
Sesampainya di kawasan apartemen elite, Williams Memarkirkan mobilnya dan langsung menarik tangan Sindy untuk keluar dari dalam mobil.
"Lepass!!!" Sekertaris Li langsung mengangkat tubuh Sindy dan menggendongnya, Tanpa memperdulikan rontaan dari Sindy, Dia terus berjalan masuk ke dalam apartemen nya.
Sampai di depan pintu apartemen, Williams menurunkan Sindy namun dia menahan dengan memeluk pinggang Sindy. Klek... Pintu apartemen terbuka, Dia langsung membawa Sindy ke dalam.
Brak... Williams menutup pintu apartemenya dengan kencang, Dia beralih ke Sindy yang berjalan mundur. "Jangan mendekat!" Keringat dingin keluar saat Sindy melihat Williams melonggarkan dasi nya.
Situasi yang membuat gugup Sindy, Dia lupa bahwa Williams adalah laki-laki normal, Sindy sungguh mengerutuki kebodohannya. Sekarang dia melupakan itu, Yang dia pokuskan bagaimana caranya keluar dari apartemen mewah ini.
Sekertaris Li membuka jas nya, Dia melonggarkan kerah kemeja nya. Williams mengambil air minum dari kulas, dia menegak habis minuman itu dan duduk di sopa.
Saat melihat Williams yang nampak terdiam, Sindy langsung bergegas menuju pintu apartemen, lagi lagi otaknya ini sungguh pea! Dia tidak tau pasword pintu ini. Dia berbalik menatap Williams yang ternyata sudah ada tepat dihadapannya.
"Kyakkkkkk!!!!" Sindy berteriak saat merasa tubuhnya melayang, Williams menggendongnya!
"Lepasss!!!!"
Bruk...
Bruk...
Sindy memukul dada bidang Williams namun itu tak membuat Sindy terlepas dari Williams, Matanya membulat saat Williams kembali menciumnya, Menyesap seluruh rasa yang ada dibibirnya.
"Euuhhmmmm!!!" Sindy mengerang saat Williams mengigit bibirnya, Air matanya lolos dia sungguh sangat sangat menjijikkan karna sudah diperlakukan seperti ini.
Tanpa ba bi bu, Williams menaruh tubuh mungil itu ke kasur nya, Dia langsung menindih tubuh itu. "Hiksss... Lepaskan!!! Lepaskan... Bajing@n!!!" Sindy meronta ronta dengan kaki dan kedua tanganya, Williams bangkit dia mengambil dasi dari lacinya.
Sindy segera bangkit, Namun saat baru saja berdiri, Williams kembali menarik kaki Sindy yang membuatnya kembali ke dalam kungkuhan Williams.
Dia menarik tangan Sindy dan meletakanya di atas kepala, Tak lupa dia mengikatnya. Entah apa yang merasuki Williams, Dia menarik kemeja yang dikenakan Sindy hingga kancing kancing berserakan. Sindy berteriak dia mencoba kembali melawan namun tetap saja dia tak bisa lolos.
__ADS_1
"Aaaakkkhhhhh!!!" Teriak Sindu saat Williams menyesap kuat sesuatu, Sindy menangis kembali, "Lepaskan!! Hiksss... Aku mohon Li... Lepaskan aku..." Sindy memohon dia menatap mata Williams yang sudah dihalangi kabut gairah.
"Euummhmm!" Williams kembali mencium bibir Sindy, Lebih kasar dari yang tadi. Tanganya tak tinggal diam, Dia bergerak di yang lainya membuat Sindy semakin meneteskan air matanya.
"AKU MEMBENCIMU WILLIAMS!" Teriak Sindy saat Williams melepaskan ciuman itu, Dia meludahi wajah Williams namun Williams menelan ludahnya itu. Dia menampar wajah Sindy, "Kenapa kamu seperti ini? Cih! Kelakuanmu seperti akan kehilangan perawan saja!" Ucap Williams, Dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Semenit berlalu, Sindy tak mampu lagi melawan Williams. Tenaga mereka berbeda jauh, Bak mimpi buruk Sindy melihat sesuatu yang panjang. Dia menggelengkan kepalanya saat Williams mengarahkan cacing itu kedalam goa suci.
"Tidak... Tidak....Aaaaghhhhh!!!" Sindy memekik sakit sungguh sangat sakit, Dia manarik serpai saat merasakan sesuatu mendesak masuk.
Williams menatap wajah Sindy, Ada rasa aneh di hatinya, Kenapa sulit masuk? Williams menggelengkan kepalanya dia pikir mungkin miliknya terlalu besar, Dia mencoba kembali menghentakanya masuk ke dalam.
Dan....
Bluss.... Miliknya masuk dengan sempurna setelah tiga kali hentakan, Sindy lagi lagi berteriak sakit.
"AAAGHH!!! SAKITTTT!!"
Matanya membelalak saat melihat sesuatu mengalir berwarna merah, "Sin? Oh my gosh she's a virgin!?" Kaget Williams saat tau bahwa Sindy masih Virgin!.
Gerakan pelan namun sangat membuat Sindy memekik, Tanpa sadar Williams memejamkan matanya dia kembali bergerak, Gerakan itu perlahan-lahan semakin kencang bahkan sangat kencang membuat tubuh Sindy tergoncang kencang.
Sudah beberapa jam yang dilewatakan, Namun belum ada tanda tanda laki-laki itu akan tumbang. Wajah yang sungguh sangat menikmati, namun berbeda dengan wajah Sindy, Dia menatap Williams, Williams melihat itu dan langsung mengecup bibirnya. "Aku akan menyelesaikannya sayang..." Sekertaris Li kembali bergerak dan semakin kencang hingga....
"Aaaaagggghhhh!!!" Erang panjang Williams dia menumpahkan lahar panasnya di dalam, Rasa lega menyelimuti Williams dia langsung ambruk di dekat Sindy. Tak lupa Williams mengecup kening Sindy dan memeluknya, Karna efek minuman, Dia langsung tertidur.
Sindy tak tidur, Dia manangis keras dia sungguh sangat bod0h karna membiarkan Williams mengambil hal berharga dalam dirinya, Dia memukul mukul dadanya. Sungguh tak bisa ia bayangkan, Sindy masuk ke dalam kamar mandi dia membersihkan tubuhnya.
Tak butuh waktu yang lama, Dengan susah payah Sindy berjalan dia mengambil Kemejanya namun sudah rusak, Dia beralih ke kemeja Williams. Sindy mengambil itu dan mengenakannya, Dia menatap Williams yang terbaring. "Aku membencimu Williams! Aku tidak akan memaafkanmu!" Setelah itu, Sindy keluar dari apartemen Williams. Tentu dia sekarang sudah tau pasword pintu itu, Karna Williams memberitahukannya.
Melihat wanitanya pergi, Williams tersenyum. "Maafkan aku Sin, Aku mencintaimu dan aku mau kamu menjadi miliku!"
__ADS_1
***
Sindy pulang ke hotelnya, Dia langsung menangis kembali dia menyikat tubuhya yang banyak noda yang ditinggalkan oleh Williams.
"Hiksss... hiksss... kenapa tidak bisa hilang!" Sindy menyikat tubuhya dengan keras hingga timbul merah merah, Dia terjatuh dan kembali menangis.
Sepanjang malam, Sindy menangis di dalam kamar mandi. Entah apa yang akan dia bilang kepada kedua orangtuanya, "Aku kotor..." Lirih Sindy...
Sekitar pukul 3 pagi, Sindy kembali ke kamarnya dia mengambil ponselnya. Dia memblokir kontak Williams, Sindy mengirimkan pesan kepada kedua sahabatnya.
Yang pertama kepada Davies, "Permisi Tuan, Maaf Menganggu Tuan. Saya mau resign dari kantor. Saya sudah memberikan surat pengundura diri ke HRD," Isi pesan Sindy yang dia kirim ke Nomor Davies.
Setelah itu Sindy mengirimkan pesan ke grup chat nya bersama dengan kedua sahabatnya, "Haii beby, Maafkan aku ya. Aku harus mendadak pergi kampung, Bapak menghubungiku dan aku harus kesana. Maafkan aku karna tidak memberitahukannya secara langsung, Bayee semoga kalian berdua bahagia ya..."
Setelah itu Sindy mencopot kartu yang ada di ponselnya, Dia memb@nting ponsel itu dan menginjaknya hingga rusak. Dia beralih kedalam koper, Sindy memasukan barang barangnya ke dalam koper.
Tak lama Sindy cek out dari kamar hotelnya, Dia langsung memesan tiket pesawat menggunakan ponsel yang baru saja dia beli tadi.
"Aku kotor..." Kata itu lah yang kembali hadir di dalam diri Sindy.
...----------------...
Hay salam hangat dari author, Seperti biasa author minta untuk terus mendukung dan meng suport karya ini. jika kalian melihat karya ini muncul di beranda, Beritahukan Othor ya.
yuk mampir ke novel Temen temen ku, Ceritanya tak kalah seru loh. ayukk mampir sini
Mampir juga sini,
__ADS_1
LIKE+KOMEN+VOTE!!
BUNGA JUGA🌹🌹🌹