
Suasana, di ruang rapat itu saat ini terlihat sangat tegang.
Terutama, Para Anggota Direksi lainnya, dan Para perwakilan Pemegang Saham.
Austin, saat ini masih berdiri di depan, memimpin rapat.
"Kami berharap, HCL. Investment untuk mempertimbangkan lagi keputusannya untuk membawa perusahaan kami ke pengadilan," kata Austin lagi, yang terlihat disetujui oleh beberapa orang yang ada di sana.
Haikal yang mendengar itu menatap ke arah keponakannya, Erlan lalu segera berdiri,
"Aku akan mencabut tuntutanku, asalkan Kalian mau membayar semua hutang kalian, bukankah itu semudah itu?"
Mendengar itu, ekpersi Austin menjadi cukup rumit, karena inti dari masalah ini adalah saat ini perusahaan tidak memiliki dana.
"Tapi, keuangan kami saat ini tidak bisa untuk melakukannya," kata Austin lagi.
Ya, dirinya sudah melihat aset-aset perusahaan juga, jika saja Hutang itu kecil, itu mungkin bisa diakali dengan menjual aset-aset perusahaan, sayang sekali hutangnya sudah menumpuk bertahun-tahun apalagi belakangan ini menjadi semakin banyak.
Dan sialnya, kabar soal tuntutan ke pengadilan itu, sudah muncul di berita-berita Publik, ini menyebabkan harga saham perusahaan turun dengan drastis.
Kegagalan beberapa project sebelumnya juga gagalnya untuk mendapatkan proyek potensial juga melatarbelakangi semua krisis yang terjadi ini.
Haikal lalu segera berkata lagi,
"Aku sebenarnya punya usul yang cukup mudah untuk kalian,"
Maximilian jelas tahu apa usul yang akan dikatakan oleh adiknya itu.
Namun Apakah ada cara lain?
Membiarkan perusahaan ini bangkrut?
Dirinya jelas tidak bisa melakukannya.
Sampai tiba-tiba, Maximilian mendengar ponselnya bergetar.
Sungguh, ketika Max menatap ke arah ponselnya itu ternyata berasal dari Istrinya, Diana.
Ada apa pula itu Istrinya menelepon?
Saat ini rapat penting telah berlangsung, jadinya jelas tidak mungkin untuk mengangkat telepon ini.
Max mencoba mengabaikan telepon itu namun ponselnya masih tetap bergetar.
Sampai dirinya mendapatkan sebuah pesan,
__ADS_1
'Max, tolong Aku. Saat ini ada orang-orang, berniat menyegel Rumah kita, apakah kamu membuat Rumah kita itu menjadi salah jaminan Hutang? Mereka juga mengancam akan melaporkanmu ke polisi,'
Kemudian Max menjadi teringat bahwa hutang yang dimiliki perusahaan, tidak hanya dengan HCL. Investment, masih banyak kreditor lain yang menuntut untuk mendapatkan pembayaran hutang segera.
Hal-hal juga soal dirinya akan di laporkan ke polisi...
Sial bagaimana ini sekarang?
Apakah benar benar sudah tidak memiliki pilihan?
Max sejujurnya tidak tahu harus bagaimana, seolah-olah sudah tidak ada lagi solusi yang bisa dirinya ambil.
"Emm, Aku sudah tahu, aku juga baru saja melihat laporan kalian, sungguh setelah melihat-lihat itu, betapa buruknya kinerja perusahaan bahkan dari untung sampai menjadi rugi, juga banyak kegagalan proyek, aku rasa gugatan ku akan dimenangkan. setelah semua yang aku inginkan adalah uang-uangku untuk kembali,"
Haikal mengatakannya dengan santai membuat wajah semua orang yang ada di perusahaan untuk menjadi pucat.
Salah satu anggota Direksi, segera mencoba memberikan usulan,
"Pak Haikal, mohon anda mempertimbangkan nya lagi, bukankah ini masihlah Perusahaan milik Almarhum Ayah Anda? Bahkan walaupun bukan andai yang mengelolanya, tidakkah terlalu berlebihan untuk membuat perusahaan ini bangkrut?"
Kata-kata anggota direksi itu segera didukung oleh yang lainnya juga.
"Itu benar, Pak Haikal. Daripada melewati jalur hukum kenapa kita tidak mencoba membicarakan nya secara ke keluargaan?"
"Pak Haikal, harus mempertimbangkan ini lagi,"
"Itu benar, Aku tentu saja masih memiliki hati untuk memikirkan soal hubungan antara Aku dan Kelurgaku. Aku masih bisa membicarakan ini secara kekeluargaan, jadi Aku ingin membicarakan ini dengan Adikmu dan Keponakanku secara pribadi, apakah tidak apa-apa?"
Beberapa anggota Direksi disana, segera mengerti apa yang dimaksud oleh Haikal.
Austin sendiri, juga mengerti apa artinya.
Dia segera menatap kearah wajah Ayahnya, yang ekpersinya menjadi lebih pucat.
"Ayah?"
Panggilan dari Putranya itu, segera membuyarkan lamunan Max, dirinya tentu saja dengar juga apa permintaan dari Adiknya Haikal, soal pembicaraan secara kekeluargaan ini.
Tujuannya sudah sangat jelas sekali.
Mari coba, apakah dulunya masjid bisa membujuk adiknya?
Max mengagguk.
Austin lalu segera menyuruh semua orang untuk pergi dari ruangan itu, kecuali, Paman Haikal, dirinya dan Ayahnya.
__ADS_1
Erlan sendiri, lebih memilih menyerahkan semuanya pada Paman Haikal.
Dan sekarang ketika hanya 3 orang di ruangan itu, Haikal segera berkata kepada Kakaknya itu,
"Mari, Apakah Kakak sudah mempertimbangkan soal penawaran ku sebelumnya?"
Austin yang tidak tahu soal penawaran itu hanya bisa menatap kearah Ayahnya dengan ekspresi penasaran.
"Berapa persen yang kamu minta?"
Itu adalah sebuah pertanyaan yang jelas dari, Max yang tahu pasti apa keinginan adiknya itu.
"20%, ini sudah cukup."
Max jelas terkejut dengan jumlah itu, saat ini saham yang dirinya dan Austin punya, hanya 52% jika mereka memberikan porsi saham mereka sebesar 20% itu artinya sisa milik mereka hanya 32%, itu sebenarnya masih cukup besar, namun mereka tidak akan lagi menjadi pemegang saham Mayoritasnya, tidak dirinya dan Putranya seharusnya masih menjadi pemegang saham mayoritas.
Dan lagi, walaupun dirinya menyerahkan saham mereka, baik adiknya toh tidak bisa berbuat banyak karena pada akhirnya, mereka berdua masih lah pemilik saham mayoritas, yang didukung oleh seluruh anggota direksi yang ada.
Dan lagi, dirinya kira kesepakatan ini walaupun sangat menyebalkan, ini juga bisa menyelesaikan masalah perusahaan.
Ya, mereka jadi tidak perlu repot-repot untuk memikirkan bagaimana hutang-hutang itu di bayar.
Dan lagi, karena adiknya memiliki 20% dan di tambah Erlan 10%, mereka berdua bahkan tidak akan berani lagi menyentuh Perusahaan bukan?
Kalau tidak, apakah mereka berdua hanya ingin membuang uang mereka?
Max mulai memperhitungkan keuntungan dan kekurangan dari keputusan ini.
Dan lagi, dirinya juga tidak ingin masuk penjara karena tuntutan hutang.
Ya, seharusnya ini tidak menjadi masalah benar.
Keluarga mereka tetap bisa menjadi penguasa perusahaan dan nanti dirinya akan mencari cara untuk mendapatkan porsi saham yang hilang itu.
"Apa maksud Paman?" Tanya Austin, yang masih tidak mengerti soal pembicaraan kakak beradik itu.
"Owh? Kamu belum memberitahu putra mu soal penawaran ku bukan? Mari biar Aku tegaskan, yang Aku inginkan adalah Porsi ke pemilikan Saham, milik kalian berdua,"
Austin, segera menjadi terkejut setelah mendengar itu.
"Tidak mungkin, hal itu jelas tidak bisa terjadi, benar bukan Ayah? kami jelas tidak akan menyerahkan 1% pun saham yang kamu miliki,"
Max lagu segera menegur putranya itu,
"Diamlah, Austin. Aku yang akan mengambil keputusan di sini,"
__ADS_1
"Apa maksud Ayah?"
"Aku menerima tawaran yang kamu miliki, dengan catatan, kamu tidak boleh terlibat dalam manajemen perusahaan,"