JANJI AKSARA

JANJI AKSARA
PART 54


__ADS_3

Tibalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Arka. Hari dimana pertandingan final untuk memperebutkan piala gubernur akan dilaksanakan. Bagi Arka, bisa masuk final saja tidaklah cukup jika bisa mereka harus tetap memegang gelar juara bertahan seperti yang selama ini mereka dapatkan.


Sejak pagi pemuda jangkung itu begitu antusias menunggu jam pelajaran berakhir. Begitu Bel berdering nyaring, Arka berjalan sedikit berlari menuju kelas Agatha. Sesampainya ia di sana, pun. Bertanya dengan semangat, "Dah siap jadi suporter gue nanti kan, Ta?"


Minggu lalu Agatha memang menjanjikan diri sebagai suporter padanya makanya saat ini ia menagih. Gadis itu juga berjanji akan menyiapkan yel-yel seperti biasa.


"Aduh, gimana ya Ka...." balas Agatha terlihat bingung.


"Gue mesti ke rumah sakit, sekarang."


"Loh, Delan kenapa Ta? setelah operasi kemarin bukannya dia baik-baik aja ya?" Delan ngga kenapa-napa kan, Ta?" Sebelah alis Arka terangkat tinggi-tinggi. Iya jadi cemas juga.


"Iya sih, Tapi Ka..."


"Tapi kenapa, Ta?" Desak Arka. Pemuda itu bahkan mengguncang pelan bahu Agatha.


"Kondisi Delan sebenarnya sudah stabil pasca operasi kemarin, kata dokter juga akan semakin membaik jika pola makan dan aktifitas yang Delan lakukan tidak terlalu berat."


"Yang jadi masalahnya apa kalau begitu?"

__ADS_1


"Ngga tahu kenapa, perasaan gue ngga nyaman ninggalin Delan sendirian tanpa ada kita-kita di sampingnya, Ka." Agatha berhenti sejenak untuk menghirup oksigen. Jujur pada saat ini dirinya merasa begitu dilema, sudah terlanjur memiliki janji yang akhirnya harus ia ingkari pula terhadap Arka karena merasa khawatir dengan keadaan Delan.


Pikirnya Akra tidak apa-apa jika ia lebih memilih menemani Delan di rumah sakit, karena di sini juga Arka sudah memiliki banyak suporter dan teman-teman yang siap mendukungnya tanpa tahu bahwa support system terbesar yang arka mau adalah dirinya.


"Yahh... mungkin gue nya aja yang terlalu khawatir. Tapi gue takut terjadi apa-apa Ka, sama Delan. Ngga tenang gitu bawaannya kalau belum ngeliat keadaannya hari ini. Kemarin aja Lo lihat kan segimana lemahnya dia waktu kita ajak bicara?" Kata Agatha tak bisa menutupi kegundahannya.


"Ish... gue kira ada sesuatu yang ngga baik terjadi sama Delan, Ta! bikin spot jantung aja." Arka akhirnya bernafas lega mendengar keluhan hati agaatha.


"Namanya juga orang baru saja menjalani operasi, wajar dong Ta! ngga bisa langsung sembuh gitu aja, semua pasti memerlukan proses."


"Bener sih, Tapi..."


"Harus ke sana sekarang banget ya, Ta?" potong Arka cepat. "Ngga bisa tunggu gue selesai tanding dulu biar kita barengan jengukin si Delan?"


Arka menghela nafas berat, dan sedikit kasar.


"Yakin deh, satu supporter seperti gue ngga akan berarti apa-apa buat tim kita. Gue oercaya Lo hebat seperti biasanya, Lagian kalo pun gue tetep maksa buat hadir rasanya percuma, Ka. Raga gue memang di sini tapi kalo pikiran gue di sana sama aja aja kan?"


Arka mengalihkan pandangannya, tak ingin Agatha melihat rasa kecewa yang tercetak di wajah tampannya karena penolakan Agatha barusan.

__ADS_1


"Gue pergi dulu ya, Tetap semangat bertandingnya ya, Ka. Semoga menang."


Arka berdehem pelan dan menetralisir kan wajahnya agar terlihat biasa saja. Pemuda itu mengangguk ketika melihat Agatha mulai berjalan keluar dari kelasnya.


"Iya, Ta. Titip salam juga buat Delan ya. Semoga dia lekas sembuh." Katanya pelan.


"Makasih doanya, pasti gue sampein kok. GUE JUGA BERDOA SEMOGA LO MENANG!!!" Teriak Agatha sebelum tubuhnya hilang di belokan pembatas kelasnya dan Arka. Agatha benar-benar tidak sadar bahwa penolakannya hari ini telah membebaskan kecewa yang mendalam bagi perasaan Arka.


Pemuda itu merasa di bohongi, merasa kecewa karena terabaikan dan... cemburu atas perhatian yang Agatha tunjukkan pada Delan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG!!!


Jangan lupa like, koment, share, vote dan juga ratingnya ya bestie๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ’œ


__ADS_2