
Adegan pertemuan antara Elvin dan Austin tidak berlangsung lama, Erlan entah kenapa merasa sedikit ini ketika menatap Elvin yang memeluk Austin.
Erlan merasa dinginnya menjadi cukup sensitif apalagi setelah tahu bahwa Elvin adalah putra kandungnya, terlebih di dunia yang memang cukup menyukai anak itu.
Sylvia sendiri, tidak bisa berkata-kata ketika melihat putranya Elvin itu yang memang sangat dekat dengan Austin, hal-hal ini entah kenapa sedikit membuat dirinya merasa terganggu, karena sepertinya Putranya ini bahkan terlihat lebih dekat dengan Austin daripada dirinya sendiri yang merupakan Ibunya.
"Mana Elvin yang sakit?" tanya Austin.
Elvin yang baru saja melepaskan pelukan Austin itu segera mulai mengeluh dan menyebutkan bagian-bagian tubuhnya yang sakit mulai dari bagian tangan kepalanya dan bahkan seluruh tubuhnya sedikit susah untuk digerakkan.
Dokter sendiri sudah memeriksa anak itu sebenarnya setelah dia sadar dan kondisinya termasuk stabil.
Dan sekarang ketika suasana di ruangan itu cukup tenang, akhirnya Elvin menyadari jika ada Erlan dan Airin di dalam ruangan itu.
"Paman Elan dan Tante Ailin ada disini?"
Erlan yang akhirnya disapa oleh anak itu segera mendekat, sepintas tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Austin dan juga Sylvia.
Namun kali ini berbeda dari sebelumnya di mana dua orang itu tidak membiarkan dirinya untuk memeluk anak ini, setidaknya sekarang dirinya bisa bebas memeluk anak ini.
Elvin pun, tanpa ragu menerima pelukan dari Erlan.
Hati Erlan terasa sangat hangat ketika memeluk anak itu yang ternyata adalah darah kecil nya putra kan dunia sendiri yang tidak pernah dirinya tahu.
Sekarang akhirnya sadar, dan bisa lagi membuka matanya.
Sebenarnya, Erlan memiliki sebuah keindahan setelah anak itu sadar untuk memanggilnya Papa, namun melihat adegan barusan di mana anak ini sangat dekat dengan Austin dirinya menjadi sedikit ragu untuk mengatakannya.
Elvin saat ini baru saja sadar lebih baik untuk tidak mengatakan hal-hal macam-macam dulu.
Sayangnya Elvin saat ini masih membutuhkan waktu istirahat jadi orang-orang yang ada di ruangan itu segera diminta untuk keluar dari ruangan itu hanya boleh ada satu orang yang menjaga anak itu.
Austin awalnya ingin pergi dari sana namun tangannya segera dicegah oleh tangan kecil Elvin.
"Papa... Papa saja yang menemani Elvin,"
Austin yang tiba-tiba mendengar permintaan itu merasa sedikit ragu lalu segera bertanya lagi,
"Kamu tidak bersama dengan Mamamu? Atau mungkin dengan Paman Erlan?" kata Austin dengan nada keraguan di sana, terutama ketika memanggil nama kakaknya itu.
"Tapi Elvin ingin dengan Papa,"
Itu hanyalah sebuah permintaan sederhana dari anak-anak, Austin lalu segera menatap kearah Erlan yang hanya dibalas dengan anggukan.
Dan sekarang, tiga orang lainnya segera keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sylvia yang baru saja segera bertanya kepada Erlan,
"Erlan, kamu tidak ingin berada di dalam untuk menemani Elvin? Kenapa kamu malah membiarkan Austin disana? Kamu tidak ingin dekat dengan putra kandungnya sendiri?"
Namun bukan Erlan yang menjawab hal itu namun Airin.
"Sylvia, bukankah kamu adalah ibu anak itu? Tidakkah kamu melihat sendiri keinginan anak itu barusan bahwa memang dia ingin bersama Austin, menurutmu jika Austin pergi Elvin tidak akan menjadi sedih? Aku saja yang bukan ibunya langsung mengerti begitu melihat itu betapa dekatnya mereka berdua,"
Sylvia yang mendengar kata-katanya itu malah dibalas oleh Airin segera merasa kesal.
"Tidakkah itu hanya alasan yang kamu buat saja Airin? Kamu pasti tidak suka Erlan dekat-dekat dengan putraku,"
Airin merasa tidak ada gunanya untuk berbicara dengan wanita menyebalkan di depannya itu segera meraih tangan Erlan untuk pergi dari sana.
Mungkin nanti ada saatnya mereka bisa menemui Elvin lagi, setidaknya sekarang tidak ada orang yang berhak melarang Erlan bertemu Elvin, harusnya ini baik-baik saja?
Erlan sendiri dari tadi diam dan hanya mengikuti ke mana Airin ingin pergi.
Dua orang itu segera menuju ke arah kantin Airin merasa sedikit lapar dan ingin makan siang.
Airin memperhatikan tentang bagaimana suaminya itu dari tadi diam segera bertanya,
"Erlan? Apakah kamu tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa aku tiba-tiba sedang memikirkan soal Elvin, tentang bagaimana nanti cara memberi tahu aku adalah Ayah Kandungnya,"
"Kamu benar, Airin,"
Setelahnya pun mereka berdua mulai memesan makanan dan menikmati makan siang itu dalam damai setidaknya mereka sudah merasa lega melihat keadaan Elvin baik-baik saja.
####
Hari-hari berlalu dalam sekejap, dalam beberapa hari kondisi Elvin perlahan-lahan mulai membaik.
Dokter bilang, sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dari anak itu, hanya saat ini sedang masa pemulihan.
Erlan yang mendengar kata-kata sang dokter Akhirnya bisa menjadi lebih lega.
Dalam beberapa hari ini, tentu saja Erlan sangat rajin untuk datang menemui Elvin, bermain-main dengannya di Rumah Sakit.
Mereka perlahan-lahan menjadi dekat.
Namun tentu saja, di waktu-waktu ini Elvin juga menghabiskan waktu dengan Austin.
Dari sini, Erlan semakin bisa memahami dan melihat seberapa dekatnya mereka berdua.
__ADS_1
Dan Erlan juga melihat betapa sayangnya Austin pada Elvin.
Bahkan setelah Austin tahu, bahwa Elvin bukan Putra Kandungnya, Austin yang tetap begitu peduli dan merawat Elvin jelas membuktikan rasa sayangnya itu.
Dirinya sempat dengar juga soal kondisi Austin setelah kecelakaan itu, hal-hal yang tidak pernah dirinya kira juga...
Kecelakaan itu, benar-benar memiliki efek yang cukup fatal.
Lalu, ini membuat Erlan mulai memikirkannya, kenapa hari itu Austin sengaja menabrakkan diri ke arah truk itu...
Erlan kurang lebih mulai memikirkannya, mungkin dia juga tahu soal rencana Ibunya itu soal kecelakaan itu, namun melihat Elvin ada di mobil yang sama, seolah dia tidak perduli dengan semua rencananya itu, dia hanya ingin menyelamatkan Elvin.
Bahkan walaupun resikonya sampai kondisi Austin seperti ini, bahkan setalah tahu Elvin bukan Putra Kandungnya juga.
Rasa sayang Austin, sepertinya tidak pernah berkurang sedikitpun pada anak itu.
Benar-benar rasa sayang yang tanpa pamrih.
Erlan yang awalnya hendak masuk kedalam ruangan, akhirnya memutuskan pergi dari sana bersama Airin.
"Kenapa kita tidak jadi masuk?"
"Airin, aku pikir aku sudah memutuskannya,"
Airin yang ditanya itu segera menunjukkan ekspresi heran,
"Maksud Kak Erlan?"
Erlan segera memejamkan matanya dan menarik nafasnya untuk mencoba menenangkan dirinya agar bisa mengatakan hal berikutnya.
"Mungkin soal fakta Aku Ayah Kandung Elvin, aku akan merahasiakannya dari anak itu setidaknya sampai anak itu cukup mengerti, nanti di masa depan,"
Airin yang mendengar itu menjadi cukup terkejut,
"Tapi... Apakah kamu yakin soal keputusan itu?"
"Aku merasa ini adalah yang terbaik untuk semuanya, tapi Aku tidak tahu apakah Austin akan setuju soal ini, dan soal Sylvia, Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan padanya karena dia masih Ibu Elvin, hah hanya Aku merasa sedikit takut dia benar-benar hanya akan memanfaatkan Elvin,"
Ketika Erlan mengatakan itu, ternyata Austin yang tadi berada di dalam ruangan kebetulan mengikuti mereka berdua dan mendengar pembicaraan itu.
Jelas merasa cukup terkejut juga dengan keputus itu, sesuatu yang tidak akan pernah dirinya kira.
Austin pikir, Erlan akan langsung membawa anak itu begitu anak itu keluar dari rumah sakit.
"Kak Erlan serius?"
__ADS_1
Dua orang itu segera menatap ke arah sumber suara, Erlan lalu hanya tersenyum dan berkata,
"Lalu Bagaimana menurutmu? Apakah kamu masih ingin untuk merawat Elvin?"