
Airin menatap kalung liontin itu, namun sebelum Airin mengecek lebih detail kalung itu, ada panggilan dari arah luar kamar.
"Airin, Apakah kamu sudah menemukannya?"
Airin hampir saja lupa tujuannya untuk memasuki kamar itu yaitu untuk mencari hadiah.
"Ah, aku belum menemukannya,"
Mendengar itu, Erlan yang ada di luar segera masuk dan mendatangi tempat di mana Airin berdiri.
"Huh? Tadi kamu letakkan di mana memang?"
Erlan bertanya pada Airin, namun kemudian tatapan matanya menuju ke arah sebuah liontin yang dipegang Airin.
"Entahlah, Aku lupa... Hanya, Barusan aku menemukan sebuah liontin, ini lihatlah ini cukup mirip dengan milikku yang hilang saat kecil,"
Erlan lalu mengambil liontin dari tangan Airin.
Erlan segera menunjukkan ekspresi terkejut ketika melihat liontin ini.
Ini adalah liontin yang dulu diberikan oleh anak perempuan yang dulu menolongnya.
"Mirip milikmu?"
Airin yang ditanya itu lalu segera menunjukkan liontin yang dipakainya, ada sebuah liontin lagi disana, lalu Airin memasangkan kedua liontin itu menjadi satu, membentuk sebuah not nada baru.
"Ya, lihatlah, ini benar-benar mirip seperti pasangan liontin yang hilang milikku, dulu ini adalah peninggalan Almarhum Ibuku, sangat kebetulan melihat sesuatu seperti ini, ini hanya sangat mirip mungkin? Jadi dari mana Kak Erlan mendapatkannya?"
Erlan terdiam, namun bukannya menjawab pertanyaan itu hanya bertanya balik soal pertanyaan itu.
"Apakah kamu pernah mengujugi Pantai C sebelumnya saat kecil?"
Airin yang ditanya itu hanya berkata,
"Aku tidak begitu ingat soal kenangan masa kecilku, Aku dulu pernah kehilangan beberapa ingatanku karena kecelakaan yang Aku alami saat liburan, sungguh sekarang jika Aku memikirkannya, ini mungkin sebenarnya adalah ulah dari Adik Tiriku, sayangnya, Aku bahkan tidak begitu ingat soal itu jadi aku tidak bisa menuduhnya,"
"Saat kecil apakah kamu sangat menyukai permen rasa lemon merk Le?"
"Owh? Dari mana Kak Erlan tahu? permen itu rasanya sangat enak sayang sekali sekarang sudah tidak di produksi lagi, ukhh, sungguh Aku merindukan rasa permen lemon itu,"
Erlan yang mendengar itu hanya segera tersenyum..
Dirinya memikirkannya, jika ada sebuah kebetulan, terkadang kebetulan benar-benar menjadi sesuatu yang sangat tidak terduga.
Waktu memisahkan mereka berdua, banyak insiden yang terjadi.
Mereka berdua sama-sama berakhir dengan orang lain.
__ADS_1
Namun pada akhirnya, dipertemukan lagi dengan suatu takdir misterius.
Dan dirinya, pada akhirnya bisa jatuh cinta lagi pada orang di depannya ini.
Dirinya ingat, kenapa dirinya menyukai gadis kecil yang menolongnya.
Dia adalah anak yang sangat mandiri dan ceria, sangat bisa untuk menghibur orang-orang, dan menghibur dirinya kala itu yang terkurung.
Anak itu bercerita tentang permen kesukaannya, dan memberikannya satu padanya, untuk menghiburnya.
Permen itu sangat asam, dirinya tidak menyukainya, jadi dirinya hanya menyimpannya di saku.
Anak itu juga bercerita, tentang dia yang juga sudah tidak memiliki seorang Ibu, dan memiliki dua saudara Tiri yang menyebalkan.
Jika dirinya memikirkannya, itu karena Sylvia memiliki latar belakang Keluarga yang hampir mirip dengan Airin, membuatnya cukup tertipu.
Lalu, Erlan juga teringat sebuah inisial di balik liontin kecil itu.
VN.
Dirinya selalu bertanya-tanya bahkan sampai sekarang, inisial apakah itu?
Sylvia selalu bilang dia tidak tahu, karena itu hanya di beli secara random.
VN. inisial nama dari Vannesa, Almarhum Ibu Kandung Airin.
"Eh? Apa-apa itu? Kak Erlan sungguh, Aneh sekali."
Baik, biarkan dirinya menyimpan rahasia kecil ini yang nanti akan dirinya katakan setelah mereka bersama di masa depan.
Lagipula, dirinya sudah bilang pada Airin sebelumnya, bahwa dirinya tidak akan pernah mencari lagi soal gadis kecil dimasalalu, dan membiarkan masa lalu menjadi masa lalu.
Tidak ingin membuat Airin salah paham akan perasaannya.
Perasaannya pada Airin, bukan karena hal-hal dimasalalu, namun karena Airin yang dirinya lihat saat ini yang ada di depannya dan yang selalu berada di sampingnya.
Kenangan masalalu kecil itu, hanya menjadi salah satu hal yang mungkin membuat cintanya pada wanita didepannya ini semakin besar.
Takdir sebuah pertemuan menjadi sangat aneh.
Dan pada akhirnya, dirinya dipertemukan dengan cinta pertamanya yang sesungguhnya, yang akan menjadi cinta terakhirnya.
"Lihat, bukankah itu kotak yang kamu cari?"
Erlan mencoba mengalihkan pembicaraan, dan memasukan liontin itu ke saku bajunya.
Airin tidak mau terlalu banyak bertanya juga, hanya mengira jika itu mungkin hanya kebetulan saja kalungnya mirip.
__ADS_1
Lagi pula kalung semacam ini memiliki banyak kembaran.
Bukan benar-benar desain khusus.
Airin melihat kotak yang dirinya cari ternyata ada di salah satu laci disana.
"Benar, ini adalah apa yang Aku cari, terimakasih untuk hadiah ini, Aku hampir saja kehilangan ini, maaf untuk sangat ceroboh dan meletakkannya di sembarang tempat,"
"Kamu tidak perlu memikirkannya toh kamu juga menemukannya lagi, tadi kamu juga hanya terlalu senang soal kabar akhirnya surat dari pengadilan itu keluar,"
Airin yang kembali mengigat itu segera tertawa lagi,
"Ah, benar juga. ini membuatku sangat penasaran tentang bagaimana ekspresi wajah mereka setelah membaca surat itu,"
Mendengar itu, Erlan juga tersenyum,
"Setidaknya pagi mereka tidak akan damai,"
"Lalu, Apa rencana Kakak berikutnya?"
"Sebentar lagi pasti akan diadakan sebuah rapat darurat, dan di sanalah semua rencana ini akan dimulai,"
"Wow, ini sangat bagus, kapan rapatnya?"
"Hmm, panggilan pengadilan kira-kira Minggu depan, harusnya dalam beberapa hari, Rapat akan segera diadakan,"
"Jadi begitu, Aku sangat senang semuanya berjalan lancar dengan baik,"
Dua orang itu segera memiliki sarapan yang menyenangkan dan hangat, karena akhirnya rencana mereka hampir sukses.
Hal-hal benar-benar berjalan dengan baik.
####
Dan benar saja, seperti dugaan Erlan, tidak lama setelah menerima surat dari pengadilan itu, segera di adakan Rapat Direksi di Perusahaan Castillo, yang juga mengundang pemilik HCL. Investment untuk mendiskusikan dan mencari jalan tengah yang lebih baik daripada menuntut di pengadilan.
Para Anggota Direksi, jelas belum tahu soal tawaran-tawaran pembayaran saham untuk melunasi hutang.
Maximilian sendiri, tidak tahu harus berbuat apa bahkan sekarang ketika rapat itu dimulai.
Dirinya merasa di ujung tanduk.
Austin juga cukup cemas ketika akan memulai rapat itu, apalagi ketika melihat Kakaknya Erlan, yang duduk di samping Paman Haikal dengan ekpersi tenang itu.
"Baik, mari kita mulai saja acara Rapat hari ini, seperti yang sudah kalian dengarkan, Perusahaan Kami mendapatkan Gugatan dari HCL. Investment karena belum sanggup membayar hutang-hutang, kami, sampai hari ini kami belum menemukan solusi, dan rapat ini juga di tujukan untuk berdiskusi dengan CEO HCL. Investment agar mau memberikan kelonggaran pada Perusahaan Kami,"
Beberapa anggota direksi jelas merasa sangat kaget ketika melihat Haikal Castillo, yang sudah lama menghilang, dan tiba-tiba muncul itu.
__ADS_1
Hanya bisa memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya.