Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu

Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu
DASAR BUCIN!


__ADS_3

Ketiga laki-laki tampan itu sampai di sebuah pasar tradisional, Mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir cantik di area parkiran.


Davies menutup hidungnya saat mencium aroma menyengat yang masuk ke dalam hidungnya, "Oh astaga! Aku tidak kuat!!" Sentak Davies sambil menutup hidungnya.


Bruk...


Williams menepuk pundak Davies, "Jangan lebay! Sudah ayo beli bahan-bahan ini!" Ajak Williams.


Dengan malasnya, Davies mengikuti Ardi dan juga Williams yang masuk ke dalam pasar. Suasana dipasar cukup ramai, Banyak yang berdesak-desakan.


"Li, Aku tunggu di mobil saja!" Ucap Davies yang hendak balik ke mobil.


Namun saat satu langkah, Williams mengangkat telpon yang membuat langkah Davies terhenti.


"Hallo Alexa?" Williams melirik Davies, "Tidak, Dav... Uhmm!" Ucapan Williams terhenti karena Davies membekap mulut Williams dengan tangannya.


Davies menatap tajam ke arah Williams. "Sudah bosan hidup Li?"


Williams memutar bola matanya malas, Dia menarik tangan Davies untuk ikut bersamanya ke tempat sayuran.


Kedatangan ketiga laki-laki tampan itu tentunya langsung menjadi objek para emak-emak yang sedang membeli sayuran.


"AAAAAGHHH LIMINHOOOO!!!"


"PARK SOOJUNG!!! AHHHH!!!"


"OPPAAAAA..."


Teriak para emak-emak yang berlalu langsung menghampiri Davies, Williams dan Ardi.


Davies memekik kaget saat pasukan ibu-ibu mengerumuninya. "ASTAGA!! MENYINGKIRLAH!!" Sentak Davies saat lengan dan tubuhnya main di peluk oleh para ibu-ibu.


Bukannya menyingkir, Justru para emak-emak ini malah gencar ada yang mencubit pipi ada juga yang berfoto. sungguh momen yang buruk bagi Davies.


"LEPASKAN!!!" Bentak Davies yang tak tahan saat tubuhnya di sentuh oleh para emakemak.


Para emak-emak menyingkir, "Aduh tampan, Kok kasar banget sih? tapi mak suka yang kasar kasar.." Ucap salah satu emak-emak yang membuat Davies berdecak ngeri.


"Inget anak suami Buk!" Sahut salah satu pedagang.


Emak-emak kesal dengan pedagang itu, "Sirik aja!"


Williams mencoba melepas tangan emak-emak yang memeluk lengannya. "Tangan saya berat! menyingkirlah!"


Sedetik kemudian emak-emak mulai terhentikan, Namun salah satu emak-emak melihat list belajaan yang ada di tangan Williams. Dia mengambil list belajaan itu.


"Aduh... soswit sekali kalian mau membelikan ini semua dipasar.." Ujar Mak itu.


Tiba-tiba sebuah ide melintas dipikiran Davies, Dia memasang wajah lelahnya. "Hmm ya, Kami harus membeli itu semua. tapi kami baru saja ke pasar, Pasti akan butuh waktu yang lama." Sahut Davies.


"Kalau mau, Kalian saja yang belinya. Tapi sebagai gantinya, kita berfoto, bagaimana?" Timbuh Ardi.


Tentunya para emak-emak langsung berbinar, Mereka langsung menganggukan kepalanya. "Ya, Tunggu sebentar ya Tuan tampan. Serahkan pada kami, Semuanya akan beres."

__ADS_1


Pasukan emak-emak itu langsung meluncur mencari list belajaan, Mereka berlomba untuk mendapatkan bahan yang ada di list. Tentunya itu menjadi ketiga para laki-laki tampan itu seperti raja, Davies terkekeh geli melihatnya.


"Cih, Licik sekali kamu Dav!" Williams memalingkan wajahnya.


Mendengar itu Davies terkekeh kecil, "Ini bukan licik namanya, Tapi pintar." Jawab Davies dengan santainya.


Sedangkan para emak-emak kini sedang mencari bahan yang ada di list, Mereka berebutan untuk mendapatkannya. Tak butuh waktu yang lama, Kini semuanya sudah beres dengan kecepatan rata-rata.


Para emak-emak mengumpulkan semua belajaan Davies yang hampir dua kresek besar, Mereka memberikan itu dihadapan Davies dan juga Williams.


"Semuanya sudah lengkap didalam sini, Dan kami menanggih bayaran kami.."


Dengan singgapnya Davies langsung bersedia berfoto dengan mereka, Walaupun sejujurnya Davies tak ingin namun apalah daya daripada dia yang terkena bau pasar, Sebaiknya dia memutar otak.


"Hmm kemarilah,"


Para emak-emak satu-persatu mulai berfoto, Mereka berfoto dengan Davies, Williams dan juga Ardi. Tak lupa mereka meminta tanda tangan.


Setelah itu Davies, Williams dan juga Ardi langsung pergi menuju area parkiran.


"Jika ada yang memberitahukan ini kepada Alexa, Aku akan menghukum kalian! ingat itu!" Ancam Davies, Dia ingin terlihat waw dimata Alexa.


"Ck!" Williams dan Ardi hanya berdecak.


Williams menjalankan mobilnya meninggalkan area pasar, Saat setengah perjalanan Williams terhenti saat melihat gerobak bakso.


Dia teringat dengan Sindy yang menginginkan bakso, Apa Williams beli saja? Dia menghentikan mobilnya membuat Davies mengerutkan keningnya.


"Kenapa berhenti?" Tanya Davies.


Isi chat.


Williams: "Istriku, Kamu mau bakso?"


Sindy: "Boleh, Baksonya yang banyak ya honey!!"


Williams: "Oke sayang, Tunggu ya"


Williams mematikan ponselnya, Dia keluar dari mobil.


"Mau kemana Li?" Tanya Ardi.


Williams berbalik, "Beli bakso Di, Tunggu sebentar!" Jawab Williams dengan sedikit berteriak.


Williams menghampiri amang bakso yang sedang stay disebrang sana, Terlihat dagangannya masih banyak. Williams meringis saat amang penjualnya itu sudah hampir tua, Bahkan lebih tua dari Davies. pikirnya.


"Permisi pak, Saya ingin membeli bakso. masih ada?"


Amang bakso berdiri, Dia mendongak tak di sangka seorang sekertaris Li mampir ke kedai bakso nya? "Tuan Li? masih-masih ada tuan!"


Dengan tangan yang gemetar, Tukang bakso itu mulai meracik bumbu baksonya.


Williams yang melihat itu sedikit kasihan, "Saya dengan gerobaknya saja pak, Semuanya saya beli." Ucap Williams yang membuat Amang tukang bakso memekik terkejut.

__ADS_1


"Se-semuanya Tuan?" Pekik Amang bakso yang bertanya apa dia tidak salah dengar?


Williams mengangguk, "Ya semuanya, Tunggu sebentar." Williams pamit terlebih dahulu, Dia masuk ke mobil untuk mengambil uangnya.


Tak berselang lama Williams kembali dengan uang yang ada di tangannya, Dia kembali menghampiri amang penjual bakso. "Ini saya bayar, Apa cukup?" Williams memberikan Dua gepok untuk penjual bakso.


"Ya Allah, Allahuakbar... Tuan.. ini kebanyakan!" Pekik Tukang bakso yang terkejut saat mendapatkan bayarannya.


Williams tersenyum, "Sudah tidak apa-apa, Itu sudah menjadi rejeki bapak dan keluarga. Kebetulan istri saya juga sedang hamil."


"Terimakasih ya Tuan, Semoga diganti dengan berlipat-lipat kali sama Allah. Semoga istri anda selalu diberi kesehatan, Dan bayi dalam kandungannya sehat."


"Aamiin."


Williams tidak bodoh dengan memberikan uang itu, Pasti nanti akan ada yang memasaknya. Dia menelpon dua bodyguard nya untuk mengawal penjual bakso ini.


"Mereka adalah bodyguard saya, Mereka akan mengawal bapak sampai rumah."


"Terimakasih tuan."


Williams tersenyum tipis, Dihadapannya kini sudah ada gerobak bakso dengan isinya. komplit!


Williams menghubungi kembali bodyguard nya, "Cepat ke jalan **** , Bawa motor saja!" Perintah Williams.


Tak lama kemudian, Kedua bodyguard Williams langsung datang dengan sebuah motor besar.


Williams langsung memperintahkan mereka untuk membawa gerobak ini, "Bawa gerobak ini! ingat hati-hati!!!"


"Baik tuan!"


Williams berlalu setelah bodyguard nya membawa gerobak bakso itu, Williams mengusul dengan mobil.


Davies mengerutkan keningnya saat melihat gerobak bakso yang dibawa oleh bodyguard sekertaris nya itu, "Gerobak siapa itu?" tanya Davies.


"Tentu gerobak ku!"


"Untuk kami?"


Williams memicingkan matanya menatap Ardi, "Cih! itu untuk istriku!!"


HAHAHA


"Williams Williams, kamu ini sudah terlalu tua atau bagaimana? yang namanya memberikan untuk istri itu hal romantis lah, Bukannya gerobak! kamu menyuruh Sindy jualan bakso?" Ejek Davies, Dia masih tertawa.


Williams menatap tajam Davies dari spion, "Cih! Membahagiakan istri, Tidak perlu yang mewah dan romantis!" Jawab Williams.


Davies tertawa kencang, "Dasar bucin!"


...----------------...


Hay salam hangat dari author. Seperti biasa author minta dukungan serta supportnya dari kalian semua, Dukung terus novel ini!!!


LIKE+KOMEN+VOTE!!

__ADS_1


TEBAR BUNGA🌹🌹🌹😉


__ADS_2