
"Hahaha... Mas kalo bercanda suka kelewat garing, ngga percaya aku mah." bantah Agatha ketika kakak tertuanya menyampaikan berita bahwa Arka ditemukan meninggal dunia dengan cara mengenaskan di sebuah kamar hotel.
"Dek, Mas ngga bohong. Pamali tau main-main sama perkataan."
"Ngga mungkin Mas, Mas Esa pasti bohong! Mas pasti salah lihat! Arka ngga mungkin meninggal, apalagi karna over dosis."
"Ngga, Ta. Itu memang benar, bahkan beritanya sampai masuk di siaran nasional." jelas Mahesa. Sejujurnya ia tidak begitu akrab dengan Arka ketimbang Delan, pemuda itu lebih dekat pada adik keduanya. Karna mereka mempunyai frekuensi yang sama.
"Bunda... Bunda di mana" Teriak Agatha.
"Mas Esa bohong kan Bun, Arka ngga mungkin ninggalin adek kan, Bun?" teriaknya sepanjang berlari ke luar halaman. Isakannya semakin menjadi saat melihat Delan yang berdiri kaku, berlinang air mata. Matanya bahkan terlihat membengkak dibalik kacamatanya.
"Lan, ayo bilang kalo ini cuma prank, Kan? Arka masih kesel karna gue suka sama Lo, kan? dia ngga mungkin meninggal, dia sehat, dia ngga mungkin kena HIV kan? dia ngga mungkin over dosis!" Agatha mengguncang keras tubuh Delan.
Untuk sesaat Delan hanya diam. Lalu mengangguk. Berkata dengan suara putus-putus.
"Ta, berita itu memang benar adanya."
__ADS_1
Pijakan Agatha goyah. Tubuhnya terhuyung. Delan segera menangkapnya. Seolah tak bertulang, seluruh tubuhnya ikut melemas. Beruntung Mahesa segera menghampiri keduanya untuk mengambil alih tubuh Agatha yang hampir terhempas ke lantai.
Meskipun pedih serasa mati, tapi pagi tetap berganti. Sore ini tak lagi sama, dunia sedang berduka dengan gerimis yang semalaman tak mereda.
Saat Agatha membuka mata, bayangan pertama yang ia lihat adalah pakaian serba hitam. Agatha memandangi seluruh anggota keluarganya satu per satu, wajah mereka tampak sendu dan cemas.
"Kamu udah sadar, sayang?" ujar Bunda Nimas sambil berjalan mendekati Agatha.
"Aku? kenapa? kalian juga, kenapa hitam segala?" tanya Agatha limbung. Dia bahkan langsung duduk tegak dari posisi yang semula tiduran. Bingung dengan sikon saat itu.
"Kamu yang sabar ya, dek? Kita harus mengantarkan Arka ke peristirahatan terakhirnya."
...****************...
"Arkananta..." bisik Agatha sendu pada batu nisan didepannya. Melihat tulisan nama dan tanggal wafat si empunya makam. "Selamat jalan, terimakasih dan maaf buat semuanya. Gue sayang elo..."
"Yah... Padahal Lo udah janji bakal ngajarin gue main basket juga kan? tapi, sepertinya gue telat, ngga apa-apalah. Gue kan pinter, jagonya otodidak." Delan menghela nafas gusar di samping kiri batu nisan. Seberang Agatha.
__ADS_1
"Maaf ya, Ka? bukannya Mas ngga sedih ngelihat kamu mengkeret dibawah sana. Tapi mas juga bukan aktris ikan terbang, Mas sedih tapi ngga bisa nangis. Kamu yang tenang ya di sana, jangan galau terus. Kalo rindu, jumpa pers aja di kamarnya Bang Dika, Kalian kan sohib." Mahesa bangkit berdiri. Memberi kesempatan kepada yang lain untuk mengucapkan belasungkawanya.
"Abang pasti bakal kangen banget sama Lo, Ka. Lo inget ngga pernah bilang kalo gue married nanti dress code pernikahannya harus pake warna kesukaan Lo? gue udah rencanain ini meski belum ketemu jodohnya, eh Lo malah karam duluan. Kita juga belum adu skill kan? katanya makin jago main basket, makin hebat. Tapi kenapa nyerah?" tak terasa dua bulir air matanya jatuh membasahi pipi.
"Maaf kalo Abang selama ini ngeselin, Abang juga pengen akrab sama kamu. Tapi Abang bingung gimana jalin komunikasi yang baik sama anak reog seperti kamu."
Selesai Mahardika mengucapkan seluruh isi hatinya pada makam Arka, semua anggota dan para pelayat yang datang dari berbagai organisasi dan Alumni sekolahan membubarkan diri dari sana, meninggalkan Arka seorang diri.
hingga selang beberapa waktu, langkah seorang perempuan dengan payung hitam berhenti di sisi makam Arka. perempuan itu menghela nafas lelah dengan tatapan berduka. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Bego banget sih, Lo? mati kok segampang itu. Masih banyak yang harus Lo lakuin padahal, Katanya mau ponakan cewek kan dari gue? belum juga di cetak kenapa malah meninggoy?" gadis itu meremat batu nisan Arka kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Meluapkan emosi dan kesediaan yang bercampur jadi satu d sana.
"Miris banget kan asmara gue? Sejak masuk 5 SILA gue udah jatuh cinta sama pesona Lo, tapi sekuat apapun usaha gue, Lo selalu nolak dengan alasan ada hati yang harus di jaga. Makasih buat kenangannya, meskipun sedikit bakal gue jaga sampe kita ketemu di surga yang sama. Jangan dendam karna gue buntutin Mulu terus gentayangan gue ya, Ka? Lo tau kan gue penakut," kekeh gadis itu di akhir kalimatnya.
"Selamat jalan Arkanya Freya. I Miss you more than life, bro."
TAMAT
__ADS_1