Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu

Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu
KEHAMILAN SINDY


__ADS_3

...SEBELUM LANJUT KE CERITANYA, YUK MAMPIR JUGA KE NOVEL KEDUA AUTHOR. CERITANYA GA KALAH SERU LOH! BURUAN MAMPIR SINI. ...



...----------------...


Seorang wanita cantik tersenyum manis saat melihat testpack ditangannya bergaris dua, Air mata haru menetes saat mendapatkan calon malaikat mungil lagi.


"Nak... Kamu hadir kembali?" Wanita cantik itu mengusap perut ratanya, Dia menyeka air matanya dan langsung keluar dari kamar mandi.


Sindy terduduk di ranjangnya, Dia masih sangat tak percaya dan juga bahagia tentunya. Kehamilannya ini sungguh membuatnya sangat terkejut dan juga bahagia, Sungguh kebahagiaan yang tidak bisa ter jelaskan!


Ya, Wanita cantik yang memegangi testpack itu adalah Sindy. Istri Williams, Saat ini dia sungguh sangat bahagia saat mengetahui kalau dirinya saat ini tengah hamil, Sungguh!


Sindy berdiri dari duduknya, Dia mengambil foto pernikahannya dan Williams. Sindy mengusap foto itu, "Akhirnya, Keluarga kita akan komplit, Kebahagiaan kita akan segera hadir. Buah cinta kita!"


Sindy memejamkan matanya sambil memeluk bingkai foto yang berisikan foto pernikahannya itu dengan Williams.


Terdengar suara ketukan dari kamar Sindy, Sindy membuka matanya.


"Masuk!"


Klek...


Bi Yuni masuk ke dalam kamar Sindy dengan membawakan sebuah amplop putih.


"Permisi Nyonya, Ini dari dokter Irana."


Sindy menerima amplop itu, "Terimakasih Ya Bi."


"Sama-sama Nya, Sekali lagi selamat atas kehamilannya Nya. Kalau gitu saya pamit dulu," Ucap Bi Yuni, Maid pribadi Sindy.


Sindy tersenyum, Dia kembali mengingat bagaimana tadi dia mengetahui kehamilannya.


Flasback on


"Hoek... Hoek..." Sindy menutupi hidungnya saat menghirup aroma parfum suaminya, Dia berlari ke kamar mandi.


Williams yang melihat istrinya berlari langsung menyusulnya, "Kamu kenapa sayang?" Tanya Li dengan cemasnya, Dia memijat tengkuk leher Sindy.


Tubuh Sindy rasanya lemas setelah muntah, Williams menggendong Sindy dan membaringkannya di kasur.


"Mbok... Tolong ambilkan air hangat?"


"Baik Tuan,"


Williams memijat tangan Sindy, "Sayang, Are you okay?"


Sindy tersenyum manis saat melihat wajah cemas suaminya, Dia mengusap wajah tampan Williams. "Aku baik-baik saja honey, Pergilah. Perusahaan membutuhkan kehadiran mu."


"Tap..."


"Aku baik-baik saja sayang, Hanya masuk angin?" Ucap Sindy yang memotong ucapan Williams.


Williams mengecup kening Sindy, "Baiklah kalau begitu aku ke perusahaan dulu, Aku janji akan pulang cepat? Jika ada apa-apa langsung hubungi aku?" Sindy mengangguk, Dia menyalami tangan Williams.


Hari ini memang pekerjaan di perusahaan Ling group sangatlah banyak, Williams harus lembur beberapa hari untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Meskipun dibantu juga oleh Davies, Tetap saja kehadiran Davies tidak ada.


Setelah kepergian suaminya, Sindy merasakan kembali gejolak di perutnya. Dia langsung berlari ke kamar mandi, Sudah beberapa kali dia muntah.


"Aduh Nya, Sebaiknya kita ke rumah sakit saja ya?" Ucap Bi Yuni, Maid pribadi Sindy. Bi Yuni memijat kaki Sindy.


Sindy menggelengkan kepalanya, "Tidak usah Bi, aku baik-baik saja." Tolak Sindy.


Tok...


Tok...


Tok..


"Masuk Mbok,"


Klek...


Mbok Tarmi masuk ke dalam kamar Sindy dengan nampan di tangannya,Nampan itu berisikan Sup dan juga Air hangat. "Permisi Neng," Mbok Tarmi masuk ke dalam kamar Sindy, Dia meletakan nampan itu di meja dekat dengan ranjang.


"Apa masih mual Neng?" Tanya Mbok Tarmi, Sindy menganggukkan kepalanya.


Sedetik kemudian Mbok tarmi tersenyum menatap Sindy, "Neng, Sepertinya akan ada malaikat kecil." Ucap Mbok Tarmi yang membuat Sindy mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Neng Sindy, hamil..."


DEG...


Mendengar itu Sindy syok bukan main, Dia menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Mbok Tarmi. Memang benar akhir-akhir ini dia sering merasakan mual dan juga pusing, tapi saat kehamilan pertamanya Sindy tidak merasakan gejala yang dia rasakan saat ini.


"Ha-hamil?" Mbok Tarmi menganggukkan kepalanya.


"Sok di cek aja dulu pakai testpack,"


Bi Yuni menepuk jidatnya, "Astagfirullah maaf Nyonya saya baru ingat, Gejala Nyonya ini sama seperti saat saya hamil dulu. Bener kata Mbok, Sebaiknya di cek dulu pakai testpack." Ucap Bi Yuni, Sindy mengusap perutnya. Dia akhirnya setuju untuk mengeceknya terlebih dulu dengan testpack.


Sindy takut hasilnya tidak seperti yang dia harapkan, Tapi rasa penasaran tinggi muncul di hati Sindy. Dia menerima testpack yang baru saja dibeli oleh Bi Yuni, Dia masuk ke kamar mandi untuk mengeceknya.


Sindy memejamkan matanya, "Apapun hasilnya itu, Aku ikhlas. Bismillah..."


Setelah mengeceknya dengan beberapa testpack, Sindy menunggu beberapa menit untuk mendapatkan hasilnya.


Dan...


DEG...


Tubuh Sindy bergetar saat melihat dua garis yang tergambar di testpack, Air matanya menetes tanpa di komando.

__ADS_1


"I-ini?" Sindy menatap tak percaya dengan beberapa testpack yang menunjukkan hasil yang sama, Yaitu dua garis!!


Klek...


"Bagaimana nya hasilnya?" Tanya Bi Yuni kepada Sindy yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Sindy menatap Mbok Tarmi dan juga Bi Yuni, Dia perlahan menunjukkan testpack yang tergambarkan dua garis!!


"AAAGHHHH!!!" Bi Yuni berteriak, Dia kegirangan bukan main! Spontan Dia memeluk Sindy.


"Alhamdulillah Nyonya Hamil..."


Sindy membalasnya dengan senyuman manis, Dia menganggukkan kepalanya. "Iya Bi, Aku hamil..." Ucap Sindy yang tak kalah girangnya.


Mbok Tarmi tersenyum, Akhirnya kebahagiaan akan muncul di kehidupan Sindy. Mbok Tarmi kenal Sindy yang sudah sendari dulu menderita, Dan kini kebahagiaan perlahan akan hadir dikehidupan Sindy dan juga Williams.


Flasback of


Sindy masih tak percaya, Dia menatap laporan kehamilannya. Rasanya seperti memenangkan lotre triliunan, Bahagia!!!


Sebuah ide muncul dipikiran Sindy, Dia ingin memberikan sebuah kejutan untuk suaminya. Kebetulan hari ini adalah hari aniversary mereka. "Aku harus cepat menyiapkan hadiah ini," Sindy bangun dari duduknya, Dia mulai membuka lemari pakaian untuk mencari kotak kecil yang sering dia kumpulkan.


Tepat!! Ada sebuah kotak kecil yang sangat lucu, Sindy mengambil kotak itu. "Waktunya memberikan kejutan," Lirih Sindy, Dia mulai menata testpack dan juga laporan hasil kehamilannya di dalam kotak itu.


Setelah cukup pas, Sindy tersenyum manis. "Tak sabarnya melihat reaksimu, Ayo baby kita siap-siap mengejutkan Papa..."


Sebelumnya Sindy sudah memberitahukan kepada semua maid mansion untuk mengikuti rencananya, Dengan tersenyum manis Sindy mulai menjalankan misinya.


Pertama-tama dia mengoleskan betadine/obat merah ke kaki dan juga jidatnya, Terlihat seperti luka!! Sindy tertawa kecil saat membayangkan reaksi Williams.


"Sudah siap?" Semuanya mengangguk, Dan tugas pertama Mbok Tarmi adalah menelpon Williams.


Tring...


Tring...


(Terlpon tersambung, Williams mengangkat telpon dari Mbok Tarmi)


Williams: "Hallo, Ada apa Mbok? "


Mbok Tarmi: "Hallo Tuan.. Anu tuan.."


Williams: "Anu apa Mbok? Ada apa?!"


Sindy terkekeh kecil mendengarkan suara Williams yang mulai naik.


"Neng Sindy Tuan..."


"Ada apa dengan Sindy?!"


Mbok Tarmi menjauhkan telpon dari telinganya saat suara Williams yang cukup keras, "Tuan, Neng Sindy terjatuh dari tangga..."


"APA?!"


"Sekarang Neng Sindy lagi di ruang tamu Tuan, Lagi di urut..." Jawab Mbok Tarmi dengan sedikit tertawa.


Sindy ikut tertawa, Akting Mbok Tarmi cukup diacungi jempol.


"Saya pulang sekarang!"


Tut...


"Hahha!! Buruan kita siap-siap..." Sindy langsung mengambil posisinya, Dan juga sang tukang urut abal-abal yang tak lain adalah salah satu maid baru.


Williams terkejut bukan main saat mendapatkan kabar kalau istrinya terjatuh dari tangga, Pikirannya langsung kacau dia sungguh khawatir!


Disaat rapat, Williams langsung menghentikan rapat ini. Dia meminta maaf karna ada kondisi yang mendesak, Beruntungnya para klien mengerti.


Dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke mansion Ling, Beberapa menit berlalu tak butuh waktu yang lama untuk sampai di mansion.


Sesampainya di mansion, Williams langsung keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam mansion.


"SAYANG..." Teriak Williams yang memanggil Sindy.


Sindy yang mendengar itu langsung berpura-pura meringis kesakitan, "Aduh.... Hiks... Sakit sekali..." ringis Sindy.


"Sayang?" Williams langsung menghampiri Sindy, Wajahnya memekik kaget saat melihat jidat dan juga kaki Sindy lebam.


Williams langsung memeluk istrinya, Sindy. "kenapa bisa seperti ini?!" Tanya Williams, Dia mendongak menatap Sindy.


"Hiks... Tadinya mau olahraga, Tapi malah tersandung dan akhirnya jatuh di tangga... Kakiku sakit sekali honey, Hiks... Jidatku..." Jawab Sindy dengan diiringi isak tangis buaya nya.


Williams langsung menggendong Sindy, Dia berlari keluar mansion dengan membawa Sindy. Sindy memkik kaget saat Williams langsung singgap membawanya ke rumah sakit, Baguslah dengan begitu kejutan akan semakin gampang.


Williams mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat, Dia sangat mencemaskan kondisi Sindy. Terlihat jelas di raut wajahnya, Belum lagi keringat dinginnya.


"Hiks... Sakit sekali sayang..."


"Tahan Sayang, Sebentar lagi sampai..."


Sesampainya di rumah sakit, Williams langsung menggendong Sindy masuk ke dalam rumah sakit.


"Suster.... Dokter..." Teriak Williams, Dia dengan sedikit berlari menuju ke ruang UGD.


Suster langsung bergerak cepat, Mereka menghampiri Williams dan juga Sindy di ruangan UGD.


Williams membaringkan Sindy, "Periksa istriku, Dia terjatuh dari tangga!" Perintah Williams, Dokter dan juga suster mengerutkan keningnya saat melihat kondisi Sindy yang cukup anehh.


"Terjatuh dari tangga?" Williams mengangguk, "Cepat periksa istriku!"


Dokter langsung memeriksa Sindy, Namun dia terhenti dengan menatap Sindy.


Sindy yang mengerti tatapan dari Dokter langsung tersenyum kaku, Dokter menghentikan pemeriksaannya.


"Kenapa cepat sekali, Bagaimana kondisi Istri saya?!" Williams bertanya saat dokter selesai memeriksa Sindy, Dia cukup heran kenapa dokter memeriksa Sindy dengan cepat?

__ADS_1


Dokter tersenyum, Dia mempersilahkan Williams dan juga Sindy untuk duduk di kursi.


Williams membantu Sindy terduduk di kursi, "Jadi bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Williams kembali.


Dokter tersenyum, "Istri anda baik-baik saja Tuan, Bahkan sangat sehat."


Brak...


Williams menggerakkan meja, "Bagaimana dokter bilang istri saya baik-baik saja?! Sudah jelas dia terjatuh dari tangga dan terluka!" Tegas Williams, Dia cukup kesal dengan jawaban dokter yang mengatakan istrinya baik-baik saja.


Sindy cukup kaget, Dia memegangi tangan suaminya dan menyuruh Williams untuk tenang.


"Tenang Tuan, Memang benar istri anda baik-baik saja. Tidak ada luka ataupun apapun itu, Hanya saja sebaiknya periksa ke dokter kandungan."


DEG...


"Dokter kandungan?" Williams mengulangi ucapan dokter, "Kenapa dokter kandungan?" Lanjut Williams.


"Istri anda saat ini sedang hamil Tuan..."


DEG...


Lagi-lagi Williams dibuat terkejut, Rasanya dia terkena serangan bunga...


"Ha-hamil? Yang benar dok?!"


"Ini baru pemeriksaan saya Tuan, Sebaiknya periksakan langsung ke dokter kandungan."


Williams menatap Sindy, "Sayang?" Sindy menggelengkan kepalanya.


Williams langsung membawa Sindy ke ruangan dokter kandungan yang kebetulan ada di rumah sakit ini, Jadi dia langsung membawa Sindy memeriksakan dirinya.


Namun saat membuka pintu ruangan dokter kandungan itu, Williams dikejutkan dengan suara ledakan.


Bummm...


"Selamat menjadi calon orangtua..." Teriak semua orang yang berada di ruangan dokter kandungan. Ada mbok Tarmi dan juga Bi Yuni di dalam sana, Williams langsung menurunkan Sindy.


Dia menatap Mbok tarmi yang memberikannya sebuah kotak, Williams menerima kotak itu dan langsung membukanya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah testpack yang bergaris dua serta sebuah surat, Williams membuka surat itu dan ternyata hasil laporan kehamilan Sindy istrinya!!


Tubuhnya melorot, Dia terjongkok lemas. Rasanya sangat bahagia, Dia mendongak menatap Sindy.


Sindy mengangguk, "Aku hamil sayang..." Ucap Sindy yang membuat Williams langsung berdiri dan memeluknya.


Williams menangis haru dalam pelukan Sindy, Sindy membalas pelukan Williams. "Welcome Papa..." Bisik Sindy di telinga Williams.


"Sejak kapan?" Tanya Williams, Dia sangat bahagia sampai terus menghujani Sindy dengan beberapa ciuman.


"Sejak tadi honey, Aku juga baru mengetahuinya. Tapi baby ini sudah 2 minggu hadir," Jawab Sindy yang langsung mendapatkan pelukan hangat dari Williams.


"Sungguh! Kamu membuatku hampir terkana serangan jantung!" Sindy terkekeh kecil.


Sindy mengalungkan tangannya ke leher Williams, "Maafkan aku suamiku..." Cup! Sindy mengecup bibir tebal Williams.


"Kamu bahagia sayang?" Lanjut Sindy yang bertanya apakah Williams bahagia dengan kehamilannya ini?


Williams menyentil kening Sindy, "Apa kamu bodoh? Tentu saja aku bahagia! Bahkan sangat bahagia...." Sahut Williams.


Cup...


Williams mengecup kening Sindy dengan lama, Dia mendongak menatap wajah cantik istrinya.


"Terimakasih sayang, Terimakasih karna kamu sudah memberikan hal yang sungguh sangat berharga lebih dari apapun itu. Aku sangat bahagia,"


Berita kehamilan Sindy langsung tersebar luas, Bahkan kini orangtua Williams langsung meluncur ke Indonesia untuk menemui Sindy dan juga Calon Cucu mereka.


Keluarga Sindy dan juga Williams berkumpul di mansion, Bahkan Putri, Ardi dan juga Baby amanda hadir di acara syukuran.


Sindy melakukan video call bersama Alexa, Alexa tersenyum bahagia mendapatkan kabar kalau sahabatnya Sindy saat ini sedang hamil.


"Selamat ya bestie.... Akhirnya baby ku akan hadir lagi, Jaga kesehatanmu.... Maafkan aku yang tidak bisa mengucapkan selamat secara langsung?" Ucap Alexa di balik video call.


Sindy menyeka air matanya, "Terimakasih Al, Sungguh... Hiks... Do'akan saja, Semoga kamu cepat kembali dan kita bisa berkumpul kembali... Kami merindukanmu Bestie..."


Alexa tersenyum haru, Dia ikut meneteskan air matanya.


Cukup lama Alexa dan juga yang lainya mengobrol lewat panggilan video call, Dia tertawa bahagia dengan tingkah dan cerita Sindy yang memberikan kejutan kehamilannya dengan drama.


Alexa menggelengkan kepalanya, "Sudah ya, Twins menangis terus nih... Jaga diri kalian baik-baik..."


"Kaupun Al..."


Tut...


Sindy memutuskan panggilan video call itu, Dia beralih bergabung bersama suaminya.


Williams memeluk Sindy, "Terimakasih sayang, Aku sungguh sungguh bahagia.."


Williams berjongkok tepat dengan perut rata Sindy, Cup! Williams mencium perut rata Sindy.


"Terimakasih sudah hadir kembali sayang, Maafkan Papa yang dulu. Sekarang Papa tidak akan membiarkan kamu pergi lagi, Papa menyanyangi kalian..."


...----------------...


Hay hay hay, Salam hangat dari author. Gimana nih seru ga? Part Sindy dan juga Williams?


Mohon terus dukung dan support karya ini dengan cara:


LIKE+KOMEN AND VOTE!!!


RATE BINTANG LIMA UNTUK YANG BELUM!!!


bunganya juga🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2