
Mobil yg Arka kendarai berhenti di perempatan jalan raya karna lampu merah sedang menyala. Menurunkan sedikit kaca jendela di samping kemudi dan menyandarkan punggungnya yang terasa kaku pada kursi kemudi.
Arka menatap ke arah luar, ada seorang anak laki-laki berumur sekitar 7 tahunan berlari kearah mobil Arka dengan pakaian lusuh, wajah Kumal, dan membawa kerencengan yang di buat dari tutup botol minuman bekas.
Bocah cilik itu bernyanyi dengan suara cemprengnya, selesai menyanyikan sebuah lagu. Bocah itu menyodorkan sebuah kardus kecil sebagai dompetnya ke arah Arka. Tanpa ragu pemuda itu mengambil selembar uang berwarna biru dari dompet dan memberikannya pada pengamen kecil itu.
"Yahh... kak, aku ngga punya kembaliannya." Bocah itu menunjukkan isi kardusnya yang hanya terdapat beberapa kepingan uang logam.
"Emang harus di kembaliin gitu kalo ada yang ngasi kamu?" tanya Arka polos.
Bocah itu mengangguk.
"Emang patokan harganya berapa sekali ngamen?"
"Seribu kak, paling banyak dua ribu." jelas anak kecil itu.
"Yaudah, semuanya buat kamu aja."
Si pengamen cilik pun bengong, memandangi Arka dan uang kertas lima puluh ribunya bergantian. "Semuanya, kak?"
Arka pun mengangguk dan tersenyum menatap binar bahagia anak kecil tersebut.
Si bocah tampak kegirangan sampai-sampai dia bersorak dan meloncat-loncat sambil mengucapkan terimakasih berulang kali pada Arka kemudian pergi ke arah trotoar karna waktu tanda lampu akan berubah menjadi hijau tinggal beberapa detik lagi.
__ADS_1
Arka tersenyum lagi sambil terus memandangi si anak dari tempatnya. Selembar uang, yang jumlahnya sangat kecil untuknya ternyata sangat bermanfaat buat orang lain. Tiba-tiba rasa hangat kembali menyelimuti hatinya. Ada rasa bahagia yang singgah dihatinya.
Seorang wanita memakai almamater ungu, berjalan anggun menghampiri Arka, menyodorkan setangkai mawar merah dan selembar kertas padanya.
"Untuk apa ini, mbak?"
"Kami dari organisasi mahasiswa membuka konseling dan seminar tentang HIV/AIDS dikalangan remaja, Dik. Barangkali berminat silahkan hubungi nomor yang tertera atau langsung mengunjungi tempat seminar juga boleh."
"Ohh, begitu ya mbak? terimakasih infonya." Arka mengambil mawar dan kertas tersebut.
"Sama-sama." Sahut si mahasiswi ramah.
Sudah beberapa waktu berlalu, lampu lalu lintas belum juga berubah warna. Merasa bosan, Arka pun meraih kertas selebaran yang diberikan oleh mahasiswi tadi dan mulai membacanya. Di sampul awal mengatakan bahwa;
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir. Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan.
Masih penasaran, Arka melanjutkan membaca halaman selanjutnya hingga matanya berhenti pada tulisan:
Faktor Risiko HIV dan AIDS
Kelompok orang yang lebih berisiko terinfeksi, antara lain:
Orang yang melakukan hubungan intim tanpa ******, orang yang melakukan transfusi darah.
__ADS_1
Orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik.
Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.
Pengguna narkotika suntik bersama para pemakai.
Orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik.
Mata Arka seketika menegang. Ia bahkan secara berulang membaca setiap kalimat per kalimat berharap ada kesalahan dengan netranya. Namun, hasilnya tetap sama. Tiba-tiba perasaan cemas dan takut memenuhi pikirannya.
Selama mengikuti pesta narkoba yang diadakan Zaros dan teman-temannya tak sekalipun Arka kepikiran akan hal itu. Arka mulai berfikir apakah diantara geng Zaros ada yang terpapar HIV/AIDS atau, mereka semua?
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.!!!
__ADS_1
Jangan lupa like, koment, share, vote dan rate ya bestie💜🙏🏻