Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 33: Mencurigakan


__ADS_3

Ini adalah sebuah pagi yang baru, hal yang pertama kali Airin rasakan dipagi hari adalah sebuah kehangatan yang memeluknya.


Telinganya, merasakan sesuatu yang geli seperti ada sesuatu disana.


Airin saat ini masih setengah sadar, namun perasaan hangat ini benar-benar membuat dirinya sangat nyaman sampai-sampai dirinya tidak ingin bangun.


Rasanya emang sangat nyaman berada dalam pelukan seseorang seperti ini.


Ketika Airin akhirnya menyadari pikirannya itu, Airin segera benar-benar bangun dan membuka matanya.


Hal yang dirinya lihat adalah sebuah tangan yang memerlukan erat.


Jelas saja, Airin jadi begitu kaget dengan tangan itu.


Tepat ketika Airin memalingkan wajahnya, dirinya melihat wajah yang familiar.


Wajah yang sangat tampan dan memukau hati.


Wajah yang benar-benar terlihat sempurna, maha karya yang maha pencipta yang sangat indah.


Hidung mancung itu, juga bulu mata yang sedikit panjang, kulit putih yang terlihat sangat halus, kombinasi dari semuanya membentuk wajah yang sangat tampan sangat enak untuk dilihat.


Apalagi, sebagai pengantar di pagi hari yang indah ini.


Bangun di dalam pelukan dari seorang Pria tampan, jelas menjadi impian dari begitu banyak wanita.


Wajah yang memenangkan hati, dan melegakan jiwa.


Itulah yang saat ini Airin rasakan.


Apalagi, saat ini Erlan tertidur pulas, wajah tidur itu memiliki sensasi ketenangan.


Airin selalu tenggelam menatap wajah pria yang memeluknya itu.


Tiba-tiba terbersit suatu pikiran, bahwa dirinya ingin selalu seperti ini, terbangun dalam pelukan Pria Tampan ini.


Melihat wajah tampan ini, yang tidak akan pernah membuatnya bosan.


Apalagi, sikap perhatiannya itu.


Membuat Airin tiba-tiba ingin memiliki sosok itu.


Airin diam-diam menyentuh pipi Erlan, bang silva untuk merasakan kehangatan di wajah itu.


Hal ini benar-benar membuat jantungnya berdebar.


Namun jelas, Airin tahu iya tidak boleh seperti ini.


Airin segera menjauhkan tangannya.


Dirinya tak pernah mengira jika dirinya benar-benar bisa tertidur pulas semalam.


Ya, tidak ada yang terjadi semalam, hanya ketika dirinya bangun agak malam, dirinya dibangunkan oleh aroma masakan tengah malam yang mengugah selera, masakan dari Erlan Castillo, yang rasanya tidak perlu diragukan lagi.


Airin menerima perlakuan hangat itu, keduanya makan malam dengan tenang, sampai saatnya tidur, kemudian mereka berdua mulai tidur di tempat tidur satu demi satu.


Benar-benar tidak ada hal-hal yang terjadi.


Hanya sebuah malam yang tenang, yang membuat Airin bisa tertidur lelap seperti itu.


Dan terbangun dalam keadaan yang begitu segar.


Kemudian, melihat wajah itu di awal pagi hari benar-benar membawa mood yang baik.


Airin tidak bisa untuk tidak berpikir, kenapa Kak Erlan begitu tampan?


Astaga...


Wajah ini, jadinya benar-benar ingin menyentuhnya lagi dan lagi, ingin mencium bibir manis itu lagi.


Namun Airin mencoba melupakan perasaan menggebu-gebu itu, kali ini mencoba untuk bangun, mencoba menyingkirkan tangan Erlan yang memeluknya.


Namun begitu dirinya bergerak, bukannya tangan itu menjauh, namun tangan itu lebih agresif untuk memeluknya, membawa Airin tengelam lebih dalam kedalam pelukan itu.


Sampai kemudian, Airin merasakan ada hal-hal keras yang menyentuh pahanya, sesuatu yang terasa seperti sebuah tongkat, dan terasa panas.


Lagi-lagi pikiran Airin melayang ke hal-hal semacam itu, karena kurang lebih tahu hal apa itu.


Sejarah Rahasia dari Pria yang memeluknya.


Hah, Pria Normal kabarnya memang memiki fungsi fisiologis pagi semacam itu, menandakan kalau Pria itu sehat.


Ya, sekarang Airin mulai bertanya-tanya, bagaimana bisa Kak Erlan itu kurang subur?


Padahal sepertinya, Kak Erlan itu terlihat sangat sehat?

__ADS_1


Miliknya selalu bersemangat dalam berbagai situasi, seperti pagi ini, atau malam tempo hari


Benarkah hanya efek obat?


Senjata mematikan itu benar-benar tidak memiliki amunisi yang baik?


Semakin memikirannya, Airin merasa malu sendiri, pikirannya terlalu fulegar itu.


Sampai akhirnya, Airin yang berusaha cukup keras akhirnya bisa lepas dari pelukan itu, tanpa membangunkan Pria yang memeluknya itu.


Atau-atau mereka berdua akan berada di situasi yang yang cukup canggung lagi seperti sebelumnya, karena melihat milik Kak Erlan di pagi hari....


Yah...


Airin tidak mau terlalu memikirkannya, segera keluar dari selimut dan menuju kamar mandi untuk cuci muka.


####


Tidak ada banyak hal yang terjadi pagi itu, Airin dan Erlan saat ini sedang menikmati sarapan mereka dengan damai sambil membicarakan beberapa hal.


"Bagaimana dengan Persiapan Pameran Pertamamu, di Negeri ini?" Tanya Erlan tiba-tiba.


"Aku rasa, persiapanya susah cukup bagus, tapi yang jadi masalah, aku masih bingung untuk mengundang siapa-siapa saja yang hadir ke Acara Pameranku ini,"


Erlan mendengar penjelasan itu segera mengangguk.


"Hmm, Aku mengerti maksudmu. Sebenarnya aku memiliki semacam ide,"


Airin yang mendengar itu segera bertanya,


"Huh? Apa itu?"


"Bagaimana kalau mengundang beberapa Tamu VIP Hotel ini untuk datang? Sekalian menjadi ajang Promosi untuk fasilitas Hotel ini, juga memberikan promosi pada Pameran Pertamamu, seperti yang Aku bilang, orang-orang Kaya di Kota J, pasti juga akan menyukai Karya-karyamu,"


"Wow, benar-benar ide yang sangat bagus, kamu benar-benar sangat pintar untuk menemukan ide yang cemerlang semacam itu, pantas saja Perusahaan milikmu, itu cepat melesat dan berkembang cepat,"


Erlan yang mendengar pujian itu jelas merasa senang, lalu segera tersemyum dan berkata,


"Hanya mencoba menemukan hal-hal yang efisien dari setiap masalah yang Aku temukan,"


"Tapi tidak banyak orang bisa menemukan masalah seefisien kamu, apakah tidak masalah soal undangan itu sebelumnya?"


"Tenang saja, Aku dengar orang-orang dari Kota J juga sangat menyukai liburan disini, Aku nanti akan melihat daftar Tamu VIP nya,"


Jelas, satu malasah sepertinya akan segera selesai.


Ini adalah sebuah pameran pertamanya jadi wajar jika dirinya cemas, takut-takut ini akan berakhir buruk.


"Terimakasih banyak,"


"Kamu tidak perlu terlalu sungkan padaku, seperti orang lain saja, adalah sahabat baik setelah semua,"


Airin mendengar kata-kata itu merasa cukup aneh, tahu apakah harus merasa senang atau sedih.


Sahabat baik ya?


Setelah sarapan, sesuai yang direncanakan, Erlan memutuskan untuk segera bertemu dengan Manager hotel, untuk mengemukakan itu yang dimilikinya itu.


Dan tidak lama sampai Erlan tiba di Ruangan Manajer dan mengurus hal-hal itu.


Semuanya berjalan dengan cukup lancar.


Namun memang butuh waktu cukup lama sampai Erlan memeriksa daftar Tamu VIP, mungkin dirinya akan meminta bantuan Airin nanti untuk memeriksanya.


Tepat ketika Erlan menatap daftar tamu VIP itu, ada sebuah nama familiar di sana.


'Eisha Will'


Ini sepertinya Kakak perempuan, Sylvia?


Kenapa dia malah menginap di Hotel ini?


Bukan di Hotel milik Saudara Iparnya?


Dirinya memang sempat tahu, jika hubungan Sylvia dengan saudara-saudaranya tidak begitu baik, Keluarga Sylvia juga memiliki beberapa hal rumit.


Sial, kenapa dirinya malah memikiran hal yang tidak penting?


Merasa dirinya kita tidak fokus lagi, Erlan kera membereskan dokumen yang ada di hadapannya, dan memasukannya kembali ke dalam map, setelahnya Erlan segera pergi dari ruangan itu ingin segera kembali ke kamar.


Namun sayangnya, ketika Erlan kembali ke kamar, tidak ada siapa-siapa di sana.


Mungkinkah Airin sedang jalan-jalan keliling hotel?


Setelah semua, ada berbagai tempat bagus di sekitar sini.

__ADS_1


Jadi Erlan memutuskan kembali turun untuk mencari Airin.


Mama tahu, ketika melewati salah satu taman di dekat hotel, dirinya malah bertemu sosok yang sangat tidak ingin dirinya lihat.


Itu adalah Sylvia yang saat ini sedang menemani Elvin bermain, entah Austin ada dimana, hanya ada dua orang itu.


Elvin kecil, terlihat sedang berlarian diarah sana, dan Sylvia mengejar anak itu dengan kewalahan.


Melihat Elvin yang bersikap begitu lucu sampai membuat Ibunya kwalahan itu entah kenapa begitu lucu.


"Elvin! Jangan berlarian! Nanti kami jatuh!"


Suara itu terdengar sampai arah Erlan, namun jelas di kecil itu masih tetap berlarian dengan semangat.


Terutama, setelah Elvin sebelumnya tidak sengaja melihat kearah Erlan.


Elvin dengan cerita berlari kearah Erlan.


Erlan yang tanpa sengaja menatap wajah kecil itu, hanya bisa merasa cukup senang juga.


"Paman Elan!"


Kali ini, Erlan segera menangkap Elvin kedalam pelukannya.


Ya, astaga...


Kenapa dengan anak ini?


Semakin Erlan memikirannya, perasaannya jadi semakin aneh.


"Owh? Elvin? Kamu sedang apa?"


"Elvin sedang bermain dengan Mama di Taman! Lihat, main kejar-kejaran!"


Suara kecil yang terdengar sangat ceria dan manis.


Sylvia yang sebelumnya tertinggal karena Elvin berlalu begitu cepat akhirnya menyusul, tidak mengira Putranya bisa lari sangat cepat, apalagi dirinya memakai sepatu hak tinggi.


Namun yang membuat Sylvia menjadi lebih cemas adalah ketika melihat sedang bersama siapa Elvin sekarang.


Lihat!


Bersama Erlan!


Kenapa dari semua orang, Elvin ini selalu bertemu dengannya?


Tatapan Sylvia segera bertemu dengan Erlan, dan tanpa menyapa, Sylvia langsung menarik Elvin kegendogannya, Erlan pun memilih melepaskannya karena tidak ingin memiliki masalah dengan wanita di depannya itu.


Namun, Elvin yang malah protes.


"Mama, tapi Elvin ingin digendong Paman Elan,"


Sylvia yang mendengar itu, segera menjadi emosi,


"Elvin, kenapa kamu itu sangat susah untuk diberi tahu? Kamu itu tidak bisa dekat-dekat dengan Pamanmu itu!!"


Sylvia yang tidak tahan itu, membentak putranya itu.


Membuat Elvin menjadi sedikit takut.


"Tapi, apa yang salah bermain dengan Paman?"


"Kenapa kamu itu susah dikasih tahu? Elvin, kamu itu jangan seperti ini dengarkan apa kata Mamamu! Dan lagi kenapa kamu tadi lari begitu cepat? Kamu itu sungguh nakal dan sangat susah untuk diberi tahu!"


Elvin masih kecil, jadi ketika tiba-tiba dibentak itu, air mata segera keluar dari mata anak itu, Elvin menagis kecil.


Erlan yang awalnya hanya melihat itu, menjadi tidak tahan lagi, apalagi menjadi tidak tega ketika Elvin menagis.


"Sylvia, kenapa kamu membentak anak kecil? Dia Putramu sendiri,"


Sylvia yang ditegur itu, jelas merasa tidak senang.


"Itu jelas bukan urusanmu, dan kamu berhenti mencoba mendekati Putraku,"


"Astaga, Sylvia kenapa kamu itu begitu sensitif? Elvin hanya anak-anak, dan tidak tahu masalah orang dewasa, lagipula dia masih Keponakanku, apa yang selah jika Aku dekat dengannya?"


Sylvia terserah berkata dengan tegas,


"Tidak! Kamu tidak boleh dekat dekat dengan anak ini,"


Erlan menatap wanita didepannya itu, yang saat ini terlihat sangat tidak masuk akal.


Terlihat panik dan cemas akan sesuatu, dan ini jelas mengagu Erlan.


"Sylvia, kenapa kamu malah bersikap aneh seperti itu? Kamu ini benar-benar mencurigakan. Aku tanya, Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?"

__ADS_1


__ADS_2