Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 59: Kenangan Masalalu


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu dalam sekejap mata, disaat rencana Erlan dan Paman Haikal terus berjalan, Airin memiliki kehidupan yang lebih santai.


Apalagi setelah kejadian dipesta itu dimana, saudara tirinya yang dulu pernah berbuat jahat padanya dan pernah memfitnah dirinya sampai membuat kesalahpahaman yang berakhir dengan hancurnya pernikahannya, sekarang sudah mendapatkan balasan yang setimpal, dengan pernikahan saudaranya itu yang hancur.


Jadi Airin sekarang sedang menikmati hari-harinya, fokus kembali dalam acara melukisnya, karena Airin sendiri juga akan segera mengadakan Pamaran berikutnya, agar karya-karya miliknya bisa segera lebih menjadi populer.


Seolah-olah sebuah mimpi yang tidak akan pernah diri kira, benar-benar akan terwujud.


Saat ini disalah satu ruangan terlihat Airin ada dihadapan sebuah canvas, sedang asyik untuk mencoba melukis sesuatu.


Di dalam Lukisan itu, adalah lukisan tentang seorang wanita yang sangat cantik yang sedang membawa sebuket bunga.


Saat ini yang sedang Airin lukis adalah gambar dari Ibu Kandung Erlan Castillo.


Airin bisa melihat dari foto Ibu Erlan yang sangat cantik, seolah gen baik itu diturunkan kepada putranya Erlan, dan membuat Erlan memiliki penampilan yang indah dan sangat tampan, memiliki mata yang sama dengan almarhum ibunya itu.


Airin merasa cukup puas dengan hasil lukisannya itu, dindingnya sengaja melukis ini karena rencananya akan diberikan sebagai hadiah untuk ulang tahun Erlan nantinya.


Namun sayangnya gambar wanita yang ada di lukisannya ini memiliki nasib yang sangat malang, tidak hanya dikhianati dan dimanfaatkan oleh suaminya sendiri dia bahkan meninggal kemungkinan besar karena rencana suaminya dan selingkuhannya.


Airin tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai dia tersadar jika dirinya menerima sebuah pesan.


Airin tersenyum ketika melihat pesan itu dari seseorang yang memang dirinya nantikan untuk mengirimkan pesan.


Erlan: Jangan lupa makan siang, aku tadi sudah memesankan makan siang kesukaanmu mungkin sebentar lagi pengirim akan sampai di tempatmu,


Airin sedikit terkejut dengan itu melihat seberapa perhatiannya pria itu sekarang padanya.


Bahkan sampai repot-repot untuk memesankan dirinya makan siang seperti ini.


Airin menjadi tersenyum sendiri ketika melihat pesan itu lalu segera menjawab,


'Terimakasih Kak Erlan,'


Ini adalah pesan untuk seorang pria baik yang mengubah hidupnya sampai sekarang.


Airin sadar, semakin waktu berlalu hubungan antara dirinya dan Erlan menjadi semakin lebih dekat dan semakin baik, hal ini juga membuat perasaan Airin dari hari ke hari semakin tumbuh, cinta yang ada di hatinya semakin melambung.


Hal ini juga membuatnya semakin merasa tidak tahan, apakah dirinya sebaiknya mencoba mengungkapkan perasaannya sendiri?


Atau menunggu Kak Erlan sampai jatuh cinta padanya?


Sejauh ini, sejak kejadian malam itu, hubungan mereka memang sempat canggung, sangat penting kejadian berikutnya membuat hubungan mereka kembali pulih.


Namun jika ingin memikirkan soal malam yang mereka habiskan bersama, Airin menjadi bertanya-tanya juga, kenapa malam itu Kak Erlan mau menyentuh dirinya?


Apakah itu benar-benar hanya sebuah kesalahan dan murni dari sebuah keinginan tubuh, atau sebenarnya itu adalah sesuatu yang lain yang melibatkan perasaan?


Dirinya tidak begitu ingat soal kejadian malam itu, mereka hanya melakukannya tanpa kata-kata cinta.


Namun dari Kak Erlan yang langsung meminta maaf padanya itu membuat dirinya merasa ragu.


Sampai sebuah balasan pesan datang membuyarkan lamunan Airin.


Erlan: Apakah kamu nanti ingin menemaniku ke suatu tempat?


Dengan perasaan penasaran Airin kembali bertanya,

__ADS_1


'Kemana itu?'


Tidak lama sampai balasan itu datang,


Erlan: aku ingin pergi ke rumah lama Ibuku, Rumah Kakek dan Neneku dulu, aku sudah lama tidak ke sana aku jadi merindukan tempat itu,


Airin: benar juga ya aku juga belum pernah untuk pergi ke sana pasti rumah itu memiliki banyak kenangan indah bukan?


Erlan: Ya, kakek dan nenekku dari pihak ibu benar-benar sangat baik padaku, aku dulu juga menghabiskan waktu lebih banyak di sana ketika Aku kecil daripada di rumah Keluarga Castillo, mereka berdua benar-benar sangat memanjakanku,


Airin merasa cukup senang juga tentang bagaimana Erlan mulai terbuka padanya, mulai membicarakan hal-hal penting dalam hidupnya kepadanya.


Bukankah itu artinya sekarang dirinya sudah cukup dipercaya?


Mungkin juga perasaan sudah mulai tumbuh?


Dua orang itu, segera saling mengirim pesan dengan akrab sampai makan siang yang dipesankan Erlan datang.


Airin bahkan mengirimkan foto makan siangnya, dan benar saja menu-menu yang ada di dalamnya adalah kesukaannya bahkan minuman yang dipesan pun adalah kesukaannya.


Astaga dengan semua kebaikan ini bagaimana dirinya tidak jatuh cinta lebih dalam pada pria itu?


Semakin memikirkannya perasaan Airin menjadi semakin berbunga-bunga.


####


Sore itu, Airin yang sudah bersama dengan Erlan, tiba di sebuah Rumah yang cukup mewah.


Rumah itu sudah lama tidak ditempati, namun masih di rawat dengan baik, karena memang masih menyewa orang untuk membersihkannya.


Ketika sampai di sana, Airin melihat wajah Erlan yang terlihat menujukan ekpersi rumit, mungkin memang terlalu banyak kenangan yang ada disini.


Airin terlihat cukup cemas ketika menatap Pria yang ada disampingnya itu.


Erlan yang mendengar kekhawatiran itu, hanya tersenyum dan berkata,


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit nostalgia disini, mari masuk saja,"


Keduanya lalu memasuki rumah itu, Erlan menatap kearah ruang tamu, yang tidak berubah sedikitpun sejak terakhir kali dirinya datang kesini sekitar empat tahun lalu.


Ada foto keluarga besar di ruangan itu, yang berisi Kakek dan Neneknya, lalu Ibu Kandungnya ketika muda.


Airin hanya mengikuti Erlan, sambil mengegam tangannya, seolah mencoba menguatkan Pria itu.


Erlan benar-benar merasa tersentuh ketika Airin mencoba menghiburnya.


Ya, hal-hal terasa lebih mudah ketika tidak sendirian.


Mereka berkeliling rumah itu, sampai tiba di sebuah kamar tertentu.


Erlan terdiam lama ketika melewati kamar itu.


"Apakah itu dulu Kamar Ibu Kak Erlan?"


Erlan tidak menjawab, hanya mengangguk.


Setelah terdiam sebentar, dia segera berkata lagi,

__ADS_1


"Ya, kamar ini tidak jarang masuki, bahkan Kakek dan Nenekku jarang kesana, semua barang-barang lama Mama ada disana, hal-hal ketika dia masih muda,"


"Jadi begitu, Kak Erlan tidak penanda dengan masalalu Mamamu?"


"Sedikit,"


"Itukah kenapa Kak Erlan kesini?"


"Tidak juga, hanya Aku sebenernya tidak tahu banyak soal Mamaku, apalagi soal hal-hal yang dia alami dulu, Aku bahkan baru tahu dari Paman Haikal soal sebab kematiannya belum lama ini,"


Ada nada kesedihan ketika mengatakan itu.


Namun Erlan masih melanjutkan kata-katanya.


"Aku merasa sangat terlambat ketika Aku tahu, harusnya Aku lebih dulu menyelidiki soal hal-hal yang menimpa Almarhum Ibuku, soal masalalunya..."


"Tidak apa-apa untuk sekarang mencoba ingin tahu, mari kita masuk saja,"


Airin mencoba memimpin Erlan untuk masuk ke ruangan itu.


Ruangan itu terlihat tua, karena memang lama tidak dimasuki orang.


Desain Ruangan itu cukup sederhana, ketika melihat kearah ruangan itu, Airin terkejut ketika melihat ada berbagai alat lukis disana.


"Ibu Kak Erlan sepertinya suka melukis?"


Erlan mengagguk,


"Ya, Kakek sering berbicara soal Lukisan Mamaku yang bagus,"


Airin lalu menatap kearah tumbukan canvas disana yang di tumpuk, dan ditutup kain putih.


Airin mencoba melihat salah satu lukisan, disana ada lukisan pemandangan yang indah.


"Ini benar-benar sangat indah, Aku pikir Mama Kak Erlan memang seseorang yang berbakat,"


"Benar,"


Erlan juga ikut melihat-lihat koleksi lukisan itu, ada berbagai lukisan disana.


Sampai tiba-tiba mata Erlan bertemu sebuah lukisan wajah yang terlihat familir.


Membuat Erlan menjadi terdiam.


Airin juga menatap lukisan itu.


"Emm? Bukankah ini Lukisan Ayah Kak Erlan?"


"Ya,"


"Emm, bukankah Kak Erlan bilang ini barang-barang lama?"


"Itu bener, sejak menikah Ibuku jarang pulang ke Rumah ini, dan sepertinya Lukisan-lukisan itu sudah ada disana cukup lama,"


"Lalu kenapa ada Lukisan gambar Ayahmu?"


Airin dan Erlan jelas merasa heran, lalu segera menatap kearah lukisan lama itu.

__ADS_1


Dan membalik lukisan itu, ada beberapa goresan kata-kata disana.


'Tidak pernah menyangka, Aku akan di pertemukan kembali dengan Cinta Pertamaku Maximilian Castillo, dan pada akhirnya takdir membawa kita bersama, Aku sempat cemas ketika di jodohkan dengan adiknya, untunglah itu di batalkan,'


__ADS_2