
Davies membulatkan kedua matanya saat mendengar kabar kalau dirinya di isukan belok dengan sekertaris nya sendiri?
"Siapa yang memberitakan itu?" Tanya Davies dengan mimik wajah kesalnya.
Bukannya menjawab. Justru Alexa malah tertawa. Dia tertawa keras lantaran suaminya itu sungguh membuatnya kesal dan ingin rasanya menelannya.
"Ck! malah ketawa, memang ada yang lucu?"
"Hahaha, tentu saja ada, suamiku." Alexa memeluk tubuh Davies. Laki-laki yang telah menjadi suaminya. Laki-laki yang berhasil membuatnya merasakan apa itu kebahagiaan yang sesungguhnya.
Merasakan air mata Alexa mulai menetes, Davies langsung berpamitan untuk membawa Alexa ke tempat yang lebih tenang.
Davies membawa Alexa ke taman yang dekat dengan rumah sakit. Dia membiarkan istrinya itu untuk memenangkan hatinya.
"Kenapa kamu menangis, sayang?" Tanya Davies dengan hati-hati. Dia menyeka air mata istrinya.
"Aku hanya terharu saja. Jika mengingat bagaimana dulu, sungguh tidak pernah terbayangkan olehku. Jika dulu aku memilih untuk mengakhiri hidupku, mungkin sekarang aku tidak akan ada di sampingmu, mas." Lirih Alexa. Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Davies.
__ADS_1
Davies mengusap rambut Alexa. Wanita yang dulu menjadi menantunya. Tapi sekarang menjadi istrinya. Davies menangkup kedua pipi Alexa. "Justru aku yang lebih terharu, aku terharu karna bisa mendapatkan wanita sehebat kamu, sayang. Aku sangat beruntung karna mendapatkan istri luar biasa seperti kamu. Istri yang sungguh aku inginkan. Kamu sangat sempurna, sayang." Ucap Davies dengan lantang.
Cup!
Davies mengecup kening Alexa. "Jangan pernah memikirkan masalalu buruk itu. Masalalu kita, jadikan sebagai pelajaran untuk lebih baik ke depannya." Lanjut Davies.
Mendengar tutur kata suaminya. Alexa tersenyum manis. Dia menangkup wajah tampan suaminya. "Terimakasih, sayang. Terimakasih karna kamu sudah menerimaku, aku juga sangat beruntung karna mendapatkan laki-laki seperti kamu. Suami dan imam yang baik. Yang terpenting kamu juga sangat tampan dan tentunya kaya, hahaha."
Senyuman Davies luntur saat mendengar kata terakhir dari istrinya. Davies gemas sekali dengan istrinya. Ingin sekali Davies menerkam Alexa. Tapi dia tau kondisi saat ini sangatlah tidak mendukung.
Alexa tertawa lepas. Dia memeluk erat tubuh suaminya. "Sudah, ayo kita kembali ke ruangan Sindy."
Alexa dan Davies kembali ke ruangan Sindy. Disana ternyata sudah ada keluarga Williams dan keluarga Putri.
"Dari mana saja, Al?" Tanya Putri. Dia menghampiri sahabatnya itu.
"Biasa, tadi suamiku ngidam pengen hirup asap." Jawab Alexa dengan santainya. Davies memutar bola matanya dengan malas saat mendengar jawaban istrinya itu.
__ADS_1
"Ada-ada aja, hahaha..."
Mereka masuk ke dalam ruangan Sindy dengan bersamaan.
"Eh, iya. Dimana Amanda?" Tanya Alexa saat tidak melihat sosok bayi Amanda.
"Amanda tadi sama ayahnya keluar dulu, dia nangis kalo di dalem. Dan lagian ga bagus juga rumah sakit untuk anak kecil." Jawab Putri.
Alexa menganggukan kepalanya. Dia menggandeng tangan Putri untuk menemui sahabat mereka.
"Astaga, Sindy!!" Teriak Alexa dan Putri saat melihat Sindy terduduk. Dengan cemas nya. Mereka berdua langsung menghampiri Sindy.
"Kamu mau kemana sih, Sindy! Luka kamu masih basah loh, emang ga sakit?!" Sentak Alexa. Dia menyentil jidat Sindy.
"Aduh, sakit tau! orang aku tu mau minum, susah kalo tidur minumnya." Jawab Sindy. Dia mengusap jidatnya yang terkena sambaran dari Alexa.
"Lagian sih!"
__ADS_1