
Sesampainya disana, Alexa langsung mendapatkan lagi penanganan untuk menghilangkan bekas cambukan disekujur tubuhnya. Davies mengeram saat melihat begitu banyaknya bekas cambukan yang ada di tubuh istrinya.
"Sakit hmm?" Davies mengusap rambut Alexa.
Alexa menggelengkan kepalanya karna memang sebenarnya tidak sakit, Hanya sedikit perih saja. "Tidak sakit suamiku, Hanya perih saja." Jawab Alexa dengan tersenyum manis kepada Davies.
"Berbaliklah biar aku kipasi," Alexa berbalik badan, Dia membelakangi suaminya.
Davies mulai menyalakan kipas kecil yang dibawa oleh Alexa, Dia mengipasi punggung Alexa yang terdapat bekas cambukan itu.
"Maafkan aku... Seharusnya aku lebih cepat datang dan kamu tidak akan mendapatkan bekas ini..." Lirih Davies.
Mendengar itu Alexa langsung berbalik menatap suaminya, Dia menangkup kedua pipi suaminya. "No! Suamiku sudah melakukan yang terbaik... Aku bangga padamu, Bekas ini akan menghilang kok.. Jadi kamu jangan terlalu mencemaskan ku oke?" Jelas Alexa dengan bijaknya, Dia langsung memeluk tubuh suami tercintanya ini.
Davies membalas pelukan Alexa, Dia merasa sangat beruntung memiliki Alexa. Apalagi kini ditambah dengan kehadiran Elvio dan juga Twins A, Menambah keberuntungan serta kebahagiaan yang berlipat-lipat bagi Davies.
Alexa mendongak menatap Davies, "Dimana Twins dan juga Vio?" Tanya Alexa
"Mereka di mansion, Anak kecil rawan dibawa kerumah sakit." Alexa mengangguk paham.
Tak lama pintu ruangan terbuka dan menampakkan dokter dengan dua orang suster, Keduanya memeberikan hormat kepada Davies dan juga Alexa. Alexa membalasnya dengan senyuman, Sedangkan Davies? Ya dia tidak bisa berbicara dengan orang yang baru dia temui.
"Jadi bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Davies yang langsung to the poin.
"Kondisi Nyonya Alexa sudah membaik Tuan, Dan bekas cambukan itu akan menghilang. Kami sudah resepkan obat serta salep untuk Nyonya," Jawab dokter perempuan itu, Dia mengambil kertas resep yang ada di tangan suster, Dia memberikannya kepada Davies.
"Baik kalau begitu saya permisi dulu."
"Baik dok terimakasih," Alexa tersenyum hangat.
Davies membantu Alexa untuk berkemas, Karna keduanya harus pulang sekarang juga. Walaupun Twins dan juga Vio ada yang menjaganya, Tapi tetap saja mereka khawatir.
Setelah mengurus semuanya, Davies mendorong tubuh Alexa menggunakan kursi roda. Sampai tepat di hadapan mobil, Dia menggendong tubuh Alexa dan memasukannya ke dalam mobil.
"Terimakasih suamiku..."
"Tidak perlu berterimakasih, Karna ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang suami.." Jawab Davies sambil tersenyum manis kepada istrinya itu.
Davies langsung menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah sakit, Kondisi fisiknya sudah kembali stabil jadi tidak ada yang dikhawatirkan darinya.
Dia meraih tangan Alexa dan mengecupnya, Alexa melirik ke arahnya dan tertawa kecil karna Davies terus mencium tangannya.
"Astaga suamiku, Menyetirlah dengan benar!"
"Hmm, baiklah.."
__ADS_1
Sesampainya disebuah mansion yang terlihat sangat megah nan mewah
...(Depan mansion bak istana baru Davies dan juga Alexa) ...
Davies langsung menekan kelakson dan tak lama satpam datang membukakan pintu gerbang.
Mobil jepp putih itu langsung masuk setelah gerbang dibuka. Davies keluar dari mobil, Ia membukakan pintu mobil untuk Alexa, Davies menggendong Alexa masuk kedalam mansion.
Namun terlebih dulu Davies melemparkan kunci mobilnya kepada satpam, Dia menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya.
Keduanya masuk dengan disambut teriakan dari Elvio, Alexa meminta turun untuk memeluk Elvio.
"Mom baik-baik saja kan?"
"Tentu, Mom baik-baik saja karna Mom punya abang jago yang tampan ini..." Alexa mencubit hidung mancung Elvio. Bukanya marah justru Alexa malah tertawa.
"Daddy!! Mommy selalu saja mencubit hidungku, Bagaimana kalau nanti hidungku copot?!" Adu Elvio yang berlari memeluk Davies.
Mendengar Elvio, Davies tertawa. "Haha itu karna Mommy iri dengan hidungmu yang mancung sedangkan hidung Mommy kan pesek.." Ejek Davies yang membuat Alexa memutar bola matanya malas
Davies menggendong Elvio dengan satu tangannya menggandeng Alexa.
"Dad, Ini mison siapa?" Tanya Elvio kepada Davies.
Elvio menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Ya ya itu?"
"Ini mansion mendiang kedua orangtua Daddy, Oma dan juga Opa Vio." Jawab Davies sambil menaruk Elvio untuk duduk di sopa.
Ya memang Davies dan Alexa menempati Mansion mendiang kedua orang tua Davies, Dia menempati mansion ini karna tidak cukup terjangkau oleh siapapun kecuali orang dalam mansion saja. Dan keberadaan Mansion ini hanya diketahui oleh Kedua sahabat Alexa, Williams dan juga Ardi.
"Terus Oma dan Opa Vio dimana?"
"Beliau sudah meningg4l karna kecelakaan pesawat,"
Elvio mengangguk paham, Dia menyantap apel yang sudah dikupasi oleh maid.
Kedua suster menggendong twins yang terlihat sudah sangat rapih dan juga wangi, Alexa langsung mengambil alih Baby Albert sedangkan Davies mengambil Baby Alesya.
"Vio senang mendapatkan Adek bayi?" Tanya Davies sambil mencium pipi Baby Alesya.
Elvio mengangguk, Dengan mulut yang penuh Elvio ikut mencium Baby Alesya.
"Habiskan dulu yang ada di mulut Vio, Nanti bisa tersedak!"
__ADS_1
"Maaf Mom,"
"Bi, Tolong bersihkan Elvio. Sikat gigi, Setelah itu minum susi."
"Baik Nyonya..."
***
Sedangkan itu di Indonesia kini Williams tengah menyiapkan pesta melamar Sindy tepat dengan hari dimana dia dan Sindy awal bertemu.
Williams tersenyum geli saat mengingat bagaimana tingkah Sindy dulu kepadanya, Ia sungguh tak sabar menjadikan Sindy sebagai istrinya.
Persiapan untuk melamar Sindy sudah lumayan siap dengan dekor yang mewah serta megah tentunya, Williams sudah menyiapkan sesuatu untuk wanita yang dia cintai. siapalagi kalau bukan Sindy.
Williams memilih pulang untuk bersiap-siap dan juga menjemput Sindy, Wajahnya yang tampan serta gagah sungguh membuat kaum wanita ketar ketir termasuk author yang sudah tau Williams seperti apaš¤£
Dengan dipandu Jas biru yang senada dengan celananya, Aura yang dimiliki Williams semakin terpancar. Sungguh tampan!
Tring...
Sebuah pesan masuk ke ponsel Williams, Terlihat nama pengirimnya adalah "Belahan jiwaku." Entah menggelikan sebenarnya tapi Williams sungguh menyukai nama kontak Sindy seperti ini.
Sindy memberi pesan dengan voice note, Dia memberitahukan kalau Sindy sudah siap dengan Ibu dan juga Bude nya namun saat ini sudah berada di jalan menuju acara yang di sherlock oleh Williams.
Williams menepuk keningnya karna dia lupa memberitahukan Sindy kalau dia akan menjemputnya, Dengan sigap Williams langsung mengambil kunci mobil dan juga sesuatu untuk Sindy.
Dengan kecepatan kencang Williams mengendarai mobil menuju ke sebuah hotel terkenal dijakarta, Dia langsung sampai dan langsung masuk ke dalam.
Bersyukur acara sudah sampai, Williams tak memberitahukan kalau hari ini dia akam melamar Sindy. agar ini menjadi sebuah kejutan untuk Sindy.
"Semuanya sudah beres?" Tanya Williams.
"Sudah Tuan,"
"Bagus, Siapkan sisanya. Matikan lampu saat Sindy datang oke."
Williams langsung mengambil posisinya, Dia menunggu Sindy datang. Dan Jep! Lampu padam dan itu artinya Sindy sudah datang.
"Kenapa gelap sekali, Dimana Li?" Lirih Sindy, Dia menyalakan senter yang ada di hp nya.
Suara langkah kaki Sindy menggema di setiap sudut ruangan, Hingga lampu menyala tepat kini Sindy berhadapan dengan seorang laki-laki tampan dengan jas yang senada dengan gaun yang dikenakan oleh Sindy.
Sindy menutup mulutnya tak percaya Williams melamarnya dengan begitu mewah seperti ini.
Alexa tersenyum haru saat mendapatkan kabar dari Putri kalau Sindy dilamar dengan begitu mewah serta megah oleh Williams.
__ADS_1
"Ada apa sayang? kenapa kamu tersenyum dan menangis?"
"Aku tidak menangis, Aku hanya terharu melihat Sindy dilamar dengan sungguh mewahnya oleh Li.."