Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 61: Tuntutan


__ADS_3

Hari-hari segera berlalu dalam sekejap, itu harusnya sebuah pagi yang indah dan cerah, namun sayangnya beberapa orang tidak memiliki hari yang indah.


Misalnya, saat ini, Austin yang saat itu sedang keluar rumah, menjadi udara segar tiba-tiba mendapatkan sebuah kiriman paket.


Ini merupakan sebuah kiriman berkas.


"Emm, ini dari Pengadilan?" Tanya Austin dengan heran pada petugas paket itu.


"Saya juga tidak begitu tahu, saya hanya mengantarkan ini,"


Pengirim paket itu, juga segera pergi dari tempat itu.


Melihat lembaran dokumen yang ada ditangannya itu, Austin tiba-tiba memiliki firasat buruk.


Austin memilih, untuk masuk ke ruang tamu dulu sebelum membuka saat itu.


Sylvia yang kebetulan melewati ruangan itu jelas merasa heran ketika melihat suaminya sedang memiliki ekpersi tidak nyaman ketika melihat sebuah amplop berisi dokumen.


"Ada apa Austin? Dokumen apa itu di tanganmu?"


Austin hanya menjawab seandanya dan berkata,


"Ini dari Pengadilan,"


"Apa? Dari Pengadilan? Memangnya ada masalah apa sampai ada kiriman seperti itu dari Pengadilan?"


"Aku juga tidak tahu, Aku juga ingin tahu, Aku akan segera membukanya,"


Austin dengan perasaan cemas segera membuka surat itu.


Dirinya menjadi sangat terkejut ketika melihatnya wajahnya jelas berubah menjadi pucat..


Sylvia yang melihat wajah Austin saat ini puncat, jelas menjadi panik juga.


"Apa isi dari surat itu?"


"Ini gugatan dari Pengadilan, bahwa Perusahaan Castillo di tuntut untuk di liquidasi karena gagal bayar ke HCL. Investment,"


Ekspresi Sylvia jelas menunjukkan ekspresi tidak senang.


"Tunggu? Bukankah itu artinya perusahaan akan di nyatakan bangkrut jika gugatan itu memang?"


"Memang seperti itu,"


"Apakah memang perusahaan saat ini memiliki situasi begitu buruk sampai tidak bisa membayar hutang?"


Austin tentu saja tahu bahwa perusahaan saat ini memang sedang kekurangan dana, apalagi memang sebagian besar dana Perusahaan untuk aktivitasnya, belakangan merupakan pinjaman dari HCL. Investment.


Saat ini, Aset Lancar Perusahan juga cukup sulit, belum lagi project project yang saat ini berjalan juga membutuhkan banyak dana untuk terus berjalan.


Jujur, hampir mustahil untuk mengeluarkan dana kas saat ini, untuk membayar hutang hutang mereka ke HCL. Investment.


Dirinya tidak pernah mengira, jika langkah yang di ambil HCL. Investment akan menjadi seagresif ini.


HCL. Investment memang milik Pamannya, Haikal. namun bagaimana bisa pamannya itu sampai berbuat sejauh itu ingin membuat perusahaan milik keluarganya sendiri bangkrut?


Sebenarnya masalah apa yang ayahnya buat pada pamannya itu sampai membuat pamannya itu bersikap seperti itu?


Austin benar-benar merasakan terganggu dengan hal ini.

__ADS_1


"Austin! Jawab aku sebenarnya apa yang terjadi di perusahaan,"


Austin, jelas tidak tahu harus memulai ini dari mana.


Soal hal-hal di Perusahaan, dirinya memang belum bercerita apapun pada Sylvia.


"Bulan lalu, saat Rapat Direksi, Kak Erlan memasuki Perusahaan Castillo sebagai salah satu pemegang sahamnya,"


Sylvia yang baru mendengar itu jeles merasa sangat kaget.


Apakah Erlan itu sekarang sekaya itu?


"Dia di bantu oleh Paman Haikal, yang merupakan pemilik HCL. Investment,"


Austin, lalu mulai menceritakan segalanya dan tentang pertemuan Ayahnya dan Paman Haikal sebelumnya.


Semakin Sylvia mendegarnya, wajahnya menjadi semakin pucat.


Astaga, bagaimana jika nanti Perusahaan Castillo bangkrut?


Apakah nanti keluarga ini akan jatuh miskin?


Dan nanti bagaimana nasib yang di milikinya?


"Ini tidak bisa, Austin! Kamu jeles tidak bisa membiarkan Perusahaan Keluarga menjadi bangkrut! Ini tidak bisa dibiarkan!"


"Untuk aja aku akan berusaha untuk mempertahankan Perusahaan, namun sekarang bagaimana yang harus aku lakukan?"


"Kamu itu pokoknya mencari solusi kamu itu bagaimana sih kamu kan CEO, masak mencari solusi seperti itu saja tidak bisa, kamu itu benar-benar payah jika di banding Erlan,"


Sylvia segera menutup mulutnya sendiri setelah mengatakan hal terakhir barusan, hidungnya membangun sedang emosi dan terbawa arus, sehingga bisa mengatakan omong kosong itu.


"Diamlah! Jangan kamu mau nambah nambah beban pikiran ku kamu ini hanya bisa membuatku semakin marah aja!"


Dua orang itu terlihat menjadi ribut di ruang tamu.


Ibu Austin, Diana yang saat ini mengendong Elvin, jelas merasa terkejut ketika mendengar pertengkaran dari ruang tamu.


"Elvin, kamu pergi kekamar dulu ya sayang?"


"Tapi, Nenek, Nenek bilang akan mengajak Elvin ke Taman depan melihat bunga?"


"Nanti, saja ya sayang? Nenek tiba-tiba memiliki beberapa urusan yang harus di urus," kata Diana lagi sambil menurunkan Elvin.


Elvin lalu segera dengan patuh berkata,


"Baik, Nenek. Nanti saja, padahal Elvin ingin memberikan Bunga pada Nenek,"


Diana yang melihat Elvin sangat lucu dan patuh itu, segera mengelusnya.


Ya, ini adalah Cucu Kebanggaannya, walaupun anak ini masih kecil dia menjadi sangat menurut dan begitu patuh, setidaknya di masa depan Cucunya pasti akan menjadi orang yang hebat.


Setidaknya, nanti seseorang yang bisa diharapkan di rumah ini di masa depan.


Putranya Austin atau Suaminya itu sedikit lembek dan bermasalah.


Melihat Elvin sudah pergi dengan patuh, Diana segera mendatagi Ruang Tamu tempat Sylvia dan Austin bertengkar.


"Kalian berdua itu kenapa pagi-pagi sudah ribut?"

__ADS_1


Dua orang itu segera kearah Diana dengan ekspresi yang cukup rumit karena merasa sangat bingung tentang apa yang harus dikatakan.


Diana jelas melihat bagaimana ekspresi putra dan menantu perempuannya itu berubah menjadi pucat.


"Katakan dengan singkat apa sebenarnya yang terjadi?"


Austin, hanya segera menyerahkan surat panggilan pengadilan kepada Ibunya itu.


Diana, lalu membaca isi surat itu yang merupakan sebuah panggilan ke persidangan untuk menghadiri acara gugatan untuk melakukan Liquidasi pada Perusahaan Castillo.


Diana segera meremas surat itu dengan marah dan membuangnya.


"Bagaimana hal semacam itu bisa terjadi?"


Austin tidak tahu bagaimana untuk menyeritakannya.


Pagi itu, benar-benar ada sebuah keributan besar di Ruang Tamu, Maximilian yang melihat mereka bertiga tengah ribut itu hanya bisa memiliki ekspresi sedih.


Dirinya sebelumnya mendapatkan telepon dari Adiknya Haikal.


Itu adalah sebuah penawaran yang jelas.


Jika ingin gugatan itu di batalkan, mereka hanya harus memberikan porsi kepemilikan saham mereka kepada HCL. Investment.


Namun jika hal itu diberikan, artinya Keluarga mereka, bisa saja tidak lagi menjadi pemegang mayoritas saham perusahaan.


Sialan!


Dirinya jelas tidak bisa Perusahaan bangkrut juga...


Perusahaan Impian, selama ini dirinya inginkan jelas tidak bisa hancur di tangannya seperti ini.


Namun sekarang sampai yang harus dilakukan?


####


Di tempat lainnya, berbeda dengan Keluarga Castillo yang sangat itu sedang dalam keadaan gawat.


Airin, saat ini sedang berada di kamar Erlan, dirinya disini untuk mencari hadiah yang sebelumnya Erlan berikan padanya.


Ya, dirinya sempat lupa meletakkan hal itu di kamar ini karena mendengar kabar soal gugatan pengadilan itu, ya punya juga tidak sabar untuk melihat keluarga sampah itu hancur.


Namun, sekarang mana barang yang dirinya cari itu?


Airin, lalu membuka kearah laci, itu saja dirinya berada di kamar itu karena sudah mendapatkan izin dari pemiliknya.


Sampai, Airin menjadi cukup terkejut ketika melihat sebuah kalung.


"Eh? Kenapa Kalung ini ada disini? Ini terlihat seperti kalungku yang hilang dulu? Ini kan salah satu kenang-kenangan dari Ibuku sebelum dia meninggal? Yang pernah aku hilangkan ketika mengalami kecelakaan,"


Airin menatap sebuah liontin, berbentuk not music, berbeda dengan dirinya, Ibu Kandung Airin lebih pandai bermain musik.


Kalung itu memiliki beberapa ukiran tertentu disana.


Sebuah inisial nama Almarhum Mamanya.


Atau ini hanya kebetulan mirip?


Airin, ingin segera memeriksa detail Liontin itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2