
Austin, menjadi bingung menatap Bagaimana ayahnya segera memiliki ekspresi pucat ketika mendengar sesuatu dari Paman Haikal.
Hubungan antara Kakak dan Adik itu, jelas tidak memiliki hubungan yang baik, semua orang di dalam Keluarga Castillo tahu fakta ini.
Namun Austin, juga tidak begitu tahu dengan hal-hal yang terjadi di masa lalu.
Yang dirinya tahu, Paman Haikal membatalkan acara Perjodohannya, lalu pergi kawin lari dengan seorang gadis.
Hal-hal yang membuat Kakeknya marah besar.
Hal yang terjadi berikutnya jelas bukan hal yang bagus, dirinya dengar, Ayahnya dulu malah menikah dengan Mantan Tunangan Adiknya itu, yaitu Ibu Kandung dari Kakaknya, Erlan.
Soal Ibu Kandung Erlan, Austin sendiri tidak begitu tahu, kejadian kecelakaan itu adalah ketika dirinya bahkan belum ada.
Itu mungkin ketika Kakaknya Erlan masih berumur 2-3 tahun, sekitaran umur Elvin yang sekarang.
Anak sekecil itu, sudah ditinggal oleh Ibu Kandungnya, itu pasti merupakan hal yang berat.
Namun, jelas ini bukan saatnya untuk memikirkan hal-hal di masa lalu.
Hanya saja, Austin merasa cukup terkejut jika ternyata Kakaknya Erlan itu di bantu oleh Paman Haikal.
Dan dilihat tentang seberapa besar perusahaan, HCL. Investment ini, seolah-olah rencana untuk menjatuhkan Perusahaan Castillo sudah direncanakan untuk waktu yang lama lebih daripada yang mereka kira.
HCL. Investment, sudah menjadi salah satu investor pokok yang meminjamkan dana-dana pada Perusahaan Castello selama bertahun-tahun ini, bisa dibilang perusahaan itu saat ini sudah memiliki pengaruh yang sangat besar kepada Castillo Group.
Dana yang mereka tanamkan dalam perusahaan adalah sesuatu yang sangat besar, dan jika mereka benar-benar menuntut agar semua dananya dikembalikan dalam waktu dekat itu jelas hal yang tidak mungkin, bisa dibilang, HCL. Group hampir mengendalikan kelangsungan hidup Perusahaan Castillo Group.
Dan hanya dengan beberapa tuntutan mereka, tidak hanya Perusahaan mungkin bisa di tutup karena pailit dan bangkrut, karena gagal bayar hutang mereka.
Bisa juga, mereka mengakuisisi Perusahaan milik Castillo Group secara paksa, ya itu tadi, satu-satunya cara agar Castillo Group selamat, menyerah bagian Saham Perusahaan milik dirinya dan Ayahnya, pada mereka sebagai bentuk untuk pelunasan utang.
Yang itu artinya, porsi yang mereka miliki termasuk yang Kakaknya Erlan miliki, sudah cukup untuk menguasai perusahaan Castillo sepenuhnya, dan dirinya dan Ayahnya bisa didepak kapan saja oleh mereka tergantung suasana hati mereka.
Seolah-olah semua itu memang sudah direncanakan dan perusahaan sudah masuk perangkap itu dengan tepat sasaran, sehingga tidak bisa melarikan diri dari perangkap.
Austin ketika memikirkan ini wajahnya juga menjadi pucat.
Ini membuat dirinya tidak bisa berpikir, kira-kira dendam macam apa yang Paman Haikal miliki?
__ADS_1
Sampai berbuat sejauh itu?
"Mungkin lain kali saja Aku menyapa Kakak dan Keponakanku, Austin. Aku ini sebenarnya cukup sibuk, dan sedang rapat penting,"
Paman Haikal tersemyum kearah sepasang ayah dan anak yang memiliki wajah pucat itu.
Haikal jelas menikmati ekspresi pucat dari wajah kakaknya itu, yang seolah-olah sudah tidak berdaya.
Namun ini masih tidak sebanding dengan apa yang dirinya rasakan dulu ketika kehilangan mending Istrinya yang sangat di cintainya itu.
Dengan itu, Haikal kembali masuk ke dalam ruangan dan kali ini menutup pintu ruangan itu dengan baik.
Erlan segera tersenyum pada Pamannya itu.
Yah, walaupun orang yang di luar itu adalah Ayahnya sendiri, namun Ayahnya itu memperlakukan dirinya dengan tidak adil, apalagi soal hal yang menimpa Almarhum Ini Kandungnya, yang kasusnya ditutup-tutupi.
####
Kejadian berikutnya, Max yang saat ini memiliki ekspresi pucat sekaligus marah itu hanya segera mengajak putranya itu untuk kembali ke kantor.
Emosi Max benar-benar memuncak sampai dia ada di ruangannya.
Perusahaan yang sudah dirinya dapatkan dengan susah payah...
Sangat pusing ketika memikirkan hal itu.
Ketika Max sedang marah itu dirinya tiba-tiba mendapatkan sebuah telepon, itu adalah telepon dari Istrinya.
Ketika menatap nomor telepon itu ekspresi Max menunjukkan sebuah kekesalan karena dirinya menjadi teringat sesuatu.
Sesuatu yang sangat penting ini yang memicu kemarahan adiknya, Haikal.
Max segera mengangkat telepon itu namun sebelum dirinya berbicara, orang yang berada di balik telepon itu segera berbicara lebih dulu,
'Max Sayang, kamu lihat di Toko Perhiasan X, ada koleksi Kalung Berlian baru, dan kali ini sangat indah dan cantik, kamu harus membelikan itu untukku. Ah, benar juga, bukankah kamu sebelumnya berjanji untuk membelikan mobil baru untukku? Kenapa sampai sekarang mobil itu belum tiba juga? Ini jelas harus mobil sport mewah keluaran terbaru,'
Mendengar hal itu, entah kenapa kemarahan Max menjadi memuncak jadi dia berkata dengan penuh emosi.
"Diamlah! Kamu itu ya dipikirkan hanya uang, uang dan uang! Beli ini, ini dan ini!!! Apakah kamu tidak memikirkan tentang bagaimana susahnya Aku mencari uang-uang ini? Kamu menghamburkannya bagaikan air,"
__ADS_1
Diana yang tiba-tiba kena marah itu jelas merasa tersinggung dan malah baik marah,
"Apa? Bukankah aku selama ini membantumu? menurutmu siapa yang selama ini bekerja dan membuatmu sampai ke posisimu yang sekarang itu? Jika bukan karena Aku, kamu itu pasti akan selalu kalah dengan Adik Laki-lakimu itu, Ayahmu pasti tidak akan memberikan Perusahaan itu padamu! Kamu sendiri juga tahu, Aku yang sangat berjasa untuk membantumu bisa mengusir Adikmu dari Rumah Keluarga Castillo, dan sekarang kamu bilang aku hanya memikirkan uang? Kamu seharusnya yang berpikir Apakah kamu itu sudah cukup berguna atau tidak selama ini,'
Diana mengatakan itu dengan nada penuh kesombongan dan arogan.
Max yang mendengar ini, segera menjadi tampah marah dengan sikap arogan dari Istrinya itu!
Memang benar, Diana sempat banyak membantunya ketika dirinya berniat untuk membuat Ayahnya membenci Adiknya Haikal, Diana yang mengatur semua ide dan rencana skema licik itu.
Namun bukan berarti dia bisa bersikap seenaknya.
"Kamu pikir aku ini bonekamu? Aku benar-benar sangat benci dengan kata-kata sombongnya itu,"
Lalu ada sebuah tawa dari balik telepon,
'Pfff, Apa? Bukankah memang selalu begitu dari awal? Kamu tidak bisa hidup tanpaku,'
Max rasanya ingin melemparkan ponselnya itu, saking marahnya, namun dirinya segera menahannya.
"Kamu pikir berapa banyak kekacauan yang telah kamu buat? Soal kecelakaan yang menimpa, Ibu Kandung Erlan itu? kamu terlalu membuat kekacauan saat itu jika sampai Ayah tahu tidak cuma kamu yang tamat riwayatnya namun Aku juga, banyak hal yang harus Aku Lakukan untuk menutupi semua perbuatan keji mu itu,"
'Keji apa? Bukankah Dari awal kamu memang tidak menyukai, Almarhum Istrimu itu? Aku hanya membantumu untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak berguna, lagipula posisi sebagai Nyonya Keluarga Castillo hanya milikku bukan miliknya, dan dia sudah tidak berguna,'
"Dia masih Ibu dari Putraku,"
Sekarang Diana segera tertawa lagi,
'Apakah itu penting sekarang? Kapan kamu bersikap sebagai Ayah yang baik? Seorang Ayah yang bahkan Iri pada Putranya sendiri, Max, Max, Aku tahu di dalam hatimu kamu sangat membenci Putramu Erlan. Dan lihatlah, sekarang apa yang Putramu itu coba lakukan? Dia berkomplot dengan musuhmu, dan berniat menikammu dari belakang,'
"Diamlah! Aku muak berbicara denganmu!"
Max segera menutup teleponnya.
Namun segera telepon itu kembali berdering, ya itu masih dari Istrinya Diana.
Max sebenarnya tidak ingin mengangkat telepon ini.
Jadi dia tidak mengangkatnya.
__ADS_1
Sampai kemudian ada sebuah pesan di ponsel, Max.
'Max, jangan kamu menjadi lembek, singkirkan saja mereka berdua dengan caraku yang biasanya, kalau mereka sudah tidak ada di dunia ini lagi, apalagi yang mereka bisa? Ini hal yang paling mudah dan simple, tidak usah di bikin ribut, dan pada akhirnya semuanya akan menjadi milikmu dan putra kita Austin,'