Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 69: Kecurigaan


__ADS_3

Erlan pertama-tama setelah keluar dari rumah sakit dia segera mengabari pada Airin soal kejadian yang dialaminya.


Airin yang mendengar bahwa pria itu ternyata malah terlibat dengan suatu kecelakaan jelas menjadi sangat khawatir dan panik,


"Lalu bagaimana keadaanmu sekarang? Kamu di mana sekarang?"


"Aku saat ini baik-baik saja kamu harus yakin itu,"


"Aku akan menyusulmu ke rumah sakit,"


"Tidak perlu, aku akan segera kembali ke apartemen kamu juga sebaiknya kembalilah ke apartemen nanti aku akan menyuruh beberapa pengawal dan sopir untuk menjemputmu,"


"Tapi apakah kamu benar-benar akan kembali ke apartemen?"


"Ya, untuk makan malamnya aku rasa sebaiknya ditunda besok," kata Erlan yang terlihat akhirnya sudah membuat keputusan.


Ada kejadian buruk semacam ini jelas ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.


Dari kecelakaan yang dirinya alami sebelumnya dari orang yang mencoba menyerempetnya sampai ada truk yang hampir menabraknya jelas ini bukan kecelakaan biasa.


Dirinya menjadi sedikit ceroboh karena tidak membawa pengawal sebelumnya, lagi pula awalnya dirinya memang hanya berniat untuk membeli bunga lalu segera kembali ke restoran.


Dirinya juga menjadi khawatir soal keadaan Airin takut-takut nanti terjadi sesuatu padanya mungkin dirinya harus menyuruh lebih banyak pengawal untuk mengawalnya pulang dan untuk menjaganya nanti.


"Baiklah, Kak Erlan, aku akan segera pulang mari nanti bertemu di apartemen,"


"Kamu jangan pulang sendiri, kamu menunggu saja pengawal menjemputmu,"


"Sungguh apa-apa untuk pulang sendiri lagi pula apartemen tidak jauh,"


"Airin, aku mohon tunggulah saja dan ikuti kata-kataku,"


Erlan mengatakan itu dengan nada tegas, membuat Airin menjadi binggung, namun dirinya segera menurut.


"Baiklah aku akan tetap di sini sambil menunggu pengawal datang, dia orang yang biasanya bukan?"


"Ya, orang yang biasanya, pokoknya kamu harus hati-hati di jalan dan ketika tiba di apartemen jangan pergi ke manapun lagi,"


Airin sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut namun dirinya tahu ini bukan saatnya dirinya bertanya, hanya bisa menurut setidaknya untuk menghilangkan kekhawatiran dari pria yang ada di ujung telepon.


"Ya aku tidak akan kemana-mana nanti aku juga akan menyuruh pengawal untuk menjaga apartemen, kamu juga harus hati-hati,"


Mendegar kata-kata hangat itu, Erlan merasa cukup senang, lalu segera membalas,


"Tentu saja aku akan berhati-hati,"


Begitu telepon itu ditutup, Erlan segera menelepon nomor lain,


"Selamat Malam Paman Haikal,"


Erlan mulai menceritakan kejadian yang dialaminya itu kepada pamannya itu, Haikal tentu saja sangat kaget ketika mendengar kejadian semacam itu terjadi pada keponakannya.


Namun segera Haikal menceritakan hal-hal lain kepada Erlan yang juga dialaminya barusan.


"Sebenarnya sekitar sore tadi juga ada seseorang yang mengincarku, sangat beruntung aku selalu waspada dan membawa banyak pengawal jadi hal-hal terburuk bisa di atasi,"


"Ada seseorang yang mencelakakan paman?"

__ADS_1


"Tepat, Aku pikir ini komplotan orang yang sama yang juga membuatmu kecelakaan,"


Erlan yang mendengar itu segera tertegur dan mulai berpikir bahwa apa yang dikatakan pamannya itu cukup masuk akal.


Jelas ada orang-orang mengincar dirinya dan pamannya Haikal.


Sebuah rencana jahat yang terorganisir dengan baik.


"Paman benar ini jelas ulah dari seseorang,"


"Tapi kamu tenang saja aku sudah berhasil menangkap salah satu dari komplotan orang itu aku yakin akan segera menemukan sumbernya, mungkin nanti kita bisa menemukan semua kebenaran dan bukti di balik semua ini yang mengarah pada dalang insiden ini,"


"Ya, Paman, Paman benar-benar cukup hebat untuk bisa menangkap pelaku, aku berharap dalangnya segera ditemukan dan kita menemukan bukti yang kuat, sebenarnya aku cukup curiga dengan beberapa orang,'


"Aku tahu siapa yang kamu maksud, perencanaan kecelakaan yang profesional ini kemungkinan besar memang ulah seseorang, musuh pasti kita, sekarang yang paling penting waspada saja, kamu perlu menyuruh para pengawalmu dan mengawalmu mulai dari sekarang, kamu benar-benar harus lebih hati-hati di masadepan,"


"Tentu Paman, Paman juga sebaiknya lebih hati-hati,"


Setelah itu telepon itu pun segera diambil segera menelepon para pengawalnya itu untuk memberinya tugas segera menjemput Airin dan dirinya, terutama untuk menjaga keselamatan Airin, siapa yang tahu jika Airin juga dijadikan target bukan?


Pada akhirnya, tidak lama sampai orang-orang yang menjemput Erlan datang dan segera mengantarkannya pulang ke apartemen.


Dalam perjalanan itu Erlan tentu saja tidak bisa tenang.


Hatinya saat ini entah kenapa terasa tidak nyaman, ini mungkin karena dirinya juga mengkhawatirkan Elvin.


Walaupun kecelakaan itu bukanlah sesuatu yang dapat dirinya juga, jika saja dirinya tidak mengajak anak itu masuk ke mobilnya, mungkin anak itu akan baik-baik saja sekarang.


Namun percuma untuk memikirkan seandainya, dirinya tidak bisa apa-apa, dan hanya berharap anak itu bisa segera pulih seperti sebelumnya.


Memikirkan keadaan Elvin yang tadi penuh dengan darah saja sudah membuat dirinya begitu sedih.


Yah, mungkin memang karena mereka punya hubungan darah yaitu paman dan keponakannya.


Erlan tidak mau terlalu pusing untuk memikirkannya lagi.


####


Saat ini, suasana di Rumah Sakit masih cukup tenang, terutama setelah semua orang mendengar kabar soal keadaan Austin saat ini.


Diana, terutama sekarang terlihat begitu sedih memikirkan nasib putranya itu.


Dia hampir marah, melihat tindakan Austin sebelumnya, jadi ketika Suaminya memeriksa keadaan cucu mereka di ruangan lain, Diana memarahi Austin.


"Aku ingin bertanya padamu kenapa bisa kamu melakukan hal bodoh itu dan terlibat dalam kecelakaan itu?"


"Elvin ada di dalam mobil itu menurut Mama apakah aku harus membiarkan putraku satu-satunya itu terlibat dalam bahaya? Dari awal aku tidak menyukai cara ini cara ini benar-benar yang paling buruk dan sekarang kita semua harus menanggung akibatnya,"


Diana tidak bisa berkata-kata lagi, karena dirinya tidak pernah mengira jika rencananya akan menjadi senjata makan tuan.


"Sepertinya percuma berdebat denganmu, sekarang kita hanya bisa berharap jika kondisi Elvin baik-baik saja,"


Malam itu, beberapa orang tidak bisa tidur dengan tenang karena memang keadaan Elvin masih cukup parah, terutama Austin dan Sylvia.


Di tempat lainnya, Erlan yang sudah bertemu Airin itu, tidak melakukan begitu banyak percakapan, hanya Erlan menjelaskan tentang kejadian yang menimpanya termasuk tentang kondisi Elvin di Rumah Sakit.


Airin, yang mendengar itu merasa cukup sedih juga hanya bisa berharap jika kondisi anak itu segera baik.

__ADS_1


Karena semua kejadian yang menimpa Erlan, Airin meminta Erlan untuk segera istirahat saja.


Erlanpun mencoba untuk tidur di kamarnya, namun tetap saja suasana hatinya tidak begitu baik dan tidak bisa tidur.


####


Saat ini pas tengah malam, kodisi di Rumah Sakit menjadi gawat.


"Dokter, ista harus segera melakukan tindakan operasi tambahan untuk anak ini,"


"Ya, lakukan saja operasinya segera hubungi keluarganya untuk meminta persetujuan,"


"Tapi Dokter, untuk darahnya saat ini yang cocok untuk pasien sudah habis baru saja dihabiskan untuk operasi sebelumnya,"


"Apa? Bagaimana bisa habis kenapa kamu tidak memberitahu sebelumnya,"


"Sebelumnya memang belum habis, hanya saja ada pasien lain yang juga membutuhkan darah itu,"


"Baiklah pokoknya kabari ini pada keluarga mungkin ada golongan darah mereka yang cocok, dengar orang tua anak itu juga ada di sini harusnya salah satu dari mereka golongan darahnya cocok,"


"Baik, saya akan memeriksa golongan darah mereka berdua dan nanti akan menyampaikannya pada mereka,"


Dengan itu, Perawat segera melakukan pemeriksaan, namun mana tahu jika golongan darah dari orang yang terdaftar sebagai orang tua anak itu, tidak cocok.


Dia menjadi binggung, namun tetap segera melaporkan hal ini pada pihak keluarga.


"Saat ini kondisi Elvin, kembali memasuki masa kritis dan dia harus segera dioperasi,"


"Apa? Kalau begitu segera dilakukan operasi saja," kata Austin dengan tengas.


"Namun saat ini golongan darah yang cocok dengan Elvin sedang kosong, membuat kami dalam kesulitan dalam mengambil tindakan, pendarahannya cukup besar, dan memang membutuhkan darah,"


"Kalau begitu ambil darahku atau Istriku, maaf Pak Austin, namun golongan darah kalian berdua tidak ada yang cocok dengan anak itu,"


"Apa?"


Sylvia yang baru saja bangun, karena mendengar keributan jelas mendengar tentang kata-kata perawat itu.


Astaga bagaimana ini...


"Golongan darah anak itu O negatif, golongan darah ini cukup sulit,"


Austin yang mendengar itu jelas merasa sangat syok.


O negatif


Bukankah itu golongan darah Kakaknya Erlan?


Namun kenapa, Elvin bisa memiliki golongan darah yang sama dengannya?


Golongan darah Kakaknya Erlan, berasal dari Almarhum Ibu Kandungnya.


Lalu Elvin....


Jika memikirkan lagi beberapa kemungkinan...


Tidak...

__ADS_1


Ini jelas tidak mungkin bukan?


__ADS_2