
Sehari sudah berlalu sejak pertemuan mengejutkan di pemakaman Keluarga Castillo.
Saat ini, bukannya Airin dan Erlan sedang meratapi kesedihan atau menunjukkan keputusasaan, mereka berdua sedang sibuk untuk mengurusi beberapa berkas.
"Sepertinya untuk persiapan kita pergi ke luar negeri sudah siap semua,"
"Ya, aku juga sudah meminta Pamanku di Luar Negeri untuk membantu kita,"
"Paman mu?"
Ya, ini baru pertama kalinya Alice dengar jika Erlan memiliki seorang paman.
"Ya, dia adalah Paman Haikal Castillo. Kamu baru 2 tahun di Rumah Keluarga Castillo, jadi mungkin kamu tidak tahu soal adik Ayahku,"
"Apa? Ayahmu memiliki seorang saudara?"
"Ya, mereka adalah sudara kandung, berbeda dengan Aku dan Austin, namun hubungan antara mereka berdua lebih buruk daripada Aku dan Austin, dan baru belakangan ini juga aku mengetahuinya,"
Airin yang mendengar kisah itu jelas merasa kaget, sepertinya masih banyak hal kelam dalam Keluarga Castillo yang masih tidak dirinya tahu.
"Ukh, sepertinya masalah soal sodara-sodara ini benar-benar sangat merepotkan bukan? Kalau dipikir lagi aku sebenarnya juga memiliki dua saudara tiri yang menyebalkan, walaupun kami memiliki ayah yang sama dan juga aku lebih tua dari mereka namun mereka berdua tidak pernah menganggap atau menghormatiku sebagai Kakak tertua mereka,"
"Ya, begitulah jika itu sudah menyangkut Harga dan Tahta, saudara kandung pun bisa saling membunuh dan menjatuhkan satu sama lainnya, benar-benar tidak masuk akal namun itulah kenyataannya,"
"Jadi masalah pamanmu itu sebenarnya cukup rumit? Namun kenapa aku selama di rumah itu tidak pernah mendengar kabar soal beliau? Kakek sepertinya tidak pernah menyebut nyebut putra keduanya,"
"Itu cerita yang sangat panjang, karena beberapa alasan, Kakek jadi tidak menyukai dan membenci Paman. Hal-hal itu ternyata lebih rumit daripada yang Aku kira mungkin kamu nanti bisa mencoba bertanya padanya ketika kita bertemu dengannya,"
"Baiklah, nanti ketika kita sudah sampai di luar negeri,"
"Yah, melihat tingkah kurang ajar Austin dan Sylvia yang sudah akan menikah itu kita dinas harus mempercepat rencana kita,"
"Itu benar, pertama-tama kita harus ke berobat ke Luar Negeri untuk menyembuhkan Kaki Kak Erlan, itu juga sangat bagus jika kakak sudah menemukan lokasi rumah sakit untuk Kakak melakukan operasi,"
__ADS_1
"Hmm, ini semua juga berkat bantuan Pamanku,"
Ketika mendengar itu, Airin lalu mulai bertanya-tanya, sepertinya hubungan antara Erlan dan Pamannya terdengar cukup baik?
Airin ingat, Ayah Kandung Erlan, mantan Mertuanya itu bahkan tidak sedikit pun mencoba untuk memberikan perhatian pada Erlan, hah apalagi sampai repot-repot ingin mencari ikan rumah sakit atau dokter hebat untuk menyembuhkan Kaki Erlan.
Hanya di singung sedikit soal harta peninggalan Kakek Erlan saja, respon Ayah Erlan sudah seperti kebakaran jenggot seperti itu, padahal ya Erlan masihlah Putra Kandungnya sendiri.
"Kamu Erlan sepertinya memiliki hubungan yang cukup baik dengannya?"
"Ya, kurang lebih begitu namun kami memang sempat putus kontak beberapa tahun sejak Paman pergi ke luar negeri, Paman dan Ibuku cukup dekat,"
"Itu bagus jika kita memiliki dukungan, apalagi untuk mengembangkan perusahaan pasti ini sulit jika hanya kita sendiri,"
"Kamu benar sekali, untuk bisa membalas mereka, kita harus menjadi lebih kaya dan lebih kuat dari mereka,"
"Ya, aku juga akan sebisaku mencoba membantu Kami Erlan dalam bisnis Kakak saja,"
Airin yang mendengar kata-kata penuh semangat dari Pria depannya itu segera merasa kagum dan juga ikut semangat,
"Tentu saja, aku pasti akan segera menjadi seorang pelukis ternama,"
"Ya, mungkin ini semua sedikit memakan waktu, namun itu tidak masalah sama sekali. Selama kita pergi, aku akan tetap memastikan bahwa kita akan tahu pola pergerakan Austin dan Sylvia,"
"Kakak kan sudah menyiapkan mata-mata?"
"Ya, Kepala Pelayan di Rumah ada dipihak ku, aku sudah susah payah membujuk nya agar tetap berada di pihak ku,"
"EH? Kak Erlan benar-benar bisa mendapatkan Kepala Pelayanan yang tidak memiliki ekspresi itu? Sungguh hebat,"
"Ini mungkin bisa menjadi kartu Truff kita, untuk bisa menemukan dan membongkar kejahatan mereka, mari lihat setelah beberapa waktu berlalu hal jahat apa yang akan mereka lakukan, bagaimanapun juga ketika seseorang sudah sekali melakukan hal yang jahat dia akan kembali melakukannya,"
"Ya, Kak Erlan benar. menunggu waktu sampai kita bisa membalas kan dendam kita, dan sentuhan yang paling penting dalam rencana kita..."
__ADS_1
"Setelah kita kembali dari Luar Negeri, mari kita berdua segera menikah,"
Itu hanya kata-kata sederhana, yang maknanya sebenarnya sudah jelas, hanya pernikahan pura-pura, namun ketika mendengar sendiri Pria i depannya itu mengatakan akan menikahi dirinya, ada beberapa perasaan aneh di hati Airin, lasagna cukup menyenangkan dan tidak buruk jika menikah dengan Pria yang ada didepannya ini.
Kartika memiliki pemikiran semacam itu, Airin segara menyadarkan pikirannya bahwa dirinya sudah gila sampai memiliki pemikiran aneh semacam ini.
Jelas pernikahan mereka nanti tidak lebih dari sandiwara saja.
"Ya, Aku juga menantikan untuk segera menikah denganmu,"
Airin hanya asal ketika mengatakan itu, namun tiba-tiba marah sama lu sendiri ketika mengatakannya, sepertinya dirinya sedikit salah dalam memilih kata-kata?
Apalagi, ada ekspresi terkejut juga di wajah Erlan sekarang, yang membuat Airin menjadi semakin malu.
Keduanya menjadi cukup canggung, Airin jelas menjadi salah tingkah sendiri lalu Airin mulai membuat alasan pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan kecanggungan mereka.
Ketika Airin pergi, Erlan diam-diam tertawa, ketika berpikir jika Airin ternyata cukup lucu.
####
Hari-hari segera berlalu sekali lagi, saat ini akhirnya, Erlan dan Airin sudah berada di bandara bersiap untuk pergi ke Luar Negeri.
Ketika mulai memasuki pesawat, Airin sekali lagi menatap ke arah keluar pesawat, memikirkan bahwa dirinya akan pergi jauh dari tanah kelahirannya.
"Semua akan baik-baik saja, kita berdua pasti akan kembali dengan aman, dan sukses," kata Erlan mencoba memberikan semangat.
"Ya, Aku harap ketika kita kembali semua hal akan berjalan dengan baik,"
"Tentu saja, kita harus percaya pada kemampuan kita sendiri,"
Dan itu adalah awal dari perjalanan baru yang akan ditempuh oleh dua orang itu, demi mengejar mimpi mereka, juga demi rencana balas dendam mereka.
Sebuah Rencana, yang mungkin akan membawa mereka berdua ke sebuah takdir baru yang tidak akan pernah mereka kira...
__ADS_1