
"Lo kenapa, Ta?" tanya Freya saat melihat Agatha memasukan alat tulisnya dengan tergesa-gesa ketika bel tanda waktu pelajaran hari ini telah usai berdering nyaring.
"Sori, Fre. Gue buru-buru" balas Agatha.
"Iya buru-buru kenapa? Lo mau kemana emang?"
"Rumah sakit,"
"Siapa yang sakit?"
"Delan," Freya tidak bersuara, hanya membentuk huruf O dengan mulutnya dan mengangguk-angguk paham.
"Gue cabut ya? mesti ke kelas Arka dulu soalnya," Kata Agatha setelah memastikan barang bawaannya sudah lengkap semua.
"Oghey, hati-hati di jalan, gue titip salam buat Delan supaya cepet pulih, ya?"
Agatha mengangguk dan mulai berjalan keluar dari kelasnya.
Belum sampai separuh jalan ternyata Arka juga tengah berjalan ke arah kelasnya. Agatha tersenyum senang melihat Arka menghampirinya, "Kita jadi jengukin Delan ke rumah sakit kan, Ka?"
"Hmm... Gimana ya, Ta... Sebenernya gue juga kepengen banget ngelihat kondisinya Delan sekarang gimana," Jawab Arka sedikit terlihat bingung.
"Kenapa?"
"Lo tahu kan, besok itu finalnya turnamen basket?"
Agatha mengangguk.
"Kemarin kan gue ngga ikut anak-anak latihan karena sedang di rumah sakit bersama Lo nungguin Delan, jadi. Hari ini harus Hadir gue, lagian ini juga hari terakhir tim gue latihan, Ta."
"Ohh gitu ya? yaudah ngga apa-apa, ngerti kok gue. Gue bisa kok sendiri ke sana, minta doa dari Lo juga ya supaya Delan cepet pulih." Agatha berusaha tersenyum bijak, dan berjalan meninggalkan Arka sebelum sempat lelaki itu menyahut. Agatha tahu betul alasan Arka untuk tidak bisa menjenguk Delan hari ini.
Final, sesuatu kebanggaan bagi Arka karena turnamen besok akan melawan SMA BIMA SAKTI lawan mereka yang sangat tangguh, meskipun sudah 2 tahun berturut-turut selalu berhasil dikalahkan oleh Arka dan kawan-kawan tapi ini juga menjadi Ajang untuk menentukan siapa yang berhak menyandang predikat atlet terbaik. Memperebutkan piala bergilir Gubernur.
Baru beberapa langkah Agatha menjauh dari tempatnya, Suara Arka sudah menggema di indra pendengarannya.
"Tunggu di mobil, biar gue yang anter. Gue ke dalem dulu buat minta ijin." Saat Agatha hendak membantahnya, tubuh Arka sudah hilang terlebih dahulu dibalik pintu kelasnya.
Lima menit kemudian Arka muncul dengan tas sekolah tersampir di punggung bagian kirinya.
"Ayo, Ta. Gue anterin Lo ke rumah sakit."
__ADS_1
"Ampun dah, padahal gue bisa pergi sendiri Ka. Kalo begini jadinya kan gue ngerasa ngga enak banget sama pak Edward (Pelatih tim basket putra di sekolahnya) dan temen-temen setim Lo yang lain,"
"Ngga apa-apa, ayo!"
"Ka, serius Lo ini. Gue bisa pergi sendiri kok, Lo mending temenin anak-anak latihan aja sono."
"Dih, Ge-er Lo," Arka mencibir.
Agatha mendelik.
"Gue bukan hanya ingin Lo sampai dengan selamat, Ta. Tapi gue juga ingin memastikan kondisi Delan sudah baik-baik saja setelah dia menjalani operasi. Setelah itu gue bakal balik lagi ke sekolah kok, buat latihan."
Agatha menatap Arka, Sangat berterimakasih atas pengertiannya.
"Oke let's go."
...****************...
"Pelan-pelan dong, Ta!" Tegur Arka saat Agatha berlari di koridor depan rumah sakit menuju Kamar rawat Delan.
Agatha hanya menyengir kuda, memperlihatkan barisan giginya yang putih berjajar rapi.
"Siang, Buk." sapa Agatha pada wanita yang umurnya hampir sekitaran bunda Nimas.
Agatha dan Arka bergantian menyalami tangan ibunya Delan. Dan ikut duduk bersama ibu dari sahabatnya
"Gimana operasinya tadi, Bu. Lancar?"tanya Arka.
"Puji Tuhan semua lancar Nak Arka. Terimakasih karena sudah mau menjadi teman dari anak ibu, ibu ngga tau gimana nasibnya Delan jika tidak segera di bawa ke rumah sakit sama kamu kemarin," kata Ibunda Delan tulus.
"Alhamdullillah," Arka tersenyum lega saat mendengar proses operasi Delan berjalan lancar hari ini.
Tak berselang lama Dokter keluar dari ruang rawat inap Delan, dan tersenyum ramah pada ketiga manusia berbeda generasi yang duduk di kursi tunggu depan.
"Dok, bagaimana kondisi sahabat saya?" tanya Agatha to the point.
"Semua berjalan dengan lancar, dan sekarang saudara Delan sedang berada pada fase pemulihan. Saran saya tolong perhatikan pola makannya terlebih dahulu, usahakan untuk memberikan makanan ringan berupa bubur dan makanan lembut lainnya yang mudah di cerna oleh sistem pencernaannya dulu ya?"
"Baik, dok. Terimakasih atas bantuannya dalam merawat sahabat saya."
"Sama-sama, itu sudah kewajiban kami untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien. Kalau begitu saya permisi dulu, ya? permisi."
__ADS_1
Sepeninggalan dokter tadi, Agatha dan Arka gegas memasuki ruang rawat Delan. Dari tempatnya berbaring, Delan tersenyum sumringah melihat kedua sahabatnya.
"Gimana keadaan Lo, udah enakan?" tanya Arka mendahului Agatha.
"Puji Tuhan aman, Ka. Makasih banyak ya,"
"Syukurlah jika begitu."
"Masih ada yang sakit lagi ngga, Lan?" tanya Agatha dengan matanya terus menelusuri seluruh tubuh Delan tanpa terkecuali.
Delan terkekeh pelan karena memang tubuhnya belum bisa bekerja seperti semula.
"Udah ngga ada yang sakit lagi kok, Ta. Tenang aja,"
Meskipun begitu tetap saja rasa khawatir dan prihatin masih meliputi hati Agatha meski tidak separah hari kemarin, melihat Delan yang terbaring lemah di atas kasur rumah sakit benar-benar membuat hatinya sakit.
"Oiya, gue ngga bisa lama-lama nih, mesti latihan buat pertandingan final besok." Arka memberitahu. "Lo gimana, Ta
? mau balik sekarang apa nanti aja?" tanya Arka.
"Lo balik aja ngga apa-apa, gue bisa nyari taksi ato minta bang Dika supaya jemput ke sini, tenang aja. Gue aman mah," balas Agatha sambil mengacungi kedua jari jempolnya.
"Yaudah, kalo gitu Gue cabut dulu yak?" pamit Arka pada Delan dan juga Agatha.
"Iya, Ka. Makasih banyak udah jengukin gue, hati-hati."
"Yoi."
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Akhirnya UAS selesai juga Ya Tuhan🙈 udah nulisnya pake mood-moodan, tugas numpuk tapi untung masih ada bestie² yang setia menemani othor setiap harinya💃 makasih buat yang masih stay di lapak othor meskipun kadang up kadang engga😁
__ADS_1
Semoga betah mantengin karya othor sampe end ya besti🙆