JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 40


__ADS_3

"SAYANG, sebelum kita pulang, kita cari makan dulu ya, kamu pasti laper kan?" Ujar Gusty, sengaja menekankan kata "SAYANG" sebagai hak miliknya pada Arka.


Marina tersenyum manis, mengangguk.


"Kami duluan ya, Ka." Marina melenggang masuk ke dalam mobil jip sang pacar.


Jip hitam itu berlalu, meninggalkan kepulan asap putih di muka Arka. Ia menggerutu panjang lebar.


Delan yang melihat semua peristiwa sepanjang Arka dan Marina berbicara tertawa di tempatnya, ia datang menghampiri dan menyentuh bahu Arka dari belakang.


"Yang sabar ya, Ka..." Ujar Delan sambil menahan tawa.


Arka meringis merasakan sentuhan di bahunya bagian belakang.


"No problem, Lan. Santai aja lagi, gue juga belum terlalu suka, kok!"


Delan hanya tertawa mendengar jawaban yang Arka berikan. Lebih mirip seperti alibi ketimbang jawaban sebenarnya.


"Bareng mang Komar lagi?" tanya Delan saat melihat Arka melambaikan tangan pada supir pribadi keluarganya.


"Iya, kemarin mami pulang, dan marahin mang Komar habis-habisan, gue jadi ngga tega ngelihatnya."


"Kenapa?"


"Karna selama ini udah ngebiarin gue naik bis,"


Delan tersenyum menanggapi.


"Kadang gue mikirnya gini, mereka yang notabenenya orang tua gue aja, ngga pernah ada disaat gue rindu, sekalinya di rumah malah ribut terus sama bokap, eh ketika ada yang buat gue nyaman, malah dihalangin."


"Namanya juga orang tua, Ka."


"Yah, begitulah orang tua gue. Bisanya cuma marah-marah doang, ngga sekalian pargoy aja, goyang dumang atau ngapain lah, kan keren anjir! bukannya nyerocos bae. Nah, kan kesel gue jadinya." gerutu Arka mulai kesal dengan pembahasan tentang orang tuanya yang jarang sekali berada di rumah.


"Mereka seperti itu, artinya mereka sayang banget sama Lo, bersyukur dong."


"Hahahah... Sayang? Rasanya kata itu kurang tepat ditujuan buat kedua orang egois itu," Arka tertawa pahit. Mulutnya tertawa tapi sorot matanya sendu, sangat sakit karena menyimpan kekecewaan seorang diri.


"Kalo mereka beneran sayang sama gue, mestinya mereka bisa ngeluangin sedikit waktu mereka yang berharga itu untuk gue, Lan!" lanjutnya dengan sinis.

__ADS_1


Delan tak berkomentar.


Lama keduanya hening, kepala Arka celingukan memandangi sekitar.


"Agatha mana, Lan?"


"Loh, tadi ada kok, dia jalan di belakang gue." Sahut Delan dan ikut celingukan mencari orang yang dimaksud.


"Nih, si cebol malah pergi duluan!" tangan Arka menuju menuju beberapa meter di depannya.


Delan memanggil, namun Agatha tak menghiraukannya, gadis itu terus melangkah menuju gerbang sekolah.


"AGATHA...!" Delan kembali berseru lebih keras.


Melihat banyak pasang mata menatap jengah ke arahnya, mau tak mau, akhirnya Agatha menghentikan langkah. Membalikkan badan dengan gerakan malas, wajahnya merengut. Sangat tidak enak untuk di lihat.


Melihat sabatnya berhenti, segera Delan menghampiri.


"Mau kemana? hari ini kita balik sama mang Komar," katanya memberitahu.


"Males gue, Lo aja sono. Gue ngga mau lagi balik bareng Arka!" sahut Agatha dengan ekspresi kesal.


"..."


Diamnya Agatha membuat Delan heran. Tatapannya pun beralih menatap ke arah Arka. Yang ditatap malah mengangkat bahu, tanda ia juga tidak mengerti kenapa gadis itu bersikap demikian.


"Tau ah, gelap. Deket Lo pada buat gue jadi gerah," Agatha hendak melangkahkan kaki nya, tapi langsung ditahan oleh Delan.


"Tunggu dulu, Lo berdua pada kenapa sih?"


"Udah deh, mendingan Lo tanya aja sama sahabat Lo itu,"


Tanpa permisi lagi, gadis itu berlari menuju bis bernomor 27, yang sedang berhenti di depan gerbang sekolahnya.


Mobil Arka bergerak menghampiri Delan yang masih diam dengan segala kebingungannya. Dan dengan cepat mobil itu mulai melaju membelah jalan raya.


"Sebenernya Lo berdua kenapa lagi sih, Ka? Kok bisa si Agatha Ngambek lagi?" tanya Delan, pemuda itu tak bisa lama-lama menutupi keingintahuannya.


"Gara-gara tragedi jambu biji."

__ADS_1


Sejenak Arka mengumpulkan nafas dan tenaganya. Lalu cerita pun meluncur dari bibirnya.


"Hahahah... Ya ampun, Tuhan." Delan tergelak setelah Arka menyelesaikan ceritanya.


Dari balik kemudi, mang Komar juga ikut tertawa, geli membayangkan peristiwa nahas yang di alami Agatha kemarin.


"Lo aja ketawa, padahal baru denger cerita doang, kan? lah apa kabar gue yang nyaksiin langsung kejadiannya coba?"


Delan segera mengusap air yang sedikit menyembul dari sudut matanya dengan ujung jari.


Arka menghembuskan nafasnya pelan.


"Di situ gue salah sih, seharusnya waktu itu gue langsung nolongin dia dulu, bukannya malah ikut ngetawain dia seperti yang lain," kata Arka dengan wajah penuh penyesalan.


"Kalo gitu, kita samperin aja kerumahnya, Ka!" usul Delan.


"Boleh deh, Mang Komar, anterin kita ke rumah Agatha, ya?"


"Baik, Den..."


"Begitu sampai, nanti saya ditinggal aja, mang balik duluan, ngga apa-apa..."


"Tapi, Den. Nanti Nyonga~" mang Komar terlihat ketakutan.


"Udah, mang Komar tenang aja, saya udah ngecek sikon di rumah kok, Mami udah pergi lagi, ngga tahu kapan pulangnya juga..." di akhir kalimatnya suara Arka berubah, getir.


"Iya, Den..." Mang Komar mengangguk patuh.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.!!!

__ADS_1


Jangan lupa like, koment, share, voting dan juga rating ya bestie🤗


__ADS_2