Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 75: Kejujuran


__ADS_3

Hari segera berlalu, saat ini Airin tentu saja masih berada di Rumah Sakit untuk menemani Erlan yang menjaga dan memantau keadaan Elvin, yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


Di setiap kesempatan, Sylvia tentu saja selalu mencoba untuk mendekati Erlan, sambil menjeguk Putranya itu.


Tapi jelas, Airin selalu disana untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, Siapa yang tahu trik licik dan gila macam apa yang digunakan oleh wanita itu?


Dan Austin, samapi saat ini Airin dan Erlan belum melihat wajah orang itu yang sepertinya masih berada di ruang inapnya di rumah sakit itu juga.


Airin tentu saja sedikit penasaran tentang respon Austin, namun tidak membuat dirinya repot-repot untuk mencoba mencari pria itu.


Dulu dia berselingkuh dan menipu dirinya dan sekarang dia malah ditipu oleh istrinya yang sekarang, menurut Airin hal-hal itu jelas Karma yang didapatkan oleh orang itu.


Airin tentu tidak ingin memikirkan soal hal-hal itu juga.


Dan sekarang, Airin sedang menemani Erlan untuk mengambil hasil Tes DNA yang sebelumnya dilakukan beberapa hari yang lalu.


Mereka berdua sekarang ada di salah satu tempat duduk di lorong dan berniat untuk membuka amplop hasil Tes DNA.


Ada sedikit keraguan ketika Erlan menatap amplop itu.


Airin yang ada di samping Erlan, mencoba untuk memberikannya semangat,


"Buka saja kakak tidak perlu ragu,"


Erlan yang mendengar tentang bagaimana wanita yang ada di sampingnya itu tetap mendukungnya bahkan di masa-masa sulit belakangan ini, merasa cukup senang.


Walaupun mungkin isi amplop ini menjadikan semuanya menjadi lebih rumit.


Tentu saja dirinya tidak langsung percaya soal hal-hal yang berbicarakan oleh Sylvia.


Ya, mana tau Sylvia berselingkuh dengan laki-laki lain pula?


Siapa yang tahu apa yang ada dipikirannya?


"Kamu benar apapun hasilnya aku akan siap,"


Sebelum aplop itu dibuka, Airin sekali lagi mencoba bertanya pada pria yang ada di hadapannya,


"Tapi kalau menurut Kak Erlan hasil apa yang Kakak inginkan?"


Erlan yang mendengar itu segera terdiam karena tidak tahu harus menjawab apa.


Ini aneh kenapa dirinya tidak segera mengelak dan menolak hasilnya.


Mungkin itu karena dirinya merasa sedikit dekat dengan Elvin, semacam perasaan dan ikatan batin yang cukup kuat, yang membuat dirinya percaya jika itu adalah putra kandungnya.


Namun iti artinya dirinya akan terlihat setuju untuk memiliki seorang anak dengan Sylvia?


Erlan segera menarik nafas dan menjawab,


"Sejujurnya aku juga tidak tahu,"


Airin sendiri tidak terlalu banyak menuntut untuk jawaban itu.


Erlan lalu segera membuka amplop hasil tes DNA itu.


Ada namanya dan Elvin di dalam surat itu.


Erlan segera membaca sekilas isi surat itu lalu ke bagian yang paling penting yang ada di bawah.


Hasilnya kurang lebih seperti yang diperkirakan.


"Ini positif, Elvin memang Putra kandungku,"


Airin yang mendengar itu merasa ada sedikit kekecewaan, bohong rasanya jika dirinya tidak berharap jika Elvin bukan Putra Kandung Erlan.


Namun kenyataan berkata lain, walaupun ini hal-hal yang sangat mengejutkan dan juga terasa pahit untuk dirinya terima.


Jika Sylvia si wanita tidak tahu malu itu, memiliki seorang anak dengan Erlan.


Ikatan seorang anak di antara mereka jelas hal yang cukup kuat dan tidak terputus.

__ADS_1


Namun jelas bukan berati Sylvia bisa menang.


Seperti apa yang dirinya katakan dan ungkapkan kepada wanita sialan itu.


Tidak akan pernah dirinya membiarkan wanita itu memiliki Erlan.


"Tidak apa-apa itulah hasil yang sebenarnya, Aku pikir Elvin juga cukup lucu, aku sebenarnya juga cukup menyukai anak itu, dia terlihat seperti seorang anak yang baik," kata Airin pada akhirnya.


Erlan yang mendengar kata-kata itu dari wanita yang ada di sampingnya menjadi cukup kaget dan heran lalu tatapan matanya menoleh ke arah wanita yang ada di sampingnya, dari tatapan Airin, Erlan jelas merasakan ketulusan disana.


Erlan tahu, hal-hal ini mungkin sulit untuk diterima oleh wanita yang ada di sampingnya itu namun wanita yang ada di sampingnya itu benar-benar memiliki hati yang cukup besar untuk menerima semua kenyataan itu.


Dari sini, Erlan makin merasa kagum dengan wanita yang ada di sampingnya, membuat perasaan cinta yang ada dihatinya tumbuh menjadi semakin dalam.


Ini mengingatkan dirinya soal hal-hal yang harus dirinya katakan kepada Airin yang sempat tertunda.


Sayangnya, ketika dua orang itu masih merenung di sana tenggelam dalam pikiran masing-masing, ada seseorang yang datang kesana, ya siapa lagi kalau bukan Sylvia?


Sylvia tentu saja tahu bahwa hasil tes DNA akan keluar hari ini.


"Erlan, kamu sekarang tahu bukan bahwa hal yang aku katakan adalah kebenaran, Elvin adalah Putra kita,"


Sylvia mencoba mendekati Erlan, dan mulai menyentuh tangan pria itu.


Airin diam-diam juga menatap ke arah samping di mana tangan erlan disentuh oleh wanita itu.


Namun itu tidak berlangsung lama, karena Erlan langsung menepis tangan itu.


"Lalu apakah itu akan menjadikan sebuah alasan untuk kamu mencoba mendekatiku lagi? Sylvia, kamu pikir aku ini cukup naif dan polos untuk bisa kamu tipu dan manfaatkan? Aku sudah cukup dengan semua kebohongan yang kamu lakukan di masa lalu, semua trik jahat yang telah kamu lakukan, bahkan setelah 3 tahun berlalu kamu tetap saja tidak berubah masih menjadi wanita semacam itu yang suka berbohong,"


Sylvia yang mendengar itu sejujurnya cukup terpukul dengan kata-kata dingin itu tidak akan pernah mengira jika Erlan akan benar-benar menolaknya mentah-mentah.


"Tapi Elvin adalah Putra kita, jadi..."


Erlan lalu segera menunjukkan ekspresi dunia dan berkata dengan kesal,


"Jangan kamu pikir, kamu bisa menggunakan Elvin sebagai alasan, kamu itu bahkan adalah seorang ibu yang buruk yang berniat memanfaatkan putramu sendiri demi keuntunganmu? Apakah kamu bahkan tidak memikirkan perasaan Elvin nanti? Apa nanti yang akan anak itu katakan setelah tahu semua kenyataan ini? Dia masih begitu kecil, kamu benar-benar tidak pernah memikirkannya lebih dalam soal perasaan anak itu bukan? Bahkan walaupun ini tidak terbongkar sekarang dan terbongkar nanti, menurutmu seperti apa perasaan Evi nanti?"


Apakah dirinya benar-benar begitu jahat hingga memanfaatkan Elvin?


Namun apalagi yang bisa dirinya lakukan sekarang?


Dirinya sudah tidak memiliki apapun.


"Airin, Mari kita berdua segera pergi dari sini saja aku sudah sangat muak bahkan untuk melihat wajahnya wanita tidak tahu malu itu," kata Erlan yang segera menggandeng tangan Airin dan mengajaknya untuk pergi dari tempat itu.


Airin sendiri menjadi cukup terkejut dengan perkataan Erlan, yang benar-benar terlihat menolak secara langsung Sylvia itu.


Dari sini terlihat jika Erlan lebih memilih dirinya, namun Airin tahu ini tidak seperti itu...


Hanya setidaknya dirinya cukup puas tentang bagaimana Erlan sudah menolak Sylvia.


Dan lihat wajah Sylvia yang saat ini terlihat pucat dan sangat tidak enak dipandang itu.


Tatapan Sylvia lalu segera bertemu tatapan Airin, Airin jelas saja menunjukkan tatapan penuh kemenangan di hadapan wanita itu seolah-olah berkata, 'Apakah kamu lihat? Erlan sekarang sudah menjadi milikku, dan kamu sudah benar-benar dilupakan dan tidak akan pernah menjadi bagian dari hidupnya lagi,'


Ekpresi Sylvia menjadi semakin buruk setelah melihat tatapan kemenangan Airin itu.


Sial...


Bisa-bisanya dirinya kalah seperti ini....


Tanpa orang-orang itu sadari ada seseorang yang menatap mereka, ekspresi orang itu menjadi rumit ketika menatap mereka, sekolah masih begitu bingung tentang apa yang harus dilakukan berikutnya.


Orang itu seolah tidak memiliki muka untuk bertemu dengan Kakaknya Erlan atau Airin, terlalu kesal untuk melihat Istrinya Sylvia.


####


Dan sekarang, Erlan dan Airin berada di taman rumah sakit, Airin memperhatikan jika Erlan saat ini menunjukkan ekspresi yang cukup terlihat galau.


"Kak Erlan? Apakah kakak tidak apa-apa? Hal-hal yang tadi?"

__ADS_1


Erlan lalu segera tersenyum dan berkata,


"Tidak apa-apa aku juga sebenarnya cukup merasa lega karena semua kebenaran sudah terungkap dan lagi aku sudah mengatakan semua yang ingin aku katakan pada Sylvia itu, aku jelas tidak akan memanfaatkan Elvin,"


Airin yang melihat senyuman itu segera merasa lega.


Setidaknya perasaan pria itu saat ini sudah tidak goyah.


Namun hal-hal di masa depan tetap saja belum terlalu pasti, Airin merasa apakah ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan kejujuran yang ada di hatinya?


Entah kenapa, Airin sedikit percaya bahwa mungkin dia itu akan menerimanya.


Erlan sendiri, menatap kearah Airin yang saat ini menunjukkan ekspresi yang cukup rumit, seolah ingin mengatakan sesuatu namun ragu.


Erlan mungkin tahu apa yang ada di pikiran wanita itu yang menghawatirkan masa depan atau hal-hal lainya soal Sylvia yang terus merayunya itu.


Dirinya jelas merasa tidak senang dengan itu dan sudah mengungkapkan hal itu pada Sylvia sebelumya.


Apakah ini sekarang saatnya mengungkapkan perasaan dirinya Yang sejujurnya pada Airin yang sempat tertunda itu?


Dirinya tahu, tempat ini mungkin bukan tempat yang cukup romantis untuk mengatakan hal-hal itu terlebih sekarang situasinya juga tidak begitu baik.


Namun dirinya juga merasa harus memberikan sebuah kepastian Yang pas kepada wanita yang ada di depannya ini.


Bahwa dirinya ini, hatinya ini, cintanya ini, hanya milik Airin seorang, baik sekarang ataupun di masa depan.


Seolah-olah kedua orang itu sudah mengambil keputusan.


"Ada yang ingin Aku katakan, kak Erlan,"


"Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting padamu Airin,"


Keduanya saling menatap dan malah berkata secara bersamaan.


Hal itu jelas membuat dua-duanya menjadi cukup canggung,


"Kak Erlan dulu?"


"Airin, kamu bisa duluan,"


Lagi-lagi mereka berdua mengatakannya bersama-sama.


"Baiklah Aku akan duluan,"


"Ok, Airin Aku akan mengatakannya dulu,"


Dua orang itu masing-masing sangat gugup dan merasa cemas, saling penasaran tentang apa yang dikatakan satu sama lain hingga untuk ketiga kalinya dua orang itu berkata secara bersamaan.


Mendengar mereka berdua seperti itu dan canggung, keduanya lalu segera tertawa menertawakan tentang kekonyolan masing-masing.


"Astaga, aku tidak pernah mengira jika akan susah seperti ini, baiklah kali ini, Aku akan memberikan Kak Erlan kesempatan untuk mengatakannya dulu,"


Airin tentu saja merasa cemas dan masih cukup gugup untuk langsung menyatakan perasaannya jadi dirinya memilih untuk menundanya bahkan walaupun hanya beberapa menit.


Erlan yang mendengar itu segera mengangguk dan menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menetralkan detak jantungnya yang saat ini berdebar kencang, begitu gugup untuk mengatakan perasaannya.


"Airin, sebenarnya Aku sangat mencintaimu, ini sebenarnya sudah cukup lama, mungkin aku saja yang baru menyadarinya belakangan ini, Sungguh Aku sangat mencintaimu, semua hal yang aku lakukan padamu karena aku mencintaimu bahkan kejadian malam itu, aku tahu ini sedikit canggung namun aku merasa ini saatnya aku mengatakan hal yang ada di hatimu, Aku tidak tahu Apakah kamu akan menyukai perasaanku ini atau tidak..."


Erlan mengatakan itu dengan sedikit canggung karena takut bahwa wanita yang ada di hadapannya itu bisa saja menolaknya.


Airin sendiri menjadi sangat kaget ketika mendengar kata-kata itu sampai-sampai dirinya tidak berbicara apa-apa.


Erlan juga melihat bagaimana Airin menjadi diam.


Apakah dirinya di tolak?


"Airin, aku selalu ingin hidup bersamamu, dan mengagap pernikahan kita adalah pernikahan sungguhan, Aku benar-benar mencintaimu,"


Namun yang Erlan dapatkan bukan sebuah jawaban, namun Airin yang segera menari Erlan kearahnya, lalu segera mencium lembut bibir Pria itu.


Seolah-olah hanya dengan sebuah tindakan memberikan semua jawaban dan kejujuran yang ada di hati Airin.

__ADS_1


__ADS_2