Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 46: Cara Elite


__ADS_3

"Melihat Aku disini sebagai Perwakilan ER. Investment yang memiliki 10% Saham Perusahaan ini, Bukankah aku memiliki hak untuk berada di tempat ini? Kalian semua yang ada di ruangan ini setuju bukan?" Kata Erlan dengan nada penuh dengan intimidasi menatap ke arah semua orang yang ada di ruangan itu.


Beberapa orang yang ada di sana jelas merasa terdiam karena tidak tahu harus bersikap seperti apa.


Beberapa orang sempat menatap kearah CEO mereka, sambil sesekali menatap kearah Erlan, seolah-olah saat ini mereka sedang berdebat dalam diri sendiri tentang kepada siapa mereka akan berpihak.


Hal ini tentu sulit.


Namun CEO yang sekarang, masihlah pemilik saham Mayoritas.


Namun walaupun sekarang Erlan bukan pemilik saham Mayoritas, posisi kepemilikan sahamnya juga jelas tidak bisa diabaikan.


Lalu setelahnya, mereka menatap kearah Ayah mereka berdua, yang juga Ketua Direksi saat ini, Maximilian Castillo.


Max segera menatap ke arah Erlan dengan ekspresi tidak suka lalu segera berkata,


"Erlan, Apa maksudmu untuk membeli saham perusahaan ini? Apakah kamu benar-benar sengaja ingin memprovokasi Ayahmu dan Saudaramu?"


Erlan yang mendapat perlakuan dingin dari Ayahnya itu hanya tersenyum dan berkata dengan nada tenang,


"Apakah menurut anda seperti itu? Saya hanya membeli Saham Perusahaan ini, untuk keperluan Investasi, tidak ada maksud lainnya."


Austin yang mendengar itu, jelas saja merasa bahwa Kakaknya itu mengatakan kebohongan.


"Kamu jelas mengatakan omong kosong! Aku sangat tahu kamu memiliki maksud tersembunyi ketika membeli saham perusahaan ini bukan?"


Erlan lalu segera menatap ke arah adiknya itu dan berkata dengan ekspresi dingin,


"Lalu jika memang iya kenapa? Bukankah terserah padaku? Kalian pernah mengajarkan padaku bahwa uang adalah yang paling penting aku memiliki uang untuk membeli perusahaan ini, jadi apakah itu masalah untuk kalian?"


Kata-kata itu, benar-benar terdengar sangat sombong dan arogan, segera membuat seluruh ruangan itu menjadi diam.


Erlan segera duduk di kursi yang sudah disiapkan dengan Asistennya itu.


Melihat semuanya sepertinya diam seolah kehabisan kata-kata itu, Erlan segera berkata lagi,


"Bukankah seharusnya Rapat ini segera dimulai? Kenapa malah Semuanya diam seperti ini?"


Max segera mencoba menenangkan Austin agar tidak terpancing dan terbawa emosi karena itu jelas akan berakibat menurunkan reputasi Putranya itu.


Bagaimanapun juga, beberapa Anggota Direksi disini, Masih ada orang-orang sisa yang ada di pihak Ayahnya, yang mungkin juga ada di pihak Erlan, jika sekarang mereka terpancing bisa juga orang-orang itu malah akan mendukung Erlan.


10% itu jelas porsi yang cukup banyak.


Austin menatap ke arah ayahnya itu dengan ekspresi tidak puas, namun dirinya tetap menurut dan segera duduk kembali.


Maximilian sebagai ketua Direksi, segera berkata lagi,


"Baik, karena ini sudah saatnya, Rapat ini akan segera di mulai. Untuk pertama, hari ini kami akan membahas soal pendapatan Perusahaan belakagan ini, yang sedang mengalami penurunan, untuk lebih jelasnya, CEO akan memberikan rincian laporan keuangan kali ini,"


Austin segera menyalakan laptopnya, dan mulai menjelaskan tentang keadaan Perusahaan saat ini, dimulai dari beberapa sektor yang saat ini mengalami penurunan.

__ADS_1


Juga soal beberapa proyek yang saat ini mengalami kemunduran, juga soal hutang Perusahaan yang sebentar lagi jatuh tempo.


Bisa di bilang, saat ini perusahaan sedang mengalami krisis.


"Begitulah saat ini yang terjadi, iklim bisnis berkembang dan sepertinya Perusahaan kita ikut terbawa suasana Pasar, membuat perusahaan kita menjadi dalam keadaan ini,"


Austin mencoba menjelaskan situasinya dengan benar, bahwa hal-hal ini terjadi karena faktor Eksternal yang tidak bisa terelakan.


Namun, ada Erlan disana yang segera mengangkat tangannya dan bertanya,


"Tunggu, Bukankah ini hanya karena Manajemen Perusahaan saat ini kurang Profesional? Mengikuti Pasar Global apa? Aku melihat perusahaan-perusahaan lain saat ini baik-baik saja, hanya perusahaan yang memiliki manajemen yang buruk, yang memiliki Krisis, karena mereka tidak bisa mengikuti perkembangan pasar dan tren Bisnis terbaru. aku sudah melihat laporan keuangan ini dan sempat aku membandingkannya dengan Perusahaan lainnya,"


Austin yang mendengar itu jelas merasa sangat kesal, jelas sekali ini menyinggung soal dirinya yang tidak becus menjadi CEO.


Namun kata-kata Erlan masih belum selesai.


"Aku menilai Manajemen Perusahaan saat ini, benar-benar sangat buruk untuk mencari peluang, padahal jelas banyak peluang-peluang baru, namun Manajemen perusahaan ini benar-benar tidak bisa melihatnya, misalnya saja saat ini sedang Tren dalam Tren Digital, disaat seperti ini, bukankah lebih baik memfokuskan pikiran pada Proyek-proyek yang menerapkan digitalisasi? Misalkan, produk Elektronik dan Pengiriman Barang, Perusahaan ini benar-benar gagal melihat peluang yang bagus ini sangat sayang sekali, hah harusnya pihak Managementnya harus lebih pintar daripada pasar, sehingga tidak merugi besar seperti ini,"


Beberapa orang yang disana, juga merasa bahwa kata-kata Erlan cukup masuk akal.


"Itu benar, apa kata Pak Erlan. Seharusnya masih ada banyak peluang belakangan ini namun kenapa Management tidak bisa mengambil peluang-peluang itu?"


Austin sekarang merasa terpojok, melihat beberapa orang anggota direksi itu terlihat sangat setuju dengan kata-kata Erlan.


Yah, bukannya dirinya tidak melihat peluang namun....


Semuanya tidak berjalan lancar sesuai apa yang dirinya inginkan.


Dan setelah Austin memikirannya, sepertinya pelakunya terlihat sangat jelas.


Austin ingin marah, namun jelas dirinya harus tetap menjaga image-nya.


Sungguh, Kakaknya Erlan itu, sangat pandai berbicara seolah-olah ini semua memang salah Pihak Management!


"Pihak Manajemen sudah melakukan apa yang kamu bisa dan ke depannya akan mencoba memperbaiki soal masalah-masalah ini kalian tenang saja aku akan memastikan bahwa semua masalah-masalah ini akan terselesaikan," kata Austin dengan tenang, mencoba untuk menjaga ekspresinya.


Erlan yang ada disana, lalu segera tertawa dan berkata,


"Lalu Bagaimana jika Pihak Management gagal dalam mengatasi krisis ini? Apakah anda sebagai CEO akan bertanggung jawab dan mulai mengundurkan diri dari posisinya?"


Austin yang mendengar itu, jelas langsung tidak bisa menahan emosinya.


"Diam saja kamu, Kak Erlan! Jangan bicara sembarangan! Aku tidak akan mundur dari posisiku ini aku pasti akan bisa mengatasi krisis ini,"


"Aku hanya mengatakan seandainya Kenapa kamu menjadi begitu tidak sabar seperti itu? Dan lagi kamu tidak berani menerima tantangan ini Apakah kamu tidak yakin dengan kemampuanmu sendiri?"


Austin terkadang bisa menjadi seseorang yang sangat emosional.


"Ya? Siapa yang takut? Aku pasti akan menyelesaikannya semua ini,"


"Kamu akan mundur jika gagal?"

__ADS_1


Sebelum Austin mulai berbicara lebih banyak omong kosong lagi karena pancing Erlan, Max sudah lebih dulu menambahkan.


"Mohon tenang dulu, ini semua akan mencari solusi sebisa kami dan soal pergantian Pihak Management ini bukan saatnya untuk membicarakan hal itu karena yang paling penting saat ini adalah kita semua harus saling mendukung satu sama lain untuk bisa memecahkan krisis dalam perusahaan ini bukan malah menjatuhkan satu sama lain Aku harap semua orang bisa mengerti dan paham tentang ini."


Max mencoba untuk menengahi situasinya sebisa mungkin agar Putranya Austin tidak terpojok.


Rapat itu, benar-benar menjadi sesuatu seperti medan perang, dengan kata-kata sebagai senjatanya.


Dari awal sampai akhir, Erlan selalu bisa mencari celah dari perkataan Adiknya atau dari perkataan beberapa Pihak Management lainnya.


Beberapa anggota Direksi yang melihat Erlan, benar-benar merasa sangat kagum dengan kemampuannya itu.


Ya, sudah mereka duga dari mantan CEO mereka yang sangat kompeten, dulu ketika Perusahaan masih di bawah pimpinannya, Perusahaan memasuki masa keemasan, ingat Sayang sejak kemundurannya perusahaan ini juga sempat mengalami kemunduran dari pihak manajemen yang kurang baik dan profesional.


Sangat sayang, talenta seperti itu harus diusir dari perusahaan ini dan diturunkan dari posisinya.


####


Disisi lainnya, saat ini Airin sudah tiba di depan sebuah Rumah Mewah.


Didalam sana, saat ini sedang diadakan sebuah pesta, pertemuan sosialita beberapa Nyonya Kaya di Kota itu.


Airin kebetulan mendapatkan tanda tangannya dari salah satu Nyonya Kaya yang sangat menyukai lukisan yang dirinya buat.


Airin benar-benar merasa sangat beruntung bisa mendapatkan undangan untuk datang ke pesta itu.


Jelas, disana berdasarkan data yang dirinya miliki, Sylvia ada disana.


Bukankah ini saatnya untuk membuat malu seseorang?


Yos, dirinya sudah merencanakan ini semua, dan ini jelas tidak boleh gagal.


Kak Erlan, saat ini yang sedang mengikuti rapat pasti juga sudah memerankan perannya dengan baik.


Sekarang giliran dirinya yang harus memerankan perannya dengan baik.


Untuk mengungkapkan kebenaran dari hal-hal yang terjadi 3 tahun yang lalu.


Airin dengan tekad itu segera memasuki rumah itu.


"Nyonya Airin, Anda Akhirnya datang, Aku baru saja memberitahu beberapa temanku soal lukisan yang anda buat itu benar-benar indah lihatlah aku sudah memajang lukisan itu di Aula utama tempat ini," kata Tuan Rumah Pesta itu, yang juga merupakan seseorang yang sangat menyukai lukisan Airin itu.


Airin juga melihat tentang bagaimana lukisannya dipajang di awal pesta jelas merasa sangat bangga.


"Nyonya Miranda benar-benar terlalu berlebihan, namun saya sangat senang bisa melihat Anda menghargai lukisan saya, Anda memang memiliki selera yang sangat bagus tentang Seni, Nyonya Miranda. Lukisan ini pernah memenangkan salah satu kompetensi di Luar Negeri,"


Airin benar-benar berbaur dengan baik dengan Para Nyonya Keluarga Kaya disana, beberapa Nyonya Kaya itu, semoga terlihat mulai mengagumi lukisan yang Airin buat, dan mulai berpikir untuk datang ke Galeri milik Airin.


Sampai kemudian, seseorang memasuki pintu Aula itu.


Ya, itu adalah Sylvia yang baru saja datang.

__ADS_1


Airin yang melihat targetnya sudah datang itu segera tersenyum.


__ADS_2