Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu

Kau Khianati Aku, Kurebut Ayahmu
TUNGGU AKU SAYANG


__ADS_3

Bugh...


Seorang laki-laki tampan langsung memukul wajah tampan Williams, Williams tersungkur kebelakang terlihat sudut bibirnya yang sobek.


"Berani-beraninya kamu menyentuh wanitaku bangs@t!"


Bugh...


Bugh...


Perkelahian itu tak bisa dihindarkan, Williams membalas setiap pukulan dari laki-laki tampan itu. Beda skil terlihat jelas, Laki-laki itu ambruk saat Williams berhasil menghajarnya.


Namun saat hendak melayangkan lagi pukulannya, Terlebih dulu Sindy berteriak. "Sudah!! Hentikan...!!!" Teriak Sindy.


Laki-laki tampan itu langsung menarik tangan Sindy dan membawanya pergi.


Dengan kecepatan tinggi, Laki-laki tampan itu menjalankan mobilnya entah kemana. Terlihat jelas raut wajahnya yang memerah karna menahan amarahnya serta rahang yang tegas terlihat jelas juga.


Sindy tak berani bertanya, Dia hanya duduk terdiam. Sampai akhirnya mobil ini sampai di sebuah danau yang terlihat sejuk dan juga nyaman.


Laki-laki itu langsung keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun, Sindy ikut keluar dari mobil.


"Jelaskan!" Ucap Laki-laki tampan itu tanpa menoleh ke arah Sindy.


"Apa yang perlu dijelaskan?" Tanya Sindy, Dia tidak paham dengan maksud kekasihnya itu.


Dengan tatapan tajam, laki-laki itu berbalik menatap Sindy. "Jelaskan kenapa kalian bersama seperti tadi ha?!"


"Untuk apa aku jelaskan juga? Kamu tidak akan pernah percaya dengan setiap perkataanku Ri! Yang kamu percaya hanyalah ibu mu ibu mu ibu mu dan ibu mu. Tanpa mencari tau yang di katakan oleh ibu mu benar atau tidak nya."


"SINDY!" Laki-laki tampan itu melayangkan tangannya untuk menampar Sindy, Namun dia urungkan saat Sindy memalingkan wajahnya.


"Kenapa tidak jadi?" Tanya Sindy dengan suara yang bergetar menahan isak tangisnya.


Bruk..


Laki-laki tampan itu memeluk Sindy, Dia mengecup kening Sindy. "Ma-maafkan aku Sin..."


Sindy melepaskan pelukan Laki-laki itu, Dia menatap matanya. "Kenapa kamu begitu marah?" Tanya Sindy.


"Tentu saja aku marah! Karna kamu wanitaku!" Jawab Laki-laki itu dengan tegas nya.


Mendengar itu Sindy tertawa sinis, "Wanitamu?" Lirih Sindy.


"Jika aku memang wanitamu, Kenapa kamu harus bermain dengan wanita lain??"


DEG...


Tubuh Laki-laki itu seakan langsung kaku, Ucapan dari Sindy seakan membuat dirinya terserang serangan jantung.


"Apa-apa maksudmu?"

__ADS_1


Sindy tersenyum miring, Ya inilah sikap Fahri yang sendari dulu tidak pernah berubah.


"Fahri... Apa kamu pikir aku tidak tau sikap mu yang masih melekat mu itu?" Sindy tak bisa menahan air matanya lagi, Dia meneteskan air matanya namun langsung dia seka air matanya itu.


Ammar Pradipa Fahri, Adalah seorang CEO muda di perusahaan Pradipa. Dia adalah mantan kekasih Sindy, Tak hanya itu dia juga dari keluarga ternama dan juga terpandang. Fahri berusia 27 Tahun.


"Jika kamu mencintai orang lain, Jangan seperti ini caranya Ri. Kamu menyakiti hati dua wanita sekaligus. Aku kira saat kita di turki dulu, kamu sudah berubah dan bodohnya aku malah mengagumimu lagi." Lanjut Sindy.


Lindah Fahri seakan langsung kelu, Dia tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Karna memang benar adanya kalau dia mencintai wanita lain.


"Kejar dia, Dapatkanlah cintanya. Bahagiakan dia, Dia lebih pantas bersanding denganmu Ri... Bukan aku,"


"Sin..." Fahri mencekal tangan Sindy yang hendak pergi.


"Lepaskan tanganku Ri!"


"Sin! Aku tidak mencintai siapapun selain kamu!" Tegas Fahri.


"Benarkah? Jadi kamu tidak mencintai Vina? Wanita yang sudah sejak dulu menjadi idolamu itu?"


DEG...


Lagi-lagi Fahri dibuat cengo dengan perkataan Sindy, Dia menatap Sindy yang tak percaya kalau Sindy mengetahui semua itu.


"Sudahlah jangan terus memaksakan dirimu untuk mencintaiku Ri, Berbahagialah...."


Fahri menggelengkan kepalanya, Dia memeluk Sindy. "Tidak! Sin...."


"Maafkan aku..." Dua kata itu akhirnya keluar dari mulut Fahri.


Sindy tersenyum, dia menyeka air mata Fahri. "Kamu tidak salah, Aku yang salah karna sudah masuk di tengah-tengah kalian."


Memang benar sebelum Sindy bersama Fahri, Terlebih dulu Fahri bersama dengan seorang wanita yang bernama Vina. masih ingat dengan Vina? Teman putri?


"Perbaiki hubungan kalian, Biar aku yang pergi. Dan maafkan aku karna aku...." Sindy menghentikan ucapannya.


"Aku?"


"Aku mencintai Williams..."


DUAR....


Tubuh Fahri mendadak langsung merosot mendengar kalau Sindy mencintai Williams? Hatinya seakan ditusuk ribuan pisau, Apa ini juga yang dirasakan oleh Sindy?


Fahri masih terdiam diri di dekat danau bersama hujan yang turun, Dia masih terdiam diri menatap kosong ke depan.


"AAAAAAGHHHH!!!" Fahri berteriak keras, Dia sungguh mengkrutuki kebodohannya yang saat itu bukannya mengakhiri hubungan itu, Dia justru malah menjalankan dua hubungan sekaligus.


Sindy menatap jalanan, Dia kini berada di sebuah taksi yang menuju ke kota bandung, Air matanya kembali menetes saat mengingat Fahri tengah bercumbu dengan wanita lain.


"Seburuk inikah nasibku? Apa aku tidak pantas bahagia..." Lirih Sindy, Dia memejamkan matanya.

__ADS_1


Sesampainya di bandung, Sindy langsung masuk ke dalam rumah bude nya. Terlihat jelas ibunya yang masih terbaring lemah.


"Assalamu'alaikum Bude... Ibu..."


"Waalaikumsalam, Sindy..." Bude Sindy langsung memelul Sindy, Sindy membalas pelukan Bude nya itu.


"Apa kabar kamu Sin?" Tanya Bude, Dia mengajak Sindy untuk masuk ke dalam.


"kabarku baik Bude, Oh iya bagaimana kabar ibu?"


Wajah Bude Rie mendadak langsung murung, Dia menatap sedih ke arah ibunya Sindy yang masih tetap sama kondisinya.


Sindy yang paham itu langsung menghampiri ibunya, Sindy memeluk tubuh ibunya yang lemah itu. "Ibu... maafkan aku.." Lirih Sindy.


Sejak kepergian Bapak, Ibunya Sindy langsung menjadi pendiam. Tidak pernah berbicara ataupun bergerak, Seperti patung.


Sindy menatap sedih dengan kondisi ibunya yang memprihatinkan, Dia tak bisa menahan air matanya lagi.


"Sindy?"


"Iya bu... ini Sindy..."


Kedua anak dan ibu itu saling berpelukan, Menangis bersama. Maria seakan masih terpukul dengan apa yang menimpah anaknya, Belum lagi suaminya yang meninggalkan dirinya.


"Hikss.... kenapa kamu baru kembali nak? Apa kamu tidak membutuhkan Ibu lagi?" Sahut Ibu maria dengan diiringi isakan tangisnya.


Sindy menggelengkan kepalanya, "Tidak Bu, Bukan seperti itu hiks... maafkan aku bu... aku-aku masih takut ibu akan menyalahlanku atas kepergian Bapak hikss..."


Bruk...


"Bagaimana bisa ibu menyalahkan anak ibu hah? Ini sudah kehendak Allah, Allah lebih menyayangi Bapak..."


keduanya masih berpelukan sampai akhirnya saling terlelap, Untuk sementara Sindy akan merahasiakan hubungannya dengan Fahri yang sudah berakhir itu. Dia hanya ingin memperbaiki hidupnya bersama dengan Ibunya.


Tak ada lagi harapan Sindy selain ibunya, Sindy akan mengembalikan lagi kejiwaan ibunya itu sampai saat sembuh nanti, Dia akan membawa ibunya pergi jauh.


"Maafkan aku Bu,"


***


Sedangkan di sisi lain, Williams tersenyum saat tau kalau Sindy ternyata masih mencintainya. peluang untuk mendapatkan maaf Sindy semakin besar, Dia berjanji akan memperbaiki semuanya.


"Tunggu aku sayang,"


...****************...


Hay salam hangat dari author, Seperti biasa jika ada kesalahan kata, Author minta maaf ya. Mohon do'a nya juga untuk author agar cepat sembuh.


YUK TERUS DUKUNG DAN SUPPORT KARYA INI DENGAN CARA:


LIKE+KOMEN+VOTE!!!

__ADS_1


__ADS_2