
Sejak kehamilan Sindy, Williams menjadi sangat posesif terhadap Sindy. Dia tidak membiarkan Sindy melakukan pekerjaan apapun itu, Bahkan kini sudah ada tiga maid yang mendampingi Sindy dari bangun tidur hingga tertidur kembali.
Sejujurnya Sindy sangat jengkel dengan sikap Williams, Tapi dia juga tidak mau ambil resiko lagi. Kali ini dia harus menjaga dirinya, Benar-benar harus menjaga. Kandungannya memang masih lemah jadi diusahakan agar tidak terlalu capek.
"Selamat pagi nyonya,"
Seperti biasa, Itulah ucapan dari ketiga maid setiap Sindy membuka matanya. Dia disuguhkan dengan tiga maid yang siap melayaninya.
Salah satu maid menghampiri Sindy, Dia membantu Sindy untuk terduduk. "Sarapan sudah siap, Nyonya ingin sarapan terlebih dulu atau mandi nya?" Tanya maid itu.
"Aku mau mandi dulu saja." Jawab Sindy yang langsung membenarkan rambutnya.
Maid satu lagi langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, Setelah itu dia langsung keluar. "Airnya sudah siap nyonya, Silahkan..."
"Aku bisa sendiri!" Ucap Sindy saat mau masuk ke kamar mandi namun ketiga maid itu mengikutinya.
"Maaf nyonya tapi ini sudah perintah dari Tuan Li," Jawab ketiga maid itu, Sindy menarik nafasnya. Dia akhirnya bersedia dibantu oleh ketiga maid ini.
Bak seorang ratu, Apapun itu Sindy selalu di jaga dan juga di layani. Merepotkan, Bagi Sindy diperlakukan seperti ini sama seperti dia lumpuh. Menyebalkan!
Kini ia sudah tampil cantik dengan kaos putih dan juga celana santainya, Sindy berjalan ke arah balkon untuk menjawab panggilan Videocall dari suaminya, Williams.
"Kenapa wajah istriku ditekuk seperti itu?" Tanya Williams dibalik Video call.
Sindy memutar bola matanya malas, "Sungguh honey, kamu berlebihan! Aku seperti orang lumpuh tau ga? Menyebalkan!!!"
Williams terkekeh mendengar ocehan istrinya itu, Dia melakukan ini semata-mata demi keselamatan istri dan juga calon baby nya.
"Sudah?"
"Hah! Aku bosan honey!!!" Sahut Sindy setelah beberapa menit mengoceh kepada suaminya itu.
"Bosan?"
Sindy mengangguk, "ya, Bosan! Sangat bosan... Aku ke kantor saja ya?"
Williams tersenyum, "No! Tetap dirumah, Tunggu aku pulang. Okey?"
"Huah...." Sindy tiba-tiba saja berteriak, Air matanya ikut menetes.
Entahlah semenjak kehamilannya, Sindy berubah menjadi wanita yang gampang sekali menangis. Bahkan untuk hal sepele, Itulah hormon kehamilan.
Williams terkejut saat melihat Sindy berteriak dan juga menangis, "Hey hey sayang... Kenapa menangis?"
"Menyebalkan sekali kamu honey... Hiks..."
"Baiklah baiklah, Mau kesini kan?"
Sindy mengangguk.
"Lebih baik aku pulang menjemputmu, Kita akan pergi jalan-jalan. Mau?"
Mendengar itu tentunya Sindy berbinar, Dia langsung menganggukkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
__ADS_1
"Kapan?" tanya Sindy.
"Sebentar lagi, Bersiap-siaplah..."
Sindy menutup telponnya dengan wajah yang tersenyum, Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia tertuju langsung ke lamari pakaiannya, Dia mencari baju yang pas untunya.
Namun sialnya tidak ada gaun yang bagus ataupun baju yang bagus, semuanya sudah pernah dia pakai. Sindy mengeram kesal, Dia menyesal tidak pernah memanjakan dirinya dengan berbelaja.
Namun tatapannya tertuju ke kotak yang berada di atas lemari pakaiannya itu, Sindy langsung mengambil kursi yang ada di meja rias nya. Dia mengambil kotak itu menggunakan kursi, Dapat! Sindy mendapatkan kotak itu.
Sindy membuka kotak itu, Tepat! Di dalam kotak itu ada sebuah gaun yang dulu sempat dia beli bersama kedua sahabatnya itu. Sindy tersenyum senang saat mengcek gaun yang masih sangat bagus itu, "Hah syukurlah ada ini, Ayo kita bersiap-siap..."
Williams menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah istrinya itu, "Sindy... Sindy... Daridulu tidak berubah, Tetap bar-bar." Gumam Li, Dia langsung membereskan meja kerjanya.
"Tunda rapat hari ini, Saya mau weekend bersama istri saya." Ucap Williams yang kini berhadapan dengan sekertaris nya.
"Baik tuan,"
Setelah itu Li langsung masuk ke dalam mobilnya yang melaju langsung menuju ke mansion.
Saat di perjalanan menuju mansion, Ponsel Williams berdering dan terlihat panggilan telpon dari Davies. Williams mengangkat telpon dari Davies.
Williams: "Hallo Tuan,"
Davies: "Tidak usah pormal, Bagaimana kabarmu Li?"
Williams: "Kabarku baik Dav, Ah iya bagaimana sebaliknya?"
Davies: "kami semua baik-baik saja, Dan ya selamat atas kehamilan istrimu. Ternyata belut mu masih berpusi,"
indonesia?"
Davies berdehem, "Hari ini,"
Cit....
Mendengar itu Williams langsung menginjak rem, Dia terkejut. Untungnya tepat di lampu merah, Jadi tidak menyebabkan kecelakaan.
"Hari ini? Yang benar?!"
"Ya hari ini, Mungkin lebih tepatnya malam nanti kami sampai di indo."
"Baguslah kalian kembali."
"Li, Aku ingin membuatkan kejutan untuk Alexa. Aku takut Alexa trauma dengan mansion, Kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan?"
Williams berdecak kesal, "Seharusnya dari kemarin-kemarin kamu mengabariku Dav, Kan bisa tuh aku menyiapkan itu!"
"Hahaa sudah urus saja sebisanya, Tapi aku ingin istimewa!"
"Ta..."
Tut...
__ADS_1
Williams mengeram kesal saat Davies memutuskan sambungan telpon begitu saja, "Nasib jadi bawahan," Williams kembali mengendarai mobilnya menuju mansion.
Sesampainya di mansion, Williams disambut oleh seorang wanita cantik. Siapa lagi kalau bukan Sindy, Istrinya.
"Honey..." Sindy berlari memeluk Williams, Williams langsung menyambut pelukan Sindy.
"Jangan berlarian nanti terjatuh!"
"Hehehe maafkan aku honey,"
Cup...
Williams mengecup kening Sindy, "Sayang, Sepertinya kita tidak jadi pergi jalan-jalan."
Sindy mendongak menatap suaminya, Dia melepaskan pelukannya. "kenapa?!"
Williams menelan selivanya dengan susah payah, Saat ini istrinya mode on. Li harus berhati-hati.
"Hey heh sayang, bukan seperti itu." Williams menarik Sindy ke dalam pelukannya.
"Pemililk mansion ini akan pulang, Dia meminta kita menyambut kedatangannya."
Sindy membulatkan matanya, "Maksudmu Alexa akan kembali?" Williams mengangguk.
Wajah Sindy seketika langsung berbinar, "Kenapa tidak bilang?!"
"Tuan Dav baru saja memberitahukannya. Kamu tau? Dav takut Alexa trauma dengan mansion ini, Jadi kita harus mengubah beberapa tempat."
"Yasudah kalau begitu ayo!!"
Dengan semangat 86 Sindy langsung menarik Williams untuk masuk ke dalam mansion, Sebelumnya Sindy mengabari Putri. Dia meminta Putri membantunya menyiapkan kejutan untuk Alexa.
"Aku akan ke mansion!" Jawab Putri, Sindy menutup telpon itu.
Dia berjalan menghampiri suaminya yang tengah berkumpul bersama para maid dan juga bodyguard, "Bagaimana sayang?" Tanya Sindy.
"Semuanya sudah diatur, Tinggal prosesnya sayang. Sudah sebaiknya kita langsung kerjakan ini semua. Kamu bantu yang ringan saja, Oke?"
Sindy mengangguk, Mereka semua langsung mengambil tugasnya masing-masing.
Kedatangan kembali keluarga Ling tentunya menjadi hal yang paling dinantikan oleh semuanya, Sindy ingin menyambut sahabatnya itu dengan sangat istimewa.
Ya, Memang Davies merencanakan untuk kembali ke indonesia. namun tanpa sepengetahuan Alexa, Davies ingin memberikan Alexa kejutan. Lagian saat ini perusahaan membutuhkan kehadirannya juga.
Asikkk Alexa sama Davies mau back ke indo nih, kangen ga? yukk dukung terus novel ini. jangan lupa mampir ke novel ke-2 author!
...----------------...
Hay salam hangat dari author, Gimana nih kalian malah jadi nurun.. Ayo dong support nya mana nih, Dukungannya mana nih...
Yukk dukung dan support karya ini dengan cara:
__ADS_1
LIKE+KOMEN+VOTE!!!
BUNGA NYA JUGA🌹🌹🌹