
"Ada apa sayang? kenapa kamu tersenyum?" Davies bertanya saat melihat istrinya Alexa yang tersenyum.
"Ah ini suamiku, Pertunangan Sindy batal. aku senang karna batalnya pertunangan itu." Jawab Alexa, Ya memang pembatalan pertunangan Sindy tersebar luas.
Davies mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu begitu senang dengan batalnya pertunangan Sindy?"
Alexa menghampiri Davies, Dia duduk di pangkuannya. "Suamiku, Kamu tau kan bagaimana orangtua Fahri? Aku tidak mau sahabatku merasakan apa yang aku pernah rasakan. Mangkanya aku senang saat pertunangan itu batal."
"Hmmm sudah jangan terlalu ikut campur, Ingat ada baby disini." Davies mengusap perut Alexa yang mulai membuncit.
Cup! Alexa mengecup bibir tebal Davies, Dia menggigit kecil di bibir Davies.
"Akh... sayang!" Davies mendessah kecil saat kucing kecilnya itu mulai aktif.
Davies menggendong tubuh Alexa, Dia membawanya ke dalam kamar.
***
Seperti yang di ucapannya kemarin, Williams kini sudah siap untuk bertemu dengan sang pujaan hatinya. Dengan cintanya yang begitu besar, Williams akan berusaha mendapatkan maaf dari wanita yang dia cintai.
Mendapatkan maaf dari mereka pasti akan sulit, Namun Williams akan tetap berusaha mendapatkan maaf itu.
__ADS_1
Setelah mengabari Davies, Williams langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia menjalankan mobilnya menuju bandung.
Sesampainya di bandung, Williams langsung menuju alamat rumah bude Sindy. Kedatangan mobil Williams tentu menjadi pusat perhatian.
Williams memarkirkan mobilnya tepat di halaman sebuah rumah sederhana dengan kondisi yang bersih tentunya.
Williams keluar dari mobil tepat dengan seorang wanita paruh baya. Williams menghampiri wanita paruh baya itu, Dia menyalami tangan wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Bude Rie.
"Sareng saha?" Tanya Bude Rie dengan menggunakan bahasa Sunda. Williams mengerutkan keningnya karna tidak paham dengan itu.
Bude Rie tertawa kecil. "Siapa kamu? Dan kenapa kamu kemari?"
"Saya calon suaminya Sindy, Bude." Jawab Williams dengan tersenyum.
Tatapan Williams beralih ke sebuah foto-foto wanita kecil yang manis, Dia mengambil bingkai foto yang berisikan foto masa kecil Sindy.
"Mau Bude buatkan kopi? teh?"
"Tidak usah repot repot Bude, Sindy nya mana?"
"Sindy ke pasar, sudah tidak merepotkan kok. tunggu sebentar ya?" Williams mengangguk, Dia duduk di sopa.
__ADS_1
Sambil menunggu, Williams memainkan ponselnya.
Sedangkan itu Sindy dan juga Maria yang baru saja kembali dari pasar, Keduanya dibuat heran dengan mobil yang terparkir di halaman rumahnya itu. "Kamu bawa mobil nak?" Tanya Maria kepada Sindy.
Sindy menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, Sindy tidak bawa mobil."
Saat hendak masuk ke dalam, Keduanya dibuat heran dengan siapa yang sedang duduk di sopa? Bude Rie datang dengan segelas kopi.
"Nah itu Sindy," Sahut Bude Rie yang membuat Williams menoleh ke belakang.
DEG...
Sindy terdiam seribu bahasa saat melihat siapa laki-laki dihadapannya ini, Wajah Maria mendadak langsung memerah.
"Untuk apa kamu kesini hah?!" Teriak Maria. Meskipun ingatanya sedikit terganggu, Tapi Maria tidak akan pernah lupa dengan perbuatan laki-laki bejad dihadapannya ini.
Williams bangkit dari duduknya, Dia menghampiri Maria dan bersujud di hadapannya. Sindy yang melihat itu sedikit tercengang.
"Maafkan saya tante, Saya tau perbuatan saya dulu sangatlah fatal. tapi kali ini izinkan saya untuk memperbaiki semuanya." Lirih Williams.
Maria menatap tajam ke arah Williams, "Apa permintaan maaf mu itu bisa mengembalikan suami saya hah?! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan mu!" Maria menyingkirkan tubuh Williams, Dia langsung masuk ke dalam kamarnya
__ADS_1
Brak...