
Bruk...
Jus yang ada di tanganga tumpah begitu saja saat melihat sosok yang ada tepat di hadapanya, Bak mimpi sungguh tak menyangka melihat seseorang yang dirindukannya kini tepat berada di hadapanya.
Tak mampu berkata-kata, Alexa berdiri dari duduknya. Dia menatap orang yang ada di hadapanya dengan tatapan sulit di artikan.
Bruk...
Alexa menghambur pelukannya. Kedua orang yang nampak saling mengenal itu saling berpelukan erat, Sungguh terlihat dari raut wajah keduanya yang menyimpan banyak kerinduan.
"Mom?"
Panggilan dari Elvio membuat keduanya saling melepas pelukan itu.
"Dia anakku," Jawab Alexa yang sudah paham dengan tatapan dari sahabatnya itu.
Dengan tersenyum manis, Sindy berjongkok tepat di hadapan bocah laki-laki tampan ini.
Ya, seseorang yang membuat jantung Alexa kaget tadi adalah Sindy. Entah bagaimana sahabat Alexa bisa ada tepat di hadapan Alexa.
Padahal sejak 2tahun lalu, Semua orang kelimpungan mencari keberadaan dirinya.
"Sudah siang, Ayo kita pulang Nyonya.." Sahut Suster yang tadi melihat jam tanganya.
Alexa mengangguk, Dia dan juga Elvio kembali ke mansion. Tentunya dengan Sindy yang ikut bersama denganya.
Kini Alexa dan juga Sindy berada di gazebo, Alexa menatap Sindy seola meminta jawaban dari kepergiannya.
Tak lama datang Putri dengan seorang bayi perempuan yang ada di gendongannya. Sama hal nya dengan Alexa, Putri pun sangat terkejut saat mendapatkan kabar dari Alexa kalau Sindy ada di mansion nya.
Kedua mata Putri berembun, Dia berlari menghampiri Sindy dan memeluknya dengan erat. Alexa mengambil alih menggendong beby Amanda.
"Kemana saja kamu Sin!! Apa kamu tidak merindukan kita? Apa kamu sudah melupakan kita? Sahabatmu..." Ucap Putri dengan diselingi isak tangisnya.
Sindy ikut menangis dia tersenyum dan menghapus air mata Putri, "Aku-aku..."
Lidah Sindy seola mendadak kelu, Sungguh dia tak sanggup bila menceritakan dirinya di 2 tahun belakangan itu.
Putri mengerti, Dia menyuruh Sindy untuk duduk. Alexa memanggil maid untuk menyajikan minuman serta makanan ringan, Dia kembali menatap Sindy.
Sindy masih seperti awal, Dia bersikap biasa saja seola tidak terjadi apapun. Dia malah sangat tenang.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku?" Tanya Sindy yang bingung saat kedua sahabatnya itu menatapnya.
Sedetik kemudian, Alexa kembali berembun dia kembali menangis. "Maafkan aku Sin. Andai saja aku tidak menyuruhmu untuk kerja di kantor Suamiku, Pasti ini tidak akan terjadi.." Lirih Alexa.
"Heh! Kenapa seperti itu?"
"Aku tidak menyalahkan kalian, Mungkin ini sudah menjadi takdir yang harus aku jalani."
"Maafkan kami Sin,"
__ADS_1
Ketiga wanita cantik itu saling berpelukan, Melepas rindu dengan bercanda tawa kembali. Sindy masih belum siap menceritakan kisahnya, Tapi dia berjanji besok dia akan menceritakannya lewat authorš¤£
Saat ketiga wanita cantik itu bercanda bahkan gelak tawa mereka cukup nyaring, Sampai ketiga laki-laki menghampiri mereka.
"Sayang..."
"Haii Sayang..." Alexa menghampiri suaminya Davies, Dia memeluknya.
Saat hendak Sindy meminum minumannya terlebih dulu dia terkejut melihat sosok yang sudah membuat hidupnya hancur berkeping-keping.
Tatapan benci terlihat jelas di mata Sindy, Namun dia tidak mengambil pusing itu. dia masih bisa mengontrol emosi nya.
Ardi mendekat ke arah Putri, Dia mengambil alih Beby amanda dari gendongan Putri.
Suasana mendadak hening. Alexa mengarahkan pandanganya ke arah yang sedang di tatap oleh Sindy.
"Li!"
ini sungguh diluar nalar, Bagaimana bisa ckck..
"Emm sebaiknya kita makan bersama? kebetulan sudah mau sore juga.."
Mau tidak mau Sindy menyetujui untuk ikut makan bersama, Walaupun sebenarnya dia masih tidak sanggup.
bayangan dimana malam kelam itu sungguh membuat jiwa Sindy tergoncang. Dia menepis bayangan itu, Dengan lahap dia langsung menyantap makanan yang dihidangkan.
Seorang laki-laki yang sudah berkepala tiga itu menatap Sindy dengan sayu, Penyesalan terlihat di raut wajahnya.
Bagaimana tidak, Mereka baru saja mengunyah eh Sindy sudah selesai.
"Kenapa buru-buru sekali Sin?" Tanya Ardi yang tak paham.
"Al..." Lirih Sindy. tatapan dari Sindy membuat Alexa paham akan apa yang Sindy maksud.
Alexa berdiri dari duduknya. "Kalian selesaikan makannya, Aku akan mengantar Sindy ke depan."
"Sa..." Protes Davies. dia sungguh tak suka saat dirinya belum selesai, Malah ditinggal.
"Sebentar sayang.."
Alexa menggandeng tangan Sindy untuk keluar mansion.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya,"
"Hmmm kenapa tidak menginap saja Sin?" Tanya Alexa yang tak mau Sindy pergi meninggalkan dirinya kembali.
Sindy tertawa renyah, "Aku harus pulang Al, Lain kali aku akan menginap oke?"
"Baiklah, Hati hati..."
Dengan berat hati Alexa mengizinkan Sindy untuk pergi pulang, Tak lama disusul dengan Putri dan juga Ardi yang pamit pulang.
__ADS_1
"kenapa dia ikut kemari?" Kesal Alexa kepada Davies.
Davies terdiam sesaat, Memang dia yang menawarkan Williams untuk pulang ke mansion. melihat kondisi sahabatnya sungguh membuat hati Davies tersentak, Dia mendekat ke arah Alexa dan memeluknya.
"Jangan marah seperti itu Honey, Aku mengajak dia kemari bukan karna sengaja mempertemukannya dengan Sindy. sungguh aku tak bermaksud,"
Alexa memutar tubuhnya, Dia menatap suaminya. "Sindy baru kembali, Aku tidak mau dia pergi lagi..." Lirih Alexa.
Cup!
"Itu tidak akan terjadi lagi Honey, Percayalah.. Sindy tidak akan pergi jauh darimu.."
Alexa membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, "Kenapa kamu mengajak Li? bukanya kamu juga membencinya?" Tanya Alexa.
"Hmmm aku memang masih membenci perbuatannya, Tapi tidak untuk persahabatan. seperti kalian bertiga, Aku dan Li bersahabat sudah lama. banyak kisah pilu yang kami lalui bersama.."
Davies menarik nafasnya. "kamu tau sayang? Aku mengajak Li karna kasihan kepadanya. saat berjamu dengan kolegan bisnisku di sebuah club, Aku tak sengaja melihat Li yang sedang mabuk berat."
"Kondisinya sungguh memilukan, Seperti tak terurus. kata pengunjung dia selalu disana dengan memanggil nama Sindy..."
Alexa cukup terkejut mendengar itu, Memang benar kalau tadi kondisi Williams sungguh berbeda jauh dengan sebelumnya.
rambut yang gondrong serta jenggot yang hampir menutupi setengah wajahnya, Sungguh-sungguh perbedaan yang membuat Alexa terkejut.
...***...
Sindy mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, Entah mengapa hatinya mendadak sakit saat melihat kondisi laki-laki yang menghancurkannya itu sungguh berbeda.
"Ahh! aku tidak boleh simpati kepadanya!" Sindy memukul setir.
Bayangan malam kelam kembali melintas.
Cit...
Sindy menghentikan mobilnya, Dia menutup mata dan menyilangkan tanganya. Depresi itu kembali terjadi, Sungguh!
Bruk... Suara pintu mobil yang tertutup saat seseorang berhasil masuk kedalam mobil Sindy.
mata Sindy terkaget saat melihat siapa yang masuk ke dalam mobilnya.
DEG....
...----------------...
Hay salam hangat dari author, Seperti biasa mohon maaaf bila ada kosa kata yang salah. author masih pemula, Mohon untuk memahaminya.
Terus dukung dan support karya ini dengan cara:
LIKE+KOMEN+VOTE!!
BERI BUNGA JUGA
__ADS_1