
Sore itu, Airin dan Erlan masih menikmati suasana Pantai, namun Airin melihat sepertinya Erlan masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Airin tidak berniat untuk bertanya terlalu jauh.
Hanya, mencoba untuk meredakan suasana,
"Aku rasa sebentar lagi matahari akan tenggelam, hawa menjadi cukup dingin,"
Erlan yang dari tadi tenggelam dalam pikirannya itu, segera menatap kearah Airin, melihat bahwa Airin hanya mengenakan pakaian tipis.
Padahal saat ini angin cukup kencang, dan suhu udara sudah mulai cukup dingin.
Erlan bisa merasakan angin sepoi-sepoi menerpa keadaan mereka, angin yang membawa hawa dingin dari laut.
"Kamu benar, ini cukup dingin," kata Erlan lalu segera melepaskan jaketnya, dan memakainya pada Airin, tanpa mengatakan apa-apa.
Airin cukup terkejut dengan tindakan tiba-tiba ini, dan hanya memeluk jaket yang dipakainya itu, mencoba mencari kehangatan dari sana.
Jaket yang masih menyimpan beberapa aroma harus dari Erlan, Airin diam-diam menghirup aroma menyegarkan itu.
Pemandangan yang Airin lihat disebelahnya sudah cukup untuk mengalihkan pandangannya dari arah matahari yang saat ini mulai tenggelam.
Ya, Erlan saat ini terlihat sangat tampan dengan latar belakang matahari tenggelam dan pantai.
"Wow, lihat matahari akhirnya tenggelam, benar-benar sangat indah,"
Namun dirinya tidak mendengar balasan dari Airin, jadi Erlan segera menatap kebelakang, kearah Airin, tatapan mereka lalu segera bertemu.
Ini membuat Erlan menjadi penasaran,
"Kenapa kamu menatap kearahku?"
Airin masih tenggelam dalam pikirannya, memikiran soal ciuman sebelum mereka pergi kesini.
Buah keinginan yang tiba-tiba muncul ketika dirinya menatap Erlan saat ini.
Ya, saat matahari tenggelam dan sebuah ciuman.
Itu memang sebuah momen yang sangat cocok.
Jadi secara refleks, Airin segera berkata lagi,
"Bagaimana jika kita melakukannya lagi?"
Itu adalah sebuah pertanyaan, yang awalnya membuat Erlan binggung.
Airin yang menyadari perkataan bodohnya itu segera menutup mulutnya dan menatap kearah lainnya.
"Lupakan apa yang aku katakan,"
Sekarang, Erlan akhirnya mengerti kemana arah pembicaraan itu.
Hal-hal soal sebelumnya, agar terbiasa satu sama lainnya.
Jadi, tanpa banyak kata, Erlan segera menarik Airin mendekat kearahnya, segera bibirnya menempel ke bibir merah muda Airin, membuat Airin membelalakkan matanya karena kaget.
Tatapan mereka segera bertemu dalam jarak yang begitu dekat, juga tanpa kata-kata keduanya mengerti apa yang dilakukan.
__ADS_1
Airin segera meletakkan tangannya ke leher Erlan, membuat posisi dirinya terasa lebih nyaman.
Dan ciuman itu segera berlanjut menjadi lebih dalam.
Keduanya, seolah tenggelam dalam ciuman itu lagi, melupakan matahari tenggelam yang saat ini terlihat sangat indah.
Tepat ketika Airin melepaskan ciumannya sesaat, dirinya tanpa sengaja menatap kearah jauh, dari kejauhan di pantai ujung, ada sosok sosok yang terlihat familiar.
Ini membuat Airin akhirnya berpikir, ah jadi begitu ini memang hanya bagian dari rencana mereka untuk menunjukan kemesraan mereka?
Tidak lebih dan tidak kurang.
Namun walaupun dirinya mengerti entah kenapa ada perasaan yang tidak nyaman.
Sudahlah, Airin tidak terlalu memikirkannya.
Erlan sendiri, tidak tahu apa yang dilihat Airin, karena tatapan matanya dari tadi hanya menatap wajah wanita yang ada dihadapannya itu.
Walaupun ini hanya sebuah latihan, namun dirinya sepertinya terlalu tenggelam dalam hal ini, mungkin dirinya yang menjadi mengabil keuntungan disaat seperti ini.
Erlan tahu, dirinya tidak bisa seperti ini, namun melihat ekpersi Airin sebelumnya, membangkitkan sebuah keinginan untuk mencium wanita itu.
Bibir lembut dan kecil yang membuatnya sedikit candu...
Hah, mungkin malam ini akan menjadi sesuatu yang panjang.
Erlan menyakinkan dirinya sendiri diagar bisa menahan diri nanti.
####
Erlan yang merasa tubuhnya sudah tidak nyaman itu, segera berkata,
"Aku akan mandi duluan, apakah tidak apa-apa?"
Airin yang saat ini duduk di tempat tidur hanya mengangguk dan berkata,
"Ya, kamu duluan saja, kuingin duduk dulu sebelum mandi,"
"Tentu saja,"
Erlan segera masuk ke kamar mandi setelah mengabil baju ganti.
Airin sendiri, segera menatap kearah ponselnya.
Namun jelas, pikirannya tidak bisa jauh-jauh dari Erlan yang saat ini berada di kamar mandi.
Suara pancuran air, terdengar dari sana.
Airin mau tidak mau membayangkan, Erlan yang sedang mandi.
Tubuhnya yang terbuka, tubuh terbetuk yang sangat indah, sesuatu yang benar-benar sangat mengoda.
Diam-diam Airin menatap ke Kamar Mandi, mana tahu pemandangan yang Airin lihat menjadi cukup mengejutkan.
Ya, bagian tertentu dari Kamar Mandi itu transparan, sepertinya bisa dilihat dari luar, nami orang yang ada di dalam tidak bisa melihat ke arah luar.
Astaga...
__ADS_1
Dari saja, jika saja tidak ada asap-asap putih dari air hangat, Airin akan bisa melihat tubuh Erlan secara penuh.
Namun, Airin ngerasa sudah cukup dengan sedikit pemandangan itu.
Wow, tubuh Erlan benar-benar sangat bagus untuk dilihat seperti saat tiga tahun lalu.
Ini memberikan Airin sebuah keinginan, jika dirinya ingin menyentuh kulit lembut itu.
Airin benar-benar tenggelam dalam pemandangan indah itu.
Baru ketika pintu kamar mandi terdegar akan dibuka, Airin tersadar dari lamunannya.
Jika apa yang barusan dirinya lakukan itu benar-benar melanggar privasi!
Jelas ini tidak bisa sampai ketahuan Kak Erlan!
Airin yang wajahnya menjadi merah itu segera memasuki selimut, pura-pura terlihat tidur.
Erlan mandi cukup cepat, tentu saja tidak menyadari soal dinding transparan dikamar mandi.
Aroma sabun mandi, segera memasuki penciuman Airin, aroma harum semerbak, yang malah membuat jantung Airin semakin berdebar.
Astaga, jika seperti ini...
Nanti malam apakah dirinya akan tahan?
Semoga saja, tangannya ini tidak nakal dan menyentuh beberapa hal dari Pria yang akan tidur disebelahnya itu.
"Airin? Kamu tidur?"
Erlan cukup terkejut melihat Airin yang saat ini menyelimuti dirinya dengan selimut.
Airin, jelas memilih berpura-pura tidur dari pada ketahuan mengintip.
Namun mana tahu, karena tubuh begitu lelah, Airin malah menjadi mengantuk dan perlahan-lahan tertidur sungguhan.
Membuat Erlan yang akhirnya membuka selimutnya itu menjadi terkejut.
Ya, Airin yang saat ini tertidur lelap tanpa penjagaan.
Erlan mengelus rambut Airin dan berkata,
"Astaga, bagaimana bisa kamu bisa tertidur begitulah yang seperti ini dan tanpa penjagaan, didepan seorang Pria? Astaga..."
Erlan yang menatap wajah tidur itu, entah bagaimana berpikir jika wajah itu sangat manis.
Membuat Erlan ingin menyentuhnya.
"Benar-benar wanita aneh,"
Erlan tertawa sendiri sambil menatap wajah tidur itu.
Malam ini, sepertinya akan menjadi malam yang panjang, dirinya pasti tidak akan bisa tidur dengan wanita secantik ini dan semanis ini disebelahnya.
Astaga...
Ini menjadi sebuah tantangan, apalagi tidak hanya malam ini mereka berdua berada di satu kamar.
__ADS_1