Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!

Kau Rebut Suamiku? Ku Rebut Suamimu!
Episode 23: Kisah Masalalu


__ADS_3

Ini adalah pagi yang baru, saat ini ketika Airin baru saja bangun keluar dari kamarnya dirinya sudah mencium aroma harum dari masakan.


Mengikuti aroma itu, Airin kena menuju ke arah dapur.


Dan benar saja, disana ada Erlan saat ini terlihat sedang memasak.


Ini bukan pertama kalinya, Airin melihat Kak Erlan memasak, yah tidak seperti Kak Erlan memiliki hobi memasak atau sesuatu, namun ini merupakan kebiasaan baru sejak mereka tinggal di Luar Negeri.


Yah, kadang masakan yang ada di luar negeri kurang cocok dengan selera lidah, dan hebatnya Erlan ternyata sangat berbakat memasak.


"Erlan, hari ini kamu memasak apa?"


Erlan yang saat ini memakai celemek, segera berbalik, dan menatap Airin,


"Coba tebak apa yang aku masak?"


Airin yang penasaran, lalu melihat ke dalam panci yang saat ini sedang sesuatu, aroma harum tercium dari panci itu aroma yang cukup menggugah selera.


"Apakah ini Sup? Sup Ayam? Aromanya seperti itu,"


"Kurang tepat jika ini sup, ini sebenarnya kaldu Ayam, nanti untuk membuat Bubur Ayam,"


"Wow, bolehkah aku mencoba mencicipi nya ini terlihat enak," kata Airin.


Erlan yang memegang sendok, segera mengambil satu sendok kuah itu.


"Ini cukup panas jadi kamu harus hati-hati," kata Erlan sambil meniup-niup sendok itu, barulah Erlan menyuapkannya pada Airin.


Itu hanya sebuah gerakan refleks, dan Airin hanya membuka mulutnya secara refleks, dan baru setelah dirinya menelan sup itu, Airin menjadi sadar dengan hal-hal barusan.


Kak Erlan menyuapinya!


Terlebih, meniupkan kaldu di sendok, apakah ini seperti ciuman tidak langsung?


Wajah Airin segera menjadi sedikit memerah, merasa cukup malu dengan pikirannya yang tidak masuk akal.


Erlan melihat wajah Airin yang sedikit memerah itu, lalu segera bertanya dengan heran,


"Apakah itu masih panas? Atau ternyata itu tidak enak?"


Airin mencoba menormalkan kembali ekspresinya dan segera menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata,


"Tidak sama sekali, benar-benar sangat enak,"


Mendengar itu, Erlan lalu tersenyum cukup puas.


"Sana kamu ke Ruang Makan saja, ini sebentar lagi sudah siap,"


Airin yang mendengar itu, segera tersenyum dan berkata,


"Baik, baik Tuan Rumah, hmm tunggu sangat beruntung dilayani oleh Tuan Muda Erlan,"


"Hah, kamu itu bisa saja bercanda,"


Ya, suasana pagi itu terlihat sangat harmonis.

__ADS_1


Sejujurnya, ini membawa Erlan pada kenangan masalalunya.


Di masa lalu dirinya juga memiliki masa-masa yang bahagia seperti ini, dengan Sylvia.


Namun sejak kapan semuanya menjadi salah?


Apakah sejak awal?


Namun tidak ada gunanya jika memikirkan soal kisah lama...


Tentang bagaimana dirinya bisa jatuh cinta padanya...


Hanya, ini mungkin berawal dari cinta masa kecil, seorang gadis yang saat itu menyelamatkan dirinya dari penculikan ketika cukup muda.


"Erlan? Ada apa? Kenapa kamu diam saja?"


Suara Airin segera membuyarkan lamunan nya.


Lupakan, tidak ada artinya memikirkan kejadian semacam itu.


"Tidak, apa-apa, sana kamu segera ke ruang makan saja,"


Setelah itu, tidak banyak hal yang terjadi, Airin dan Erlan menikmati sarapan pagi itu dengan damai sampai ketika mereka baru saja selesai sarapan ada seseorang yang bertamu ke apartemen mereka.


"Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Apakah tamu milik mu?" Tanya Airin dengan penasaran.


"Entahlah aku juga tidak tahu, akan mencoba ke depan,"


Erlan lalu segera berjalan ke depan, dan bertemu hendak membuka pintu apartemen.


"Paman Haikal? Paman kembali ke negara ini? Kenapa Paman tidak bilang? Kalau paman bilang aku pasti akan menjemput paman di Bandara,"


Seorang Pria parubaya segera terlihat dari depan pintu, sosok Paman Erlan, Haikal Castillo, seseorang yang selama ini membantu Erlan.


"Tidak perlu repot-repot, aku sengaja tidak memberitahumu karena memang ingin membuat kejutan untukmu,"


"Astaga, Paman ini ada-ada saja, mari-mari segera masuk saja Paman,"


"Ah, benar. Aku baru saja ingat, bukankah kamu belakangan ini menikah? Kamu sungguh tidak mengundang Paman? Astaga, itu sebagai keponakan bagaimana?"


Erlan tentu saja tidak membicarakan semua detail rencananya pada Pamannya, hanya membicarakan soal garis besarnya saja yang ingin mengambil kembali Perusahaan Castillo.


Dan soal pernikahannya dengan Airin, sejujurnya dirinya tidak yakin harus berbicara seperti apa pada Pamannya.


"Maaf, Paman... Yah, saat itu Paman sedang sibuk di luar negeri lagipula peta pernikahan ku hanya dihadapkan kecil-kecilan,"


Haikal hanya menghela nafas telah mendengar keponakannya itu membuat alasan lalu segera berkata,


"Hah, baiklah. Yang penting aku mendoakan yang terbaik untukmu, agar Pernikahanmu yang kedua ini berakhir bahagia, dan juga, Aku kebetulan sudah memberikan sebuah hadiah untuk pernikahan mu semoga kamu suka," kata Paman Haikal dengan ekspresi cukup senang, sambil memberikan sebuah amplop pada Erlan.


Melihat bagaimana Pamannya itu senang dengan Pernikahannya, Erlan menjadi semakin tidak nyaman untuk bicara jujur.


Emm...


Mungkin, belum saatnya membicarakan hal-hal ini pada Pamannya, takut Pamannya malah marah, kerena dirinya bermain-main dengan sebuah Pernikahan hanya untuk balas dendam.

__ADS_1


"Terimakasih Paman, namun apa ini?" Kata Erlan sambil menerima amplop itu sedikit penasaran dengan isinya.


"Kamu buka saja, itu adalah Paket Honeymoon spesial yang sudah Paman siapkan, sana pergi bersenang-senang lah dengan Istri barumu,"


Erlan membuka amplop yang berisi tiket liburan itu dengan ekpersi heran.


Tiket Bulan Madu?


Astaga....


Bagaimana ini?


Ini tidak seperti dirinya dan Airin benar-benar pasangan suami istri, namun jika dirinya dan Airin tidak pergi ke sana, Pamannya jelas akan curiga.


Erlan tiba-tiba memasuki sebuah krisis.


Namun, Krisis tidak hanya berakhir di situ, ketika Erlan melihat Pamannya membawa Koper masuk ke Apartemennya.


"Paman mau menginap disini?"


Haikal selalu menatap keponakannya itu dengan ekspresi heran,


"Ya, Aku akan menginap disini tentu saja, aku di sini kan ingin bertemu dengan keponakaanku, apakah tidak bisa?"


Erlan lalu segera menjawab dengan yakin,


"Tentu saja, Paman bisa menginap disini kapanpun Paman mau. Namun aku pikir tujuan Paman kembali ke negara ini, tidak hanya soal itu bukan?"


"Tentu saja ini soal rencanamu dan Airin, Paman bisa ikut ambil bagian bukan?"


"Ah, mari kita bicarakan di dalam saja,"


Keduanya lalu segera masuk kedalam, Airin tentu merasa senang bertemu dengan Paman Haikal, yang selama ini cukup banyak membantunya.


"Jadi Paman akan menginap? Tentu saja ini merupakan hal yang sangat baik," kata Airin dengan senang hati, tidak terlalu memikirkan begitu banyak hal rumit seperti Erlan.


"Benar, tadi Paman sempat membicarakan soal alasan kedatangan Paman?" Tanya Erlan dengan penasaran.


"Ya, seperti yang kalian semua duga. Kakekmu itu, Erlan dia adalah orang yang Ambisius, bahkan kepada anak-anaknya, dan selalu menuntut anak-anaknya untuk menjadi sosok yang sempurna agar bisa mewarisi Perusahaan, Aku dan Ayahmu selalu bersaing sejak muda. Namun seperti yang kamu kira, hal-hal semacam itu jelas tidak berakhir dengan baik, Pamanmu ini pernah melakukan kesalahan, yang membuat Kakekmu kecewa,"


"Soal Paman menikah dengan wanita yang Paman cintai itu? Dari pada sebuah pernikahan Bisnis yang Kakek rencanakan?"


Airin tentu saja sudah dikit mendengar soal hal itu, namun tidak benar-benar semuanya, karena Paman Haikal kan tipe orang yang ingin membicarakan masa lalunya.


"Ya, itu salah satunya... Hanya saja hal itu menjadi semakin rumit sejak Pernikahanku. Aku belum sempat, menceritakan ini padamu, karena hal ini sebenarnya hal yang mungkin akan membuatmu terkejut,"


"Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa cerita semuanya padaku,"


Haikal terlihat sedang menarik nafas dalam-dalam mencoba menstabilkan emosi minyak untuk bisa menceritakan semua kisah ini.


"Mamamu, dulu adalah Mantan Tunanganku, itu adalah Pertunangan Bisnis yang sudah diatur sebelumnya,"


Erlan tentu saja baru pertama kali mendengar suara ini karena tidak ada orang yang bercerita soal masa lalu Almarhum Mamanya dulu.


"Lalu... Bagaimana bisa, Mama menikah dengan Ayahku?"

__ADS_1


"Masing-masing, Aku dan Mamamu, memiliki orang yang kami suka, jadi kami sepakat untuk memutuskan pertunangan itu, namun Ayahmu, jelas tidak melepaskan kesempatan emas ini, untuk mengambil hati Kakekmu, dengan menawarkan diri sebagai pengganti untuk Perjodohan itu, dan inilah awal dari tragedi itu dimulai,"


__ADS_2