakunnya bahkan sudah naik turun membayangkan puding karamel kesukaannya.
"Makasih, bunda. Maaf kita jadi ngerepotin." Sahut Delan merasa sungkan, karena setiap kedatangan mereka di sini selalu di sajikan hidangan yang membuat perut mereka ketagihan.
"Iya ngga apa-apa, Lan. Lagi pun bunda buat nya juga ada lumayan, sayang kalo misalnya nanti ngga habis."
__ADS_1
Bunda Berlalu kebelakang dan kembali dengan sekotak puding karamel yang menggoda iman.
"Silahkan di makan," ujar bunda setelah meletakan pudingnya di atas meja.
Tanpa ragu Arka langsung mengambil sepotong besar puding dan memasukkannya kedalam mulut. Diikuti oleh Delan kemudian.
"Ckck... Makanan buatan bunda emang ngga pernah gagal rasanya, selalu bikin nagih." Ujar Arka di sela-sela kunyahan nya.
"Bisa aja kamu, Ka!" balas bunda Nimas tersenyum geli melihat gaya makan Arka yang menurutnya sangat lucu sekali.
"Yaudah, kalian lanjutin lagi makannya ya, bunda mau kebelakang dulu."
"Iya, bunda" sahut Arka dan Delan berbarengan.
Sepuluh menit kemudian.
Sekotak puding karamel sudah ludes tak bersisa. Orang yang dinanti-nanti hadirnya akhirnya datang juga. Wajah Agatha tampak sangat terkejut melihat keberadaan Arka dan Delan di rumahnya.
Agatha diam tak menjawab. Ia langsung duduk di kursi rotan di senang Arka duduk. Matanya menatap sinis kearah piring dan kotak kosong di atas meja.
"Ta..." panggil Arka pelan lagi.
Agatha meluruskan kedua kakinya, menatap Arka tajam. Tatapannya sudah seperti es batu bagi Arka, sangat dingin.
"Lo, masih marah ya sama Bu?"
"Kalo udah tau, jangan basa-basi lagi, deh!" jawab Agatha ketus, sudah hampir menyerupai bentakan saat Arka mendengarnya.
"Maafin gue ya, Ya? sumpah gue nyesel banget sama kejadian kemarin, gue bener-bener minta maaf. Selepas Lo pergi, gue langsung marahin anak-anak lainnya kok, bener!"
__ADS_1
"Maaf, maaf... Maaf mulu, Lo? andai kata maaf selalu bisa nyelesaiin semua masalah, mungkin ngga akan di bangun penjara oleh pemerintah," Tatapan Agatha lalu berlatih. Dengan gaya cuek mengambil sesuatu dari dalam tas dan membuka-buka isinya.
Sepuluh menit kemudian.
"Ta... Gue seriusan minta maaf loh, ini! maafnya diterima ngga?" Arka meringsek maju mendekati Agatha yang pura-pura sibuk membaca.
"Ngga, gue bosen denger kata maaf dari, Lo!" ketus Agatha.
"Ta, jangan gitu dong! Lo mau apa sebagai ganti maafnya? coklat? pernak-pernik BTS? ayo gas, kita beli sekarang," mohon Arka membujuk.
Agatha diam saja.
"Ta... Ngomong dong, gue takut kalo Lo diemin gue lama-lama begini,"
Agatha bergeming.
"Ta, ngga baik loh, marah lama-lama. Tar keriputan lagi tuh muka," Delan ikut bersuara, berusaha mencairkan hati Agatha yang beku.
"Ta, please dong!" panggil Arka lagi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, voting dan rating ya bestie🤗