
Setelah mendengar perkataan mengejutkan Airin, Erlan tertawa sebentar lalu segera berkata dengan nada bercanda,
"Hmm, jadi kamu menyukai Pria Tampan, jika seperti itu kamu nanti bisa ditipu oleh banyak Pria Tampan di luar sana, kamu tahu kadang penampilan seseorang itu bisa menipu,"
Airin yang memang sudah merasa sangat malu dengan ucapannya itu, tidak tahu harus di berkata seperti apa ketika mendengar tanggapan Erlan.
"Huh, Aku jelas bukan seorang wanita yang gampang tertipu dengan trik murahan seperti itu, aku yakin dengan kemampuanku untuk menilai seorang Pria,"
Erlan merasa cukup terkecil dengan tanggapan itu seki dengan rasa ingin tahu dirinya bertanya,
"Owh benarkah itu? Jadi menurutmu, Aku ini Pria seperti apa?"
Airin sekali lagi langsung menjawab tanpa banyak pikir panjang,
"Seorang Pria Tampan dan baik hati,"
Namun lagi-lagi, Airin yang merasa jawabannya terlalu jujur dan blak-blakan ini merasa cukup malu.
"Hmm, jadi menurutmu, Aku ini Tampan dan baik hati?"
Airin yang sepertinya tidak lagi bisa menghindari pertanyaan itu segera menjawab dengan gugup.
"Ya... Tentu saja Kak Erlan Tampan, hanya wanita yang tidak bisa melihat yang bilang jika Kak Erlan tidak tampan, jika kamu bertanya pada semua orang pasti semua orang akan menjawab jika Kak Erlan tampan!"
Ya, Airin jelas mencoba memasukkan logika ini, kar dirinya tidak menjadi terlalu malu.
Erlan segera terdiam, sekolah sedang memikirkan perkataan Airin.
"Kamu menyukai Pria yang Tampan, dan menurutmu aku Tampan, apakah Aku sudah masuk kriteria mu?"
Erlan kelas mengatakan itu banyak dengan maksud bercanda, tidak terlalu memiliki banyak arti lain.
Airin jelas mengerti hal itu juga, lalu segera berkata,
"Itu rahasia. Sudahlah aku tidak ingin membahas soal tipe-tipe ini lagi,"
Erlan melihat jika wanita di depannya itu terlihat ingin mengalihkan pembicaraan.
Dirinya juga tidak mau terlalu ikut masuk dalam kehidupan pribadi Airin, dirinya tahu sebatas ini saja sebagai permulaan, itu sudah cukup.
"Lalu, apa sekarang yang ingin kamu bahas?"
"Emm, jadi apakah masalah soal Pameranku itu sudah Kakak urus?"
"Ya, Aku sudah mengurus semuanya, benar juga aku sebenarnya ingin membahas denganmu soal siapa-siapa saja tamu yang ingin kamu undang, Aku membawa daftarnya barangkali ada beberapa diantara tamu-tamu ini salah satu yang kamu kenal. Nanti kamu bisa memeriksa nya di kamar hotel,"
__ADS_1
"Tentu saja, bisa aja aku merasa gugup dengan pameran ini,"
Erlan lalu memahami Airin, dan mencoba untuk memberinya dukungan.
"Kamu itu bisa percaya diri lah pada kemampuan mu, aku selalu menyukai lukisan yang kamu buat itu adalah sesuatu yang sangat indah,"
Ketika mendengar ini, hati Airin merasa hangat, memang berikan kata-kata hangat dan tulus ini, dirinya mulai kembali melukis, kata sederhana itu yang membuat dirinya menjadi bersemangat dan percaya diri.
Setelah Airin memikirannya, ternyata peran yang diberikan Pria itu dalam mengubah hidupnya, lebih besar daripada yang dirinya kira.
Hal-hal kecil, tambahkan senyuman dan kata-kata tulus seperti itu, udah memberikan dampak di yang cukup besar pada dirinya.
Jika seperti ini, bagaimana dirinya bisa mencegah hatinya, untuk tidak menyukai pria yang ada di hadapannya ini?
Benar-benar Pria yang sangat mempesona dan berkharisma.
Apalagi, wajah Tampannya itu, dengan melihat wajah itu saja sudah membuat hari-hari menjadi segar.
Jika Kak Erlan benar-benar bisa menjadi miliknya itu pasti akan menjadi sebuah anugerah paling indah.
Airin juga merasa itu sedikit berlebihan, yang masih ingat panjang untuk mencapai itu semua.
####
Di sisi lainnya, disebauah kamar hotel milik Perusahaan Keluarga Castillo, terlihat ada sebuah pertengkaran.
Sylvia janji putus oleh suaminya itu tiba-tiba menjadi marah.
"Kamu itu apa-apaan main menuduhku sembarangan saja! Kamu pikir aku ini wanita apa?"
Austin yang mendengar itu segera menjadi marah,
"Dia jelas mantan suamimu! Dan setelah cukup mengenal dirimu aku sudah cukup mengerti kamu itu wanita seperti apa,"
Sylvia yang dimarahi itu, segera ikut marah,
"Apa-apa omong kosong yang kamu bicarakan itu? Kamu menuduhku berselingkuh?"
"Tapi memang kamu memiliki riwayat itu,"
Sylvia yang dituduh itu segera tertawa lalu membalik ucapan Pria yang ada di depannya itu.
"Austin! Kenapa kamu tidak mengaca pada dirimu sendiri? Menurutmu, apa yang merajuk ku duluan dalam hubungan terlarang ini?"
"Apa? Namun selama ini kamu tidak pernah menolak ajakan ku! Jelas kamu selalu menempel padaku setiap kali ada kesempatan!"
__ADS_1
"Itu kamu! Kamu yang selalu mencari kesempatan setiap kali Kakakmu pergi keluar kota!"
Austin yang mendengar itu, menjadi semakin marah, ya kemarahan yang datang tiba-tiba dengan tidak jelas ini.
"Sudahlah, sepertinya tidak ada gunanya membicarakan hal ini denganmu, namun kamu harus ingat Sylvia, Aku tidak akan menjadi bodoh seperti Kak Erlan, jika kamu berani berbohong pada kulihat apa yang aku akan lakukan padamu, tes itu bukanlah hal yang baik," kata Austin segera keluar dari kamar itu dengan marah.
Meninggalkan Sylvia yang saat ini menjadi semakin kesal dan emosi.
Ya, Sylvia merasa dirinya marahi tanpa alasan yang jelas.
Jelas, dirinya tidak melakukan apapun dengan Erlan, mereka hanya benar-benar tanpa sengaja bertemu!
Namun apaan, Austin malah menuduh nya seperti itu dan menuju dirinya wanita yang tidak benar...
Setidaknya sekarang dirinya tidak berselingkuh dengan siapapun!
Termasuk Erlan, namun apa-apa Austin yang tiba-tiba marah tidak jelas dan malah menuduhnya dengan tidak masuk akal?
Apakah Austin benar-benar tidak menaruh kepercayaan pada dirinya?
Padahal, dulu ketika dirinya masih bersama Erlan, Erlan tidak pernah menuduh dirinya macam-macam, dan selalu percaya padanya...
Hanya...
Sial, kenapa dirinya malah menjadi teringat kenangan masalalu?
"Mama? Katanya mau membelikan Elvin Kue?"
Elvin datang bersama pengasuhnya dari luar kamar setelah Austin pergi
Jelas, pengasuhnya tahu jika tadi ada pertengkaran dan tidak bisa membiarkan si kecil mendengarkan hal hal itu, itulah kenapa baru sekarang Elvin dibawa masuk setelah semuanya selesai.
Sylvia menatap kearah wajah kecil putranya itu, lalu mengelus pipinya.
"Ya, tentu saja, ada kue di kulkas, mari Mama ambilkan,"
"Yey!"
Sylvia memiliki perasaan rumit ketika menatap kearah putranya.
Ini sebenarnya sesuatu yang sudah lama di nanti, namun Elvin datang terlalu terlambat ketika semuanya sudah menjadi kacau.
Dan ketika melihat anak ini sekarang, entah kenapa membuat dirinya teringat pada Ayah anak ini.
Erlan Castillo....
__ADS_1
Ini hanya masalalu, Sial dan kenapa Pria itu kembali muncul dalam kehidupannya?