
Tepat saat langkahnya mencapai undakan tangga terakhir, Ia melihat ada satu kamar yang pintu nya sengaja dibiarkan terbuka. Gadis itu langsung melangkahkan kaki nya dengan pasti menuju kamar yang ia yakini adalah kamar milik Agatha dan melihat sedikit kedalam melalui celah pintu.
"Narsis banget sih, Ta!" Cibirnya merasa lucu saat dirinya sudah berada di dalam kamar milik Agatha.
Gadis itu perlahan berjalan menyusuri setiap lekuk kamar milik Agatha, matanya berbinar menatap setiap foto yang dicetak secara polaroid yang disusun berpola menciptakan berbagai bentuk pada sebagian dinding kamar.
Ada juga beberapa poster berukuran besar di atas kepala ranjang tempat tidur nya, entah apa fungsinya itu ia tidak tahu. Di langit-langit kamar di beri lampu LED warna-warni, dapat Freya bayangkan seberapa estetikanya kamar ini jika malam hari.
"Pantes banget si Delan sering modus dengan embel-embel tugas, ternyata ini bocah kreatif juga tangannya."
"Ehh,,, Ada foto gue juga? tapi kapan ini di ambil," Freya lumayan terkejut mendapati sebaris fotonya bersama Agatha sedang tertawa bersama di taman belakang sekolah, terselip diantara banyaknya kumpulan foto kebersamaan Agatha, Delan dan Arka di sana.
Ada rasa yang sulit di jelaskan bersarang di dada nya saat ini, meski dirinya tak pernah sedekat itu untuk dikatakan sebagai sahabat Agatha tak bisa dipungkiri dirinya kini dihujam rasa haru yang mendalam.
Cukup lama Freya berkelana di ruangan itu namun belum juga ada isyarat yang menandakan sang pemilik kamar akan keluar dari tempatnya. Sebenarnya Agatha sedang Mandi atau bersemedi di dalam sana? Entahlah, lama sekali.
Mata nya menatap sendu pada senampan piring nasi dan jamu pereda nyeri masih utuh belum tersentuh di tempatnya.
"Jadi Lo ternyata enak banget ya, Ta. Banyak orang yang perduli dan sayang sama Lo, ngga seperti gue dan Arka," Gumamnya lirih. Sedikit banyak Freya tahu kehidupan pertemanan yang Agatha jalani, Kenapa? karena dirinya merupakan tetangga sekaligus pengagum rahasia dari seorang Arkananta Rahardian.
Freya sering kali memergoki Arka yang murung ketika ditinggal orang tua nya dinas keluar kota dan akan pulang setelah berbulan-bulan lama nya. Sama hal nya dengan apa yang Arka alami, Freya juga sama. Gadis itu sering merasa kesepian ketika berada di rumah tetapi enggan membuka relasi untuk berteman.
Sampai akhirnya dia bertemu Kenzo Mahendra, seorang lelaki tampan bertubuh atletis dengan mata elang nya yang tajam di taman kota karna suatu insiden tak terduga.
Lelaki yang mampu memberi sedikit warna untuk hidupnya yang terasa hampa karena sosoknya yang petakilan dan slengean sangat berbanding terbalik dengan sosok Freya yang cuek dan terkesan abai pada lingkungan sekitar.
__ADS_1
Selang berapa waktu kemudian munculah seorang gadis dengan handuk sebatas paha keluar dari kamar mandi, ia tengah asyik mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil hingga tak sadar jika di kamar nya sedang kedatangan tamu lain.
Wangi bunga sakura yang berasal dari sabun mandi yang ia pakai seketika menyeruak ke segala penjuru kamar seiring langkahnya menuju ranjang. Namun langkahnya terhenti seketika saat melihat Freya yang tengah menggenakan kaos oversize berwarna hitam pekat dipadukan dengan celana Chino pendek berwarna krem.
Gadis itu sedang rebahan dengan kedua kaki dibiarkan selonjoran menyentuh lantai di atas ranjang nya dengan mata tertutup.
"Hai, Fre." Sapa Agatha sambil berjalan mendekati Freya yang sekarang sudah mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas ranjang queen size miliknya.
"Ehh, Ta. Sorri ya, gue kebablasan." Balas Freya sedikit canggung karena sudah lancang menempati ranjang milik Agatha tanpa ijin terlebih dahulu, tapi jangan salahkan Freya sepenuhnya, tanyakan saja kenapa Agatha lama sekali di dalam sana. Bahkan punggung dan tulang ekornya sudah lelah menunggu sejak tadi, belum lagi akibat kecelakaan ringan yang dideritanya di perjalanan menuju kesini rasanya benar-benar sakit kuadrat.
"Iya Fre, santai aja mah kalo sama gue."
"Ohh iya, Ta. Gue ke sini karena tadi Delan nitipin ini buat Lo," Gadis itu menyodorkan sekantung kresek penuh yang didalamnya berisi makanan ringan dan sebotol jamu pereda nyeri haid.
"Makasih banyak ya, Fre. Udah mau repot-repot nganterin ke rumah gue. Padahal tunggu ketemu besok di sekolah juga bisa" Agatha menerima kantung pemberian Freya dan meletakkannya disebelah nampak nasi di atas nakas.
"Jalan sore sekalian cuci mata, ya."
Mata sipit Agatha merasa terganggu melihat bercak darah yang sudah mengering pada lutut Freya di bagian kiri atas.
"Lutut bagian kiri atas Lo kenapa, Fre?"
Freya yang bingung pun langsung mengikuti arah pandang Agatha, dan betapa terkejutnya saat melihat sebaris luka yang terpampang di sana. Bagaimana bisa ia tidak menyadari efek tabrakan tadi, bahkan darahnya sudah mengering seperti ini.
"Heheh,,, ngga sengaja keserempet orang di perempatan jalan. Ta,"
__ADS_1
"Hadehh,,, ya udah tunggu bentar gue ganti baju dulu, setelah itu kita obatin luka Lo."
Agatha berlalu menuju walk in closet dan keluar dengan sekotak P3K di tangannya.
"Gue bisa sendiri, Ta." Freya berusaha mencegah pergerakan Agatha yang hendak membersihkan bekas luka pada lututnya.
"Kalo bisa sendiri, seharusnya Lo bersihin sejak tadi, bukannya malah dibiarin kering begini. Kalo luka nya infeksi nyahok Lo," Sanggah Agatha menepis tangan Freya yang ingin mengambil alih kapas kasa dari tangannya. Akhirnya Freya mengalah dan membiarkan Agatha membalut luka nya dengan handplast.
Sekitar pukul 4 sore akhirnya Freya ijin pamit kembali kerumahnya, karena misi nya untuk menyampaikan pesan telah terlaksana.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Jangan lupa like, koment, share, rating dan vote ya bestie💜🤗
__ADS_1