
...SEBELUM LANJUT MEMBACA, author mohon dukungannya. Berkomentarlah walaupun hanya sedikit, Jadilah pembaca aktif. jangan menjadi pembaca ghoib yang tidak berkomentar ataupun menglike. ...
...BUAT YANG BELUM FAV KAN NOVEL INI, SILAHKAN FAV KAN AGAR TERDAPAT NOTIF UPDATE. ...
...SELAMAT MEMBACA...
Sindy saat ini sedang berada di sebuah butik dengan kedua sahabatnya, Alexa dan juga Putri. Ketiga wanita cantik itu sedang memilih beberapa gaun untuk mereka, Tentu yang istimewa untuk Sindy.
"Sin, Apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu itu?" Tanya Putri. gerakan tangan Sindy yang tengah memilih gaun itu langsung terhenti.
Dia berbalik menatap Sindy, "Apa maksud mu Put?" Tanya balik Sindy.
"Sin, Aku tidak mau kamu membohongi perasaanmu sendiri. jujurlah pada hatimu Sin, Siapa yang ada di hati dan pikiranmu. jangan sampai suatu saat nanti, Kamu salah mengambil keputusan."
Mendengar itu, Sindy langsung terdiam. memang benar kalau akhir akhir ini hatinya diserang kebingungan serta kerinduan kepada sosok yang selalu mengisi pikirannya.
Apa lagi akhir-akhir ini sikap lelakinya itu mendadak dingin kepadanya, Tak ada lagi yang menanyaka kabar ataupun sekedar basabasi saja.
Putri yang melihat sahabatnya menundukan kepalanya, Dia langsung merangkul pundak Sindy. "Sudah, Jangan dipikirkan. apapun keputusanmu, Aku akan terus mendukungmu."
"Ayo sebaiknya kita lanjutkan, Lihatlah Alexa sudah jauh.." Keduanya tertawa saat melihat Alexa yang terus berjalan sambil melihat-lihat gaun gaun yang ada disampingnya.
Sindy melanjutkan kembali memilih gaun untuk nya, Dia mengambil beberapa gaun yang menurutnya pas dengan tubuhnya.
Sindy mencoba gaun gaun itu namun tidak ada yang cocok, Dia tidak terlalu suka dengan gaun yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Alexa menghampiri Sindy dengan sebuah gaun yang berada di tangannya.
"Sepertinya ini cocok untukmu Sin?" Alexa mengambil gaun abu-abu yang cukup elegan, Dia memberikannya kepada Sindy.
Sindy menerima gaun itu.
"Cobalah," Sindy menangguk dia menuju ke ruang ganti untuk mencoba gaun itu, Alexa dan Putri menunggu diluar sambil melihat lihat lagi gaun cantik-cantik yang lainnya.
Tring...
Pintu butik terbuka menampakkan sosok Davies yang masuk kedalam butik ganti seorang laki-laki tampan, Kedatangan keduanya pas dengan Sindy yang keluar dari ruang ganti dengan terbalut gaun cantik itu.
DEG...
Langkah kaki Williams mendadak terhenti saat melihat sosok wanita yang sudah membuat hatinya gelisah, Wanita yang sungguh cantik. Tanpa sadar dia mulai melangkah menghampiri wanita cantik itu.
"Cantik," Satu kata yang terus keluar dari mulut Williams.
Senyuman manis Sindy mendadak lenyap saat seseorang tiba-tiba saja langsung memeluknya, Dia langsung kaget saat tau siapa yang memeluknya itu.
__ADS_1
Semua orang mendadak langsung terdiam menyaksikan itu.
"SINDY!!!"
DEG...
Sindy langsung mendorong tubuh Williams.
"Oh jadi gini kelakuan busukmu hah? Pantas saja kamu sudah tidak suci! Cih menjijikan!" Ucap seorang wanita paruh baya dengan sedikit berteriak, Tentu itu menarik beberapa pelanggan untuk melihat keributan itu.
Sindy menghampiri wanita paruh baya itu, Dia memegangi tangan calon ibu mertua nya itu."Bu, ini-ini tidak seperti yang ibu lihat..."
Dengan singgap Wanita paruh baya itu menghempaskan kasar tangan Sindy, Dia mengusap tangannya yang tadi di pegang oleh Sindy dengan menggunakan tisu basah.
"Tidak seperti yang aku lihat? Heh! Terus apa yang saya lihat tadi hah? Menjijikan!"
"Entah apa yang kamu berikan kepada putraku sehingga dia tetap kekeh ingih menikahi mu, Wanita kotor! Bahkan kamu membiarkan laki-laki lain memelukmu. Cih!" Lanjut Wanita paruh baya itu, Dia mendorong tubuh Sindy untuk menjauh. Dorongan itu membuat Sindy sedikit terjungkal.
Hap! Williams menahan tubuh Sindy yang hendak terjatuh, Tatapan tajam dia layangkan ke wanita tua itu.
"Lihatlah ibu-ibu, bisa di lihat bukan? Wanita seperti apa dia!"
Huh....
Huh...
Sahutan semua yang melihat itu, Beberapa orang ber bisik-bisik. Sindy di permalukan dihadapan banyak nya pengunjung toko.
"Dasar pela..."
"IBU!" Teriak Sindy.
"Beraninya kamu meneriaki aku hah?!" Wanita tua itu mengangkat tangannya yang hendak menampar Sindy, Namun terlebih dulu Williams menahan tangan itu.
Dia meremas tangan itu membuat wanita paruh baya itu meringis kesakitan, "Lepaskan tanganku sialan!"
"Jangan pernah sekalipun tangan kotormu ini menyentuh wanitaku! Jika kamu berani menyentuh wanitaku, Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan tangan menjijikan mu ini! Miris sekali anda Nyonya, Anda dari keluarga terhormat dan juga bermartabat. Tapi attitude nyonya sungguh diluar itu semua, Menjijikan!!"
Wajah yang tadi menyeramkan kini langsung hilang tergantikan dengan wajah ketakutan, Williams melepsskan tangan wanita paruh baya itu.
"Dan satu lagi, Jangan pernah sekalipun mulut busuk mu ini mengatakan hal seperti itu lagi! Aku akan memotong lidah mu jika berani merendahkan wanitaku!" Williams menarik tangan Sindy untuk menjauh, Sindy berganti pakaiannya.
Niatnya ingin mempermalukan justru malah dia yang terpermalukan dengan ulahnya sendiri, Semua orang yang berkumpul langsung dibubarkan oleh keamanan. Davies tersenyum melihat sikap sahabatnya tadi, Sedangkan Alexa dia sungguh geram dengan calon ibu mertua Sindy itu.
"Untung saja aku tidak mempunyai ibu mertua spek nenek lampir lagi," Celetuk Alexa yang membuat Davies tertawa.
__ADS_1
***
"Apa maksud anda mengatakan itu hah? Jangan mencampuri urusanku!"
"Karna aku mencintaimu, Aku tidak mau melihat wanitaku dipermalukan seperti itu." Jawab Williams.
Sindy terkekeh, Dia tersenyum miring. "Saya dipermalukan seperti itu karna ulah anda tuan! Apa anda lupa hah?! Persetan dengan semua itu, Iblis seperti anda tidak akan pernah mengingat itu."
Bukannya marah justru Williams malah tersenyum kecil, "Lupa? Aku bahkan sampai saat ini masih meraskan gundukan kenyal itu."
Blush..
Sindy langsung malu, Dia menutupi dada nya. "Sialan!" Teriak Sindy, Dia langsung pergi dari hadapan Williams.
Sindy terus berjalan tanpa mendengarkan panggilan dari Williams, Sampai akhirnya Williams menarik tas Sindy yang membuat Sindy langsung terjungkal kebelakang.
Bruk...
Tubuh Sindy tepat dengan dada bidang Williams, Dia langsung memeluk Sindy.
"Maafkan aku..." Lirih Williams ditelinga Sindy.
"Aku tau perbuatanku sungguhlah salah, Tidak pantas dimaafkan. Tapi aku mohon, Berikan aku satu kesempatan terakhir untuk memperbaikinya. Aku mohon Sin, Aku mencintaimu... Aku tidak akan pernah sanggup melihat dirimu menjadi milik orang lain, Sungguh itu sangat menyakitkan Sin. Aku menyesal, Aku mohon... Maaafkan aku..."
DEG...
Jantung Sindy rasanya berhenti mendetak, Dia menatap kosong saat mendengar ucapan dari Williams. Begitu tulus, Diringi dengan isakan tangis.
Perasaan Dejavu dirasakan oleh Sindy, Dia menutup matanya saat air matanya tidak bisa ia kendalikan.
"Ohhh... Ternyata benar yang dikatakan oleh ibu!"
DEG..
[Hayoh pada setuju ga kalo Sindy sama Li? atau lebih baik Sindy terpisah dengan Li? yuk beri tanggapan kalian!! ]
...----------------...
Waduh siapa ya itu? Yuk terus dukung dan support karya ini. Berilah sedikit dukungan untuk author agar semangat menulisnya, Berkomentar apapun itu mau komen Next itu pun Author Terima.
Mohon dukungan serta support nya untuk karya ini dengan cara:
LIKE+KOMEN+VOTE!
BUNGA JUGA🌹🌹🌹
__ADS_1