
"Serius?"
"Iya, aku serius lah. Si Nabila itu masuk rumah sakit."
"Tapi kenapa bisa sampe seperti itu?" Heran Putri, Kedua wanita cantik itu tengah membicarakan hal yang terjadi kepada Nabila.
Sindy menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau dengan jelas, Tadi Sekertaris Li hanya bilang Nabila masuk rumah sakit."
"Terus sekarang kamu mau kemana Sin?" Tanya Putri.
Sambil memasukan barang bawaanya, Sindy menatap Putri. "Kita harus ke mansion."
Kedua sahabat Alexa itu bergegas menuju mansion.
Sedangkan di mansion, Semua orang di kumpulkan di aula. Sambil memeriksa rekaman CCTV, Sekertaris Li mengintrograsi beberapa maid dan juga pegawai lainya.
"Apa kalian tidak melihat sesuatu yang mencurigakan?"
"Tidak Tuan, Kami sibuk dengan pekerjaan kami." Jawab semua pegawai,
Williams merasa ada yang janggal, Pasalnya rekaman di dapur kenapa tidak ada?
Sekertaris Li menyuruh semuanya untuk bubar, Dia memanggil mbok Tarmi. Mbok Tarmi mengikuti Sekertaris Li ke ruang kerja Davies,
"Mbok tau apa yang mau aku tanyakan?"
Mbok Tarmi mengangguk.
Dia memberikan Sekertaris Li sebuah kertas yang tergulung, Sekertaris Li yang menerima itu dia mengerutkan keningnya.
"Nyonya muda sangat baik, Nyonya muda pernah menyelamatkan anak Mbok. Sebagai rasa balas budi, Mbok sudah menyalin rekaman CCTV di dapur. Maaf mbok lancang tapi ini untuk keadilan"
Sekertaris Li langsung membuka gulungan kertas itu, Sebuah potongan kecil obat yang ada di dalam gulungan kertas itu. Sekertaris Li langsung memeriksa rekaman yang diberikan oleh Mbok Tarmi, Terlihat dengan jelas siapa yang mau menyelakai Alexa.
Brak...Pintu ruang kerja Davies terbuka keras, terlihat seorang wanita cantik yang berbalut jas itu menghampiri Sekertaris Li dengan deru nafas kencang.
"Hah... Hah... Capek..."
Wanita cantik itu langsung menjatuhkan bok0ngnya di sopa, Dia memejamkan matanya sejenak. Williams yang melihat itu, Dia tidak memperdulikannya, Williams berlanjut memeriksa rekaman.
"Mbok lanjutkan pekerjaan Mbok, Bila ada yang menanyakan soal ini. Bilang saja mbok membersihkan ruang kerja Tuan Dav."
"Baik Tuan, Kalau gitu si mbok pamit."
Setelah Mbok Tarmi pergi, Williams menyuruh Sindy untuk memperjelas rekaman CCTV ini, Sindy langsung Memperjelas itu dan...
Brak.... Sindy menggebrak menja saat melihat siapa dalang dibalik kejadian ini, Jika Nabila tidak memakan itu, Bisa saja kini Alexa yang menjadi korban.
"Salin rekaman ini, Bukti ini tidak akan kuat."
"Bisa bisa nya dia seperti itu," Gumam Sindy, Dia langsung menyalin ulang rekaman CCTV itu
Tanpa sadar jarak antara Williams dan juga Sindy cukup dekat, Bahkan kini Williams biss merasakan deru nafas Sindy.
"Pa..." Sindy terkejut saat melihat Sekertaris Li tepat berada di hadapan wajahnya, Spontan detak jantung Sindy berdetak cepat.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya sekertaris Li
Pertanyaan itu membuat Sindy tersadar dari lamunannya. Dia langsung menggelegkan kepalanya.
Ya, Wanita yang tadi datang ke ruangan kerja Davies adalah Sindy. Dia dan juga Putri sampai di mansion, Sindy langsung menuju ke Sekertaris Li sedangkan Putri membantu membereskan bukti makanan yang tadi di makan oleh Nabila.
"Bagaimana?" Tanya Putri saat melihat Sindy dan juga Sekertaris Li menuruni tangga, Sindy menggeleng.
"Tidak ada apapun,"
Tatapan dari Sindy membuat Putri ikut menghela nafasnya, Seola sudah paham apa yang akan Sindy sampaikan.
"Perketat keamanan mansion, Saya mau menyusul Tuan Dav."
Keamanan mansion diperketat oleh Sekertaris Li, Banyak bodyguard yang menjaga di setiap penjuru mansion.
Sekertaris Li langsung menuju ke rumah sakit yang tengah menangani Nabila, Selama perjalanan cukup hening. Namun spontan Putri memanggil Sindy dengan sedikit berteriak.
"Ada apa Put?" Putri memberikan ponselnya, Sindy langsung melihat ponsel Putri yang terdapat sebuah berita yang membuatnya cukup terkejut.
"Ada apa?" Tanya Sekertaris Li
Sindy menggelengkan kepalanya, "Tidak ada apa apa, Ini hehe ada diskon."
"Cih!"
Sindy mengembalikan ponsel Putri, Dia mengetik ponselnya dan mengirimkan Putri sebuah pesan.
Dari arah sepion Putri mengangguk paham.
Sedangkan itu, Nabila sudah melewati masa kritisnya. Namun keadaanya masih sangat lemah, semuanya berkumpul di ruang rawat Nabila tentu dengan bayinya.
Lahir prematur membuat bayi itu harus bergantungan dengan beberapa selang.
Klek... Pintu ruangan terbuka menampakan Sekertaris Li dengan beberapa makanan yang dibawanya.
"Ini Tuan," Sekertaris Li memberikan kotak makanan itu, Davies memberikan dua kotak kepada Niko dan juga Dewi. Dia memberikan satu kotak kepada Alexa.
"Makanlah,"
Karna lapar juga, Niko memakan itu, Dewi pun memakan itu.
"Papa tidak makan?" Tanya Alexa
Davies menggelengkan kepalanya, "Aku tidak lapar sayang, kamu makanlah."
"Tuan, Ada beberapa berkas yang memerlukan tandatangan Tuan." Davies mengangguk, Dia langsung keluar dengan sekertaris Li.
Sindy dan juga Putri menghampiri Alexa, "Kamu baik baik saja Al?"
Alexa tersenyum, "Hmm ya aku baik baik saja,"
Sindy melihat ke arah Dewi, "Kamu tau Al? Kata Nenek ku dulu. Jangan menggali lubang yang akan menguburkanmu."
"Dan juga karma itu akan berjalan lebih dari apa yang diperbuatnya, Karma tidak akan pernah salah alamat." Ucap Sindy yang membuat Dewi tersedak
__ADS_1
Alexa yang melihat reaksi Dewi, Dia tersenyum sinis.
"Ada apa Bu? Apa perlu aku ambilkan air?"
"Sepertinya istri tua suamimu ini membutuhkan air," Timpah Putri
Alexa langsung mengambil segelas air, Dia berjalan menghampiri Dewi namun tanpa sengaja Alexa menjatuhkan air itu tepat di wajah Dewi.
"ALEXA!!!"
"Ups, Maaf Bu aku tadi kesandung. Yah basah deh,"
Dewi menatap kesal ke arah Alexa, mantan istri anaknya yang kini menjadi istri suaminya.
"Nyonya apa anda perlu baju baru? Ahh aku rasa aku tidak bisa meminjamkan bajuku. Bajuku terlalu wangi,"
Niko yang melihat ibunya diperlakukan seperti itu, Dia memilih meninggakkan ruangan ini.
Setelah melihat Niko sudah menjauh, Sindy menghampiri Dewi dan
Byur... Sindy mengguyur Dewi dengan segelas air, "Itu untuk menyadarkan otak Dan pikirianmu Nyonya."
"KALIAN BERTIGA INI, BISA GA SOPAN SEDIKIT HAH!"
"Emmm maaf, Haha"
"Inget karma akan segera menghampiri mu,"
Sindy, Alexa, Dan juga Putri keluar dari ruang rawat Nabila, Baju Dewi sudah sangat basah dia mengeram kesal.
"Alexa sialan!"
***
"Bagaimana Li?"
"Tuan, Dari rekaman itu sudah cukup jelas. Apa kita langsung menjebloskannya?"
"Jika hanya rekaman itu saja, Tidak akan menjadi bukti yang kuat. jadi Jangan! Tunggu waktu yang pas, Biarkan dia menikmati akhir akhir kehidupan mewahnya ini."
"Simpan baik baik rekaman itu Li,"
"Baik Tuan,"
...----------------...
Hay salam hangat dari author, Mohon maaf bila ada banyak kata yang salah. sebaiknya kalian berkomentar saja biar author perbaiki, Dan tidak perlu melaporkannya. author masih pemula dan belum memahami banyak kosah kata, Di mohon untuk para pembaca jangan asal melaporkan.
NOTE: BILA ADA KATA ATAU FOTO YANG TIDAK PANTAS, SEBAIKNYA KALIAN BERKOMENTAR AGAR AUTHOR MEMPERBAIKINYA. MOHON UNTUK KERJA SAMANYA🙏
Terus dukung dan support karya ini dengan cara,
LIKE+KOMEN+VOTE!!
BERI BUNGA juga🌹🌹
__ADS_1