
Arka mengemudi tanpa memikirkan tujuannya akan kemana terlebih dahulu hingga tanpa sadar mobilnya kini justru berhenti di area parkir rumah sakit.
Keningnya mengkerut karena tau-tau sudah ada di halaman parkir rumah sakit. Ah sudah kepalang tanggung begini ada baiknya jika ia masuk sebentar, sekedar berbincang dengan Delan, atau... paling tidak bercerita tentang kejadian hari ini padanya dengan harapan bisa sedikit meredakan rasa kecewanya. Selama ini Delan memang menjadi pendengar terbaik di setiap cerita Arka maupun Agatha. Entahlah, bukan karna Depan yang sudah dewasa secara pemikiran dan umur, hanya rasanya begitu plong setelah bercerita makanya baik Arka maupun Agatha sangat senang mencurahkan isi hatinya pada Delan.
Di belokan menuju kamar Depan di rawat Arka berpapasan dengan ibu dan adik Delan.
"Assalamualakum Buk,"
"Siang, Baru balik kamu?" tanya ibu Delan karena memang saat ini Arka telah mengenakan kembali seragam putih abu-abunya.
"Iya Bu, Bagaimana keadaan Delan ya Bu?"
"Sudah lebih baik, sekarang mungkin sedang tidur. Kamu langsung pantau ke kamarnya aja ya, Ka? ibu mau ke instalasi farmasi dulu, tadi di suruh sama susternya ke sana sebentar."
Arka hanya mengangguk dan berlalu menuju kamar 301.
Pelan-pelan, Arka mendorong daun pintu bercat Sage green itu. Seperkian detik Arka terkesiap. Benar memang apa yang di katakan oleh ibu Delan barusan, Delan memang sedang tertidur lelap di ranjangnya. Bahkan tangan dan hidungnya pun masih tertancap selang.
__ADS_1
Wajahnya tampak begitu pucat, tapi terlihat begitu tenang, damai. Yang membuat Akra tertegun bukanlah perihal Kondisi Delan yang tertidur nyaman. Tapi karena ada sesosok gadis yang tengah tidur dengan posisi kepala tertelungkup miring di samping ranjang Delan yang lain. Gadis itu masih mengenakan seragam putih abu-abunya sama seperti Arka.
Sama seperti Delan, wajahnya juga terlihat tenang dan... Damai.
Arka memandangi wajah kedua sahabatnya itu bergantian, saking sarat tatapannya lelaki itu bahkan lupa caranya berkedip. Mata dan hatinya begitu sakit ketika melihat sebelah tangan Delan berada di atas kepala Agatha.
"****! Kenapa rasanya sesakit ini ya Allah."
Arka menghembuskan nafas pelan lalu mendesah panjang. Saking pelannya hanya mampu terdengar oleh telinganya sendiri. Pemandangan di hadapannya ini benar-benar membuat hatinya ngilu bukan main.
Merasa tak sanggup lagi berlama-lama menyaksikan pemandangan yang merusak jiwa dan logikanya, Arka memilih untuk pergi. Berusaha keluar tanpa menimbulkan suara yang berarti bagi dua sejoli yang tengah mengarungi mimpi yang sama, mungkin?
Arka keluar dari kamar, berjalan cepat-cepat menuju arah parkiran di mana mobilnya berada.
Arka mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan ibu kota yang sudah lengang pada malam hari. Langit tampak berkabut gelap, segelap hatinya saat ini. Penolakan Agatha, kekalahan timnya, teguran keras dari pak Edward karena gagal mencetak point' dan kurangnya konsentrasi selama pertandingan berlangsung, juga pemandangan barusan membuat kewarasannya hampir hilang. Semua teramat menyakitkan!
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
Pesannya masih sama ya bestie 🙏🏻
jangan pernah bosan untuk mampir, komentar, rating, vote, like dan share karya othor ini ya💜
__ADS_1