
Airin yang menerima pelukan itu, merasa hatinya sudah cukup membaik.
Kata-kata yang benar-benar membuat dirinya menjadi lebih tenang.
Pelukan itu berlangsung cukup lama, Airin yang masih tenggelam dalam emosinya itu benar-benar menangis dalam pelukan Mantan Kakak Iparnya itu.
Sampai, waktu berlalu, dan akhirnya setelah Airin merasa cukup tenang, dirinya segera melepaskan pelukan Erlan.
Keduanya sekarang saling menatap.
Airin segera mencoba menghapus air matanya untuk menenangkan dirinya.
"Maaf, membuatmu harus melihat aku yang menyedihkan ini."
"Airin, kamu tidak menyedihkan."
"Apakah kamu tahu apa yang aku katakan barusan pada Austin? Aku benar-benar terlihat menyedihkan, pernikahan kami hancur hanya karena sebuah salah paham bodoh semacam itu, tidak viska kebodohan ku sendiri karena tidak menyadari itu, jika itu adalah ulah dari saudara tirku yang menyebabkan, aku benar-benar sangat menyedihkan bukan?"
Airin mengatakan itu dengan nada yang cukup frustasi ketika mencoba untuk mengingat hal hal di masa lalu.
Tentang hubungannya yang buruk dengan Austin, ataupun hubungannya yang buruk dengan Saudara-saudaranya, sehingga mereka memperlakukan dirinya dengan kejam bahkan sampai men fitnah dan membuat pernikahannya menjadi berantakan.
Ini membuat Airin semakin bertanya-tanya apa salah dirinya indah saudara-saudara dirinya itu berbuat hal seperti itu pada dirinya?
Setelah semua mereka masih lah memiliki ayah yang sama, namun kenapa?
Airin semakin memikirkan soal keluarga yang pernah meninggalkannya itu perasaannya menjadi semakin sedih dan menjadi semakin frustasi, merasa bahwa dirinya masih sangat menyedihkan.
"Jika kamu menyedihkan bagaimana denganku? Tidakkah Aku lebih menyedihkan? Aku dikhianati oleh Istriku sendiri, oleh adikku sendiri, oleh Ayahku sendiri... Aku ditinggalkan oleh semua orang yang seharusnya Aku percayai, bukankah aku bahkan lebih menyedihkan daripada kamu?"
Airin mendengar itu segera menjadi diam.
Ya, karena tidak ada gunanya juga membanting bandingkan nasib.
Semua orang memiliki nasibnya sendiri sendiri, penderitanya sendiri-sendiri, tidak bisa disamakan satu sama lainnya.
"Entahlah aku juga tidak tahu mana yang paling menyedihkan. Namun tidak ada gunanya juga memikirkan bertapa menyediakannya itu,"
"Hmm, sebenarnya cukup terkejut juga ketika mendengarkan soal perjodohan itu,"
"Ah itu? Kakekmu cintai tak pernah atau tidak sempat menceritakannya? Namun sepertinya awalnya memang kita berdua yang dijodohkan namun karena beberapa hal, itu menjadi Austin, yah karena kamu sudah menikah lebih dulu, namun hal itu ternyata malah menjadi bumerang."
"Jujur, aku tidak tahu bahwa adikku itu sebegitu bencinya padaku. Terkadang aku tidak mengerti tentang dia, sejak kami kecil aku selalu menganggapnya sebagai adikku yang aku sayangi, selalu mencoba menjadi kakak yang baik dan memperhatikan adikku satu-satunya itu bahkan walaupun kita memiliki ibu yang berbeda namun dia tetap lah adikku,"
__ADS_1
"Kak Erlan sungguh baik bukan? Namun perasaan siapa yang tahu? Austin sepertinya, udah memendam rasa bencinya sejak lama."
"Itu benar aku juga tidak benar-benar mengerti soal perasaan seseorang terkadang yang ditunjukkan di depan bisa saja sangat berbeda dengan apa yang ada di dalam hati," kata Erlan lagi, terlihat cukup sedih jika memikirkan masa lalu.
"Ya, orang-orang selalu pintar dalam menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya."
Erlan kemudian memiliki sebuah pertanyaan pada Airin.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kamu pernah memiliki perasaan tersembunyi semacam itu?"
Airin yang ditanya itu segera terdiam seolah memikirkannya.
"Perasaan Tersembunyi ya? entahlah aku juga tidak tahu apakah ini benar-benar perasaan tersembunyi atau tidak,"
Erlan yang mendengar jawaban itu jelas menjadi bingung.
"Maksudmu?"
"Suka aku mencintai seseorang, yang hanya menganggapku sebagai teman, gak aku tidak menyembunyikan perasaanku situ mungkin bisa merusak hubungan pertemanan kami, apakah tidak apa-apa jika menyembuyikan perasan semacam ini?"
Ini benar-benar kata-kata yang keluar dari mulut Airin, tanpa berpikir terlalu panjang sejujurnya dirinya juga ingin melihat sedikit reaksi pria depannya ini, apakah pria di depannya ini akan kembali sebutkan tahu jika dirinya menyukai seseorang?
Bahkan walaupun apa yang dirinya maksud barusan soal orang itu, adalah orang yang sama yang dirinya ajak bicara di depannya ini.
Erlan dengar itu jelas menunjukkan ekspresi peter kejutannya karena tidak pernah mengira jika Airin mengatakan hal semacam itu.
Airin melihat ekspresi terkejut itu juga namun tetap tidak mengerti arti dibalik tatapan terkejut itu.
Itu rasa cemburu atau hanya sekedar keterkejutan biasa.
"Ya aku memiliki orang yang aku sukai,"
Mendengar itu, Erlan jelas merasa hatinya terasa tidak nyaman.
Ada apa dengan perasaannya ini?
Kenapa dirinya merasa sangat tidak senang ketika tahu wanita yang ada di hadapannya ini ternyata sedang jatuh cinta pada seseorang?
Perasaan kemarahan aneh ketika mendengarkan fakta ini.
"Siapa?"
Ya, Erlan kelas ingin tahu orang mana yang Airin sukai.
__ADS_1
Walaupun perasaannya tidak nyaman ketika menanyakan hal-hal ini.
"Kamu tidak mencoba untuk menebaknya?"
Erlan menjadi terdiam.
"Apakah ini seseorang yang aku kenal?"
Airin sebenarnya cukup bingung untuk menjawab itu.
"Mungkin Iya. Kamu sangat mengenalnya,"
Ekspresi Erlan jelas menunjukkan bahwa wajah tidak suka, dan mulai menggali ke dalam pikirannya kira-kira laki-laki mana itu yang Airin sukai?
Pria yang pernah bertemu dengan wanita di depannya ini jelas cukup banyak.
Saat di luar negeri banyak pria yang mendekati wanita di depannya ini.
Dia sebenarnya cukup populer, memiliki paras wajah yang cantik, terlihat sangat anggun, juga pandai melukis merupakan seorang wanita karir yang terbilang cukup sukses.
Pria mana yang tidak akan tergoda dengan kecantikan yang ada di depannya ini?
Dulu, dirinya tidak terlalu memikirkan soal hari ini.
Namun ketika mengigat, jika Airin tri sama dengan beberapa pria di luar sama dirinya merasa kesal.
Hah...
Sungguh...
Kenapa dengan dirinya ini?
Kenapa dirinya merasa memiliki perasaan semacam ini pada wanita yang ada di depannya?
Apakah ini perasaan cemburu?
Namun Airin memiliki orang yang disukainya.
Sial.
Erlan tipe-tipe merasa dirinya terlalu lamban untuk menyadari.
Mungkin, karena Airin selama ini ada di sampingnya sehingga dirinya merasa terlalu nyaman dan tidak terlalu menyadari perasaan tipis ini?
__ADS_1
Perasaan nyaman, ketika bersama dengan wanita yang ada di hadapannya ini.
"Aku hanya bercanda kamu tidak belum menganggapnya terlalu serius," kata Airin lagi.