
Di Kantin
Bibir mungil yang berwarna merah muda alami milik Agatha terus saja ber-hah-huh sejak tadi lantaran kepedasan. Bahkan beberapa peluh menghias dengan indah pada kening dan pelipis nya yang selebar lapangan bola.
Bayang kan saja, lima sendok penuh sambal telah berpindah tempat ke dalam perut nya.
"Makan bakso tanpa dibubuhi sambal yang banyak, terasa kurang yahud. Ibarat kan jodoh, bakso adalah pasangan yang sempurna ketika bertemu sambal. Sangat afdol." ucap Agatha setiap kali baik Arka mau pun Delan menasehati dirinya untuk mengurangi porsi sambal nya.
"Nih,"
Arka dan Delan dengan kompak nya menyodorkan minuman mereka masing-masing, minuman yang masih sama-sama penuh. Sedangkan gelas milik Agatha sudah tandas tak tersisa dari tadi.
Dengan gerakan pasti, Agatha langsung meraih gelas milik Delan yang berisi teh manis dingin. Kemudian gelas milik Arka, meminum nya hingga habis.
"Kalian, pesan lagi aja ya." Kata nya enteng.
Arka dan Delan bengong, menatap tak percaya ke arah gadis berpipi chubby yang sedang menikmati bakso nya dengan penuh hikmat.
Tangan Agatha bergerak ke balik saku baju nya. Mengambil sapu tangan kotak, motif cowok mamba lalu dengan sigap menyeka peluh nya yang menetes-netes di area sekitar wajah nya.
"Punya siapa, Ta?" Tanya Delan heran. Wajar saja jika Delan merasa heran, sebab biasanya Agatha hanya menggunakan sapu tangan handuk bermotif kelinci kecil di ujung nya.
"Punya Ayah,"
"Buruan dong Ta, mana informasi nya." desak Arka yang sudah tidak sabar mendengar kabar yang akan Agatha sampaikan mengenai kepindahan siswi baru di sekolah nya.
Agatha menyeringai kecil di sela-sela kunyahan nya.
"Lo, Tau kan? kalo orang sabar di sayang Tuhan?"
"Bodo amat, udahh cepetan Ta."
"Buset, giliran cewek aja. Gercep. Oke, oke. Tapi... rambut Lo yang rada nutupin kuping itu tolong di pinggiran dulu. Karna gue paling anti dengan remedy,"
Meski ucapan Agatha sedikit hiperbola, tak urung Arka pun mengikuti perintah nya.
"Jadi, dengerin baik-baik nih. Nama siswi pindahan yang cakep nya ngalahin Selena Gomez dan sekelas sama gue adalah Marina, lengkapnya
Mari menari ikuti irama, ayo bergembira berjoget bersama, hilang kan luka lara..." Agatha terlihat asik menggoyang-goyang kan pinggul dan juga tangan nya.
Delan bengong sedangkan Arka mendelik kesal. Sudah dengan serius menantikan informasi yang akan di sampaikan namun Agatha malah asik dengan nyanyian sumbang nya itu.
"Bukan deng,,, hehehe" Agatha terkekeh geli.
"Nama yang sebenar nya adalah Marina Putri Purnawangsari."
"Keren sih, kalo denger nama nya." celetuk Arka spontan.
"Tapi,,,, orang nya Gue belum begitu yakin."
Bukan tanpa sebab Arka merasa ragu dengan ucapan Agatha barusan mengenai siswi pindahan tersebut.
Ia pernah di kerjain Agatha beberapa waktu yang lalu dengan mengatakan bahwa di depan rumah nya tinggal seorang gadis cantiii..kk sekali. Nama nya Nirmala, tetangga baru Agatha.
Dengan heboh nya Arka selalu menitipkan salam kepada tetangga baru nya Agatha, namun responnya selalu cuek bebek meski Agatha selalu mempromosikan diri nya.
Karena Nirmala tidak pernah merespon atau pun membalas salam nya, suatu hari Arka dengan tekad nya menunggu di depan rumah Agatha dari pagi hingga sore demi bisa melihat gadis cantik yang Agatha maksud.
Namun betapa malu nya Arka saat tahu kenyataan bahwa gadis yang bernama Nirmala itu adalah anak perempuan yang baru berusia sekitar lima tahunan.
Kali berikutnya, Agatha juga pernah berkata jika ada seorang gadis berkulit lembut, bermata indah dengan body nya yang mirip seperti gitar spanyol, Dhea nama nya. Ingin berkenalan dengan Arka.
Usut punya usut, ternyata gadis yang Agatha sebut dengan Dhea adalah seekor kucing anggora betina, peliharaan orang tua Nirmala.
"Kali ini gue serius kok, Ka. Marina emang beneran cakep. Gue berani di samber duit ceban deh kalo ketahuan bohong..." Agatha berusaha menyakinkan Arka yang tampak masih ragu dengan ucapannya mengenai gadis cantik.
"Marina anak tengah dari tiga bersaudara, Ka. lahir dan besar di kota Bandung. Dia pindah kesini karena mengikuti ayah nya yang pindah tugas. Gue udah bilang kan tadi kalo dia mirip artis.?"
__ADS_1
"Mirip artis, siapa, Ta.?" potong Arka
Agatha mendengus geram, sebab Arka tidak benar-benar mendengar tutur informasi yang dirinya sampaikan.
"Vicky Prasetyo."
Arka dan Delan diam tak berkutik di tempat.
"Lagian, udah di kasi sedari awal bukannya dengerin Bae-Bae." sembur Agatha
"Ya udah maaf, Ta. Jadi mirip siapa tadi.?" tanya Arka lagi
"Selena Gomez, kenapa gue berani samain dia sama artis terkenal.? karena memang tubuhnya proporsional, tinggi dan juga langsing. Bibir nya bagus, kulitnya bersih dan tanpa jerawat, ya sebelas dua belas lah sama gue..." Kirana tergelak sendiri di akhir kalimatnya.
"Woww..." mata Arka kontan membesar mendengar Jabaran Agatha mengenai sosok Marina.
Delan hanya mengangguk-angguk, tanggapannya biasa saja. Tak seantusias Arka.
"Tapi, beneran mirip Selena Gomez.?" tanya Arka masih ragu.
"Yang ada Zong lagi, Lo kan sukanya nge ghosting.."
"Ya udah sih, mau Lo percaya syukur, ngga juga ngga apa-apa." ucap Agatha sambil bangkit berdiri, seperti hendak meninggalkan tempat.
"Iya, iya gue percaya. Masih ada informasi yang lain lagi ngga.?"
Kepala Agatha bergerak, menggeleng-geleng keras.
"Yang gue tahu cuma itu sih, sabar ya... kalo ada info terbaru pasti gue kabarin. Lo tau kan orang sabar di sayang Tuhan.?"
Arka diam tak menyahut.
...****************...
Arka dan Delan melangkah bersisian menuju kelas yang terletak paling ujung. sesampainya di sana, kepala Arka melongok ke dalam melalui ambang pintu yang sedang terbuka lebar.
"AGATTHHHAA..."
Merasa nama nya di panggil, Agatha pun menoleh kearah sumber suara yang sudah sangat familiar di telingga nya. Tertawa riang menghampiri kedua sahabat baik nya itu.
"Eh, Ta. Marina-nya yang mana, kok muka lama semua sih penghuni nya.?" bisik Arka
Agatha pun langsung merogoh-rogoh saku rok nya dengan wajah serius.
"Cari apaan, Ta.?" tanya Delan ingin tahu
"Marina, perasaan tadi gue taruh di sini deh.!"
Arka mendelik.
"Gue serius, Ta..."
"Galak banget sih Lo.!" mata Agatha ikut membesar. "Gue tadi denger, kalo si Marina pamit ke kamar kecil. Ngga tau deh itu bocah mau ngapain, pastinya bukan untuk bersih-bersih ya..."
Arka mengangguk-angguk lalu mengambil sesuatu dari dalam kantong celana nya. Menyodorkan sebatang coklat pada gadis di depannya kini.
"Cihuyyy,,," tangan Agatha bergerak cepat. mirip seperti kilat. Membolak-balik coklat yang tersembunyi di balik bungkusan kertas berwarna emas, yang di atas nya sudah terdapat beberapa rentetan pesan.
Arka terkekeh. Tanpa maksud apa-apa pun, lelaki jangkung itu kerap kali membagikan kepunyaannya pada kedua sahabatnya tanpa di minta.
"Makasih, Ka." jadi jemari Agatha mulai membuka bungkus coklat. Dengan sigap, memasukan potongan demi potongan kedalam mulu mungil nya.
Gadis itu mengunyah dengan nikmat, bahkan matanya ikut merem melek menunjukkan betapa lezat nya coklat itu.
Arka dan Delan tertawa, tak bisa menahan geli.
"Norak banget Lo, kek seumur-umur ga pernah makan coklat aja." celetuk Arka.
__ADS_1
"Biarin, lagian memang bener seenak itu rasanya. Buatan Belgia gitu loh!!" ucap Agatha di sela-sela kunyahan nya.
sama sekali tidak terpengaruh dengan celetukan Arka barusan.
"Ta,,," bisik Arka saat melihat sesosok gadis berjalan melewati mereka. Benar-benar cantik. Mirip sekali dengan Selena Gomez.!
Mata Agatha langsung membuka, dengan cepat gadis itu berinisiatif.
"Marina...!!"
Yang dipanggil menoleh, bergerak dengan sangat anggun.
"Ya ampun, Selena Gomez..." gumam Arka tanpa sadar.
Agatha terkikik pelan.
"Na, sini bentar deh.!" ia melambaikan tangan di udara.
"Iya, kenapa Ta.?" tanya Marina saat jarak mereka sudah mendekat. Suara nya begitu lembut, seperti parasnya.
"Mau coklat.? enak banget loh, asli buatan Belgia." tawar Agatha, menyodorkan tangannya yang berisi coklat yang tinggal separuh.
Mulut nya kembali sibuk mengunyah, sambil merem-melek.
Marina tertawa geli melihat cara makan Agatha. " Makasih, Ta. Tapi aku lagi sedikit batuk, jadi Ngga makan yang manis-manis dulu." tolak nya halus.
Mata indah itu lalu beralih menatap Arka dan Delan bergantian. Dan tak lupa sebaris senyum menghias wajah nya.
"Kenalin nih, para sohib-sohib gue." Agatha berkata.
Arka yang sedari tadi tidak berkedip, langsung tersadar ketika mendengar suara cempreng milik Agatha berdengung nyaring.
Marina menyodorkan tangan nya bergantian ke arah Arka dan juga Delan.
"Marina aslinya dari Bandung ya.?" tanya Arka sekedar ber basa-basi.
"Iya," sahut Marina dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
****BERSAMBUNG****.!!!
Jangan lupa like, vote, share dan koment ya ges🥰 terimakasih yang sudah stay sampe hari ini🤗 semoga kalian sehat selalu ya🙏🏻
__ADS_1
Love U All💜