
Saat ini, Sylvia dibawa oleh perawat itu menuju ke ruang ICU tempat putranya Elvin sekarang dirawat.
Sylvia hanya bisa melihat ke dalam melalui sebuah kaca yang memisahkan ruangan itu dengan Elvin Putranya.
Saat ini, Elvin kecil terlihat sangat pucat dengan berbagai alat yang ada padanya, juga dengan luka di sana-sini.
Elvin yang awalnya tertidur itu, mulai mengalami kejang, semua perawat dan dokter yang ada di situ mencoba untuk memberikan beberapa perawatan untuk mengurangi kejang-kejang yang dialami.
Sylvia yang melihat kondisi itu merasa hatinya menjadi hancur, putranya yang masih sangat kecil...
Saat ini harus menanggung penderitaan, dan terluka parah, dirinya sangat tidak tega ketika melihat putranya saat ini terbaring di rumah sakit seperti itu.
"Jadi jika kita segera mendapatkan darah apakah kondisi putraku akan segera bisa membaik?" tanya Sylvia dengan cemas.
"Ya, saat ini dia memang kekurangan darah dan setelah operasi nanti kondisinya akan bisa lebih baik,"
Sylvia segera terdiam sebentar setelah mendengar hal itu, lalu dirinya mulai membuat keputusan.
Pada akhirnya hal-hal semacam ini sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Austin toh sudah tahu soal hal-hal ini.
Apa yang terjadi pada Pernikahan mereka nanti?
Hah, jika di pikirkan lagi Austin sekarang sudah kehilangan segalanya...
Baik, hal-hal itu sebaiknya dipikirkan nanti yang paling penting saat ini adalah keselamatan Putranya Elvin.
Putranya, jelas harus selamat.
"Perawat bolehkah aku meminjam ponselmu? Aku ingin menelepon seseorang, yang mungkin bisa mendonorkan darahnya,"
Perawat itu, segera meminjamkan ponselnya pada Sylvia.
Sylvia secara perlahan mulai menuliskan nomor telepon yang ada dalam ingatannya yang sudah dirinya hafal betul.
Namun, apakah orang itu masih memakai nomor ponsel ini?
Ada sedikit keraguan ketika dirinya mulai memencet nomor itu.
Nomor yang sudah lama tidak dirinya hubungi.
Sungguh mengejutkan, ternyata telepon itu segera tersambung.
Ada jeda cukup lama, namun tidak kunjung diangkat juga.
Sampai Sylvia hampir menyerah dan ingin mematikan telepon itu, dari ujung telepon segera terdengar suara maskulin yang cukup berat yang terasa cukup familiar, yang menunjukkan pemilik suara itu saat ini lelah,
"Hallo? Siapa ini yang menelpon malam-malam?"
"Ini Aku Erlan, Sylvia."
Erlan yang ada diujung telepon jelas merasa sangat kaget, lalu segera berkata dengan marah,
__ADS_1
"Ada urusan apa kamu meneleponku? Aku pikir kita sudah tidak memiliki urusan sama sekali,"
Terlihat, Erlan ingin segera mengakhiri telepon yang mengganggunya tengah malam itu, telepon yang sangat tidak penting dari orang yang sangat tidak penting.
Hanya mendengar suara dari wanita itu saja sudah membuat dirinya sangat kesal dan marah.
Entah nanti omong kosong apa yang akan dikatakan oleh wanita itu dari ujung telepon.
Sungguh dirinya pasti tidak akan percaya dan mendengarkan kata-katanya.
Seorang wanita penipu yang penuh dengan tipu muslihat.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, kumohon segera datanglah ke rumah sakit,"
Erlan jelas merasa kaget dengan permintaan tiba-tiba itu.
"Kenapa aku harus ke sana?"
"Saat ini, Elvin butuh donor darah, keadaannya cukup buruk,"
Ketika mendengar itu, Erlan jelas merasa cukup panik, namun segera mencoba mengembalikan emosinya.
"Seingatku, golongan darahku tidak sama dengan kamu ataupun Austin, bahkan walaupun kalian berdua tidak bisa mendonorkan darah kalian kenapa langsung menghubungiku?"
Sylvia yang mendengar kata-kata tenang tanpa kepanikan itu segera menjadi cemas, mencoba untuk mengatur nafasnya dan mengatakan kebenaran.
"Elvin adalah Putra Kandungmu, golongan darahnya, sama denganmu, O negatif,"
Erlan jelas tidak pernah mengira jika Sylvia akan mengatakan hal-hal gila semacam itu.
Entah apa yang ada di pikirannya dan entah apa yang dia rencanakan.
"Berhentilah berbicara omong kosong, Aku sudah muak dengan semua kebohongan yang kamu buat,"
"Aku tidak berbohong apapun padamu. Kumohon pergilah ke rumah sakit dan donorkan darahmu, kamu boleh tidak percaya padaku namun jika kamu tidak kesini, Kamu mungkin akan menyesal seumur hidupmu,"
Begitu Sylvia mengatakan itu, telepon segera dimatikan.
Erlan, yang baru saja terbangun dari tidurnya dan menerima telepon itu, saat ini menjadi terdiam.
Pikirannya tiba-tiba berubah menjadi sebuah kekacauan.
Terutama setelah mendengar hal-hal yang dikatakan oleh wanita dari ujung telepon.
Elvin?
Putra Kandungannya?
Namun bukannya dirinya cukup sulit untuk memiliki anak?
Tidak...
Bisa saja, Sylvia itu hanya mengatakan sebuah kebohongan lainnya.
__ADS_1
Dirinya jelas tidak bisa masuk dalam trik kebohongan yang dia buat, entah apalagi rencana jahat yang dia miliki.
Namun jika Elvin benar-benar Putra Kandungnya, apa yang harus dirinya lakukan?
Dirinya memiliki seorang anak dengan Sylvia....
Apakah dirinya harus percaya?
Erlan tiba-tiba teringat pada Airin, lalu bagaimana dirinya akan menjelaskan ini pada Airin?
Tidak, ini bukan saatnya terlalu banyak berpikir.
Mari, coba ke Rumah Sakit saja...
Namun bagaimana jika ini hanya semacam tipuan dan trik?
Dirinya jelas tidak bisa mengesampingkan hal-hal itu karena dirinya tahu seberapa licik Sylvia itu.
Apa dirinya tidak datang?
Tidak, dirinya sendiri tahu jika Elvin saat ini memang sedang dalam perawatan intensif di Rumah Sakit.
Apalagi setelah kecelakaan besar yang menimpanya sangat wajar jika anak itu mungkin akan membutuhkan donor darah...
Jika dirinya tidak datang...
Ya, Erlan juga sedikit takut dengan pikirannya, bahwa mungkin dirinya akan menyesal seumur hidup.
Jika Elvin benar-benar Putra Kandungnya...
Suatu hal yang tidak pernah terpikirkan, hal-hal yang sungguh tidak mungkin.
Erlan akhirnya, memutuskan mulai berdiri keluar dari ruangan itu.
Ketika melihat kearah kamar sebelah, Erlan merasa bersalah entah kenapa.
Baik, Mari sebaiknya segera pergi ke rumah sakit saja.
Kalau memang kondisi Elvin begitu buruk, dirinya jelas tidak memiliki banyak waktu untuk lebih lama berpikir.
Setiap detiknya sangat penting.
Dengan itu, Erlan segera pergi dari Apartemen itu, menuju ke Rumah Sakit.
Selama perjalanan ini, hatinya terasa tidak nyaman.
Jika di pikir lagi, mungkin yang di katakan Sylvia soal Elvin adalah Putra Kandungnya bisa benar.
Karena sejak dirinya bertemu dengan anak itu, dirinya memang merasakan kedekatan yang aneh dengannya.
Belum lagi, dirinya melihat bahwa untuk beberapa alasan, anak itu menyukai beberapa hal seperti dirinya ketika masih kecil.
Dan bagaimana reaksi Sylvia selama ini, yang benar-benar tidak menyukai bagaimana dirinya dekat dengan anak itu, dan selalu menghindar.
__ADS_1
Sebelumnya dirinya sempat curiga tentang sesuatu yang Sylvia sembunyikan.
Namun dirinya tidak pernah mengira jika yang disembunyikan adalah kebenaran bahwa Elvin adalah Putra Kandungnya.