
"Kenapa kamu bersedih? apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita?" Williams bertanya karna melihat raut wajah murung Sindy.
Sindy menggelengkan kepalanya, "Tidak bukan seperti itu, Aku bahagia dengan pernikahan kita. Aku hanya sedih saja karna di hari pernikahan ku ini, Alexa tidak datang."
Williams menarik Sindy ke dalam pelukannya. "Mereka disana juga pasti ikut senang dengan pernikahan kita, Do'akan saja semoga mereka cepat kembali ke indo." Sindy mengangguk paham.
"Sekarang tidurlah, Sudah malam. Besok kita harus langsung pergi dari ini?" Ucap Williams yang diangguki oleh Sindy.
Dia merebahkan tubuhnya dengan disusul oleh Williams yang ikut merebahkan tubuhnya disamping tubuh istrinya itu, Dia memeluk Sindy bak seperti guling. Sindy awalnya sangat canggung tapi setelah terlelap, Dia yang justru memeluk Williams.
Seperti yang dikatakan Williams, Hari ini keduanya harus kembali beraktivitas di perusahaan terutamanya. Williams tengah menghendel beberapa proyek sampai nanti Davies kembali mengambil alih.
"Mau aku buatkan kopi?" Tawar Sindy, Dia kasihan melihat suaminya itu memijat keningnya.
Williams mendongak dan tersenyum, "Boleh?"
Sindy mengangguk, "Tunggu sebentar." Dia keluar dari ruangan Williams dan langsung menuju pantry untuk membuatkan kopi.
Dengan perlahan Sindy membawa nampan yang berisikan kopi dan juga teh untuknya, Dia membukakan pintu ruangan Williams. Terlihat Williams menunggunya, Dia langsung berdiri dan menghampiri Sindy.
"Duduklah," Sindy duduk di samping Williams.
Williams menyesap kopi yang dibuat oleh Sindy, "Enak?" Tanya Sindy sambil menatap Williams yang tengah menyesap kopi buatannya itu.
Williams menaruh cangkir kopi itu, Dia mengangguk namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Why?" Sindy mengerutkan keningnya.
"Tidak ada yang lebih enak dari dirimu, Istriku..."
Blusss...
Pipi Sindy memerah, Williams yang melihat Sindy seperti itu langsung terkekeh kecil.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk!"
"Apa itu?" Tanya Sindy yang penasaran dengan aroma yang berasal dari kotak yang dibawa oleh Williams.
Williams memberikan satu kotak kepada Sindy, "Makanlah," Sindy menerima kotak itu, Dia membukanya dan terlihat ayam gemprek yang sangat menggiurkan lidah.
Gluk...
Sindy menelan air liurnya saat melihat Ayam geprek yang sudah lama sekali dia tidak makan itu, Makanan Favoritnya!
"Kenapa hanya dilihat saja?"
__ADS_1
"Ha? hehe ini mau aku makan kok.." Sindy berlari untuk mencuci tangannya, Setelah cukup bersih dia langsung menyantap makanan favoritnya ini.
Dia melupakan dimana kini dan sedang bersama siapa, Rasa yang diciptakan oleh ayah geprek ini membuat Sindy lupa diri. Dia makan dengan kaki diangkat satu, Williams sedikit tercengang dengan tingkah makan Sindy.
Sindy tak memperdulikan itu, Dia makan dengan lahap sungguh nikmat!
Sekitar lima menit Williams sudah selesai makan, Entah mungkin Williams robot yang makan begitu cepatnya. Sedangkan Sindy dia memesan lagi nasi ayam geprek dengan sambal hijau, Williams hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan baru sang istri yang baru dia ketahui.
Williams melanjutkan perkerjaanya, Dia mengirimkan email kepada Davies. Mengirim beberapa pail yang ditandatangani ataupun tidak, Namun arah matanya tertuju pada wanita yang masih menyantap makanan itu.
"Apa dia keong? makan begitu lambatnya!" Williams menghampiri Sindy, Dia mengambil kotak sambal yang masih terlihat banyak itu.
Williams membuangnya karna Sindy sudah terlalu banyak memakan sambal, "Aaakhhh.. kenapa dibuang?!" Teriak Sindy sambil mengunyah makanannya.
Uhuk...uhuk.. uhuk...
Williams langsung memberikan Sindy air minum, Dia menepuk pelan pundak Sindy. "Kalau makan tu hati-hati, Apa kamu keturunan keong? makan begitu lambatnya."
"Enak saja keturunan keong! Ini tu namanya meresapi tau!" Jawab Sindy dengan memutar bola matanya malas.
"Apa itu sangat enak?" Tanya Williams
Sindy mengangguk, "Ini sangat sangat enak, Coba saja... nih.... Aaaaaa..." Sindy menyodorkan sepotong ayam geprek kepada Williams.
Williams menerima suapan itu, Memang benar rasanya enak. "Suapi lagi.."
__ADS_1
"Ambil saja sendiri," Sindy melanjutkan makannya, Dia kembali menyantap ayam geprek itu. Saat dagingnya tepat berada di bibirnya, Williams menarik Sindy dia langsung melahap daging berserta bibir merah Sindy!!
"Ummmhhh!!!"