
Melihat mata itu mulai terbuka, jelas saja Airin merasa sangat kaget.
Terutama karena dirinya barusan melakukan hal-hal yang cukup memalukan sampai meraba-raba wajah orang yang sedang koma.
Airin rasanya ingin menguburkan dirinya ke suatu lubang karena merasa sangat malu.
Airin yang merasa panik segera mundur dan berdiri dari posisinya.
Suara serak dan maskulin mulai terdengar dari pria yang baru saja bangun itu.
"A ... Airin? Kamu di sini?"
Dengan namanya dipanggil, akhirnya Airin kembali ke akal sehatnya dan segera berkata,
"Ah? Kak Erlan akhirnya sadar juga, Aku akan mencoba memanggil dokter, sebaiknya Kak Erlan jangan banyak bergerak dulu berbaringlah sampai dokter datang," kata Airin langsung menuju keluar memanggil dokter dengan panik.
Erlan sendiri, hanya terus berbaring sambil menatap kepergian dari Airin.
Jelas saja, ada begitu banyak pertanyaan yang saat ini meliputi pikiran Erlan.
Tanya saja tentang apa yang sebenarnya terjadi...
Kalau tidak salah hari itu dirinya sedang menuju ke Cafe tempat dirinya dan Airin akan bertemu.
Namun tiba-tiba, Rem mobil miliknya bermasalah, jadi ketika berpapasan dengan sebuah truk dirinya oleh dan terjadilah kecelakaan yang tidak bisa terhindarkan itu, itulah ingatan terakhir yang dirinya miliki.
Erlan mulai memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit, dan Erlan mulai mencoba menggerakkan tubuhnya yang saat ini cukup lemas.
Namun ada sebuah masalah....
Ini saat Erlan mencoba untuk menggerakkan kakinya.
Namun kakinya tidak juga bergerak sesuai apa yang dirinya inginkan, bahkan dirinya tidak bisa merasakan jari-jarinya.
Hal ini jelas membuat Erlan menjadi sangat panik jadi dirinya segera membuka selimut yang dipakainya.
Ya, kedua Kakinya masih ada, namun tidak bisa digerakkan.
"Kakiku ... Kenapa dengan kakiku Kenapa ini tidak bisa digerakkan ..."
Wajar jika ketakutan tiba-tiba menimpa Erlan, tepat ketika Erlan mulai panik dan mencoba menggerakkan kakinya, Airin yang sudah ke sana bersama dengan dokter dan perawat jelas menjadi kaget juga apalagi melihat Erlan yang saat ini.
"Dokter... apa yang terjadi dengan kakiku Kenapa ini tidak bisa digerakkan... Apa yang sebenarnya terjadi padaku kenapa ini kakiku?"
__ADS_1
Terdengar suara jelas kecemasan dari kata-kata itu.
Airin yang mendengar itu, juga menjadi cukup khawatir.
"Kak Erlan, tenang dulu biarkan dokter untuk memeriksa,"
Kemudian, Dokter segera memulai memeriksa Erlan dan maslaah soal Kaki Erlan.
"Anda benar-benar tidak bisa menggerakkan kaki anda?"
"Iya, dokter. Sebenarnya Kenapa dengan kakiku?"
"Baik anda mohon tunggu sebentar setelah ini kita akan melakukan rontgen dan pemeriksaan lebih lanjut namun menurut diagnosis saya sementara, sepertinya ada gangguan saraf di kaki anda,"
"Tapi... Tapi apakah ini akan sembuh?"
Dokter itu, terlihat terdiam.
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. seharusnya ini bisa sembuh namun soal kepastiannya saya juga belum tahu, anda tidak perlu panik, sekarang pengobatan sudah cukup canggih Saya yakin anda tetap akan sembuh jadi tanamkan di pikiran anda hal-hal positif jika anda akan sembuh," kata dokter itu, sambil memberikan semangat pada pasiennya itu.
Erlan tidak tahu harus merespon seperti apa hanya mengiyakan kata-kata dokter itu Dan berharap jika kakinya sembuh.
Tepat setelah itu, dokter mulai mengatakan soal kondisi tubuh Erlan, termasuk Erlan yang mengalami, selama lebih dari satu bulan.
Tubuh Erlan saat ini masih cukup lemas dan tidak begitu bisa banyak bergerak juga.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah...
"Istriku... Di Mana Sylvia Istriku? Bukankah seharusnya dia ada di sini?"
Ketika mendengar itu, Dokter juga binggung menjawab apa karena tidak tahu.
Dan zekarang semua tatapan menuju ke arah Airin.
Sejujurnya, Airin tidak tahu harus menjawab seperti apa, terutama setelah melihat keadaan dari Kak Erlan yang seperti ini.
Apakah dirinya mampu untuk mengatakan yang sebenarnya tentang apa yang Sylvia telah lakukan selama Erlan koma?
Bagaimana ini...
"Airin? Dimana Istriku, Sylvia? Apakah kamu tahu? Ah, pasti kamu suruh bergantian untuk menjagaku bukan, Sylvia baru pulang ke Rumah? dia pasti juga sangat lelah untuk menjagaku selama satu bulan ini di sini, dia sudah berusaha cukup keras,"
Ya, ketika mendengar kata-kata hangat dan penuh ketulusan, bahkan tanpa kecurigaan itu, Airin tiba-tiba hatinya dipenuhi dengan kemarahan.
__ADS_1
Sylvia itu...
Dia itu sangat kurang ajar tidak bersyukur memiliki suami seperti Kak Erlan...
Bahkan disaat seperti ini, Kak Erlan tidak pernah sedikitpun meragukan kesetiaan Istrinya itu.
Namun kenyataannya dalam satu bulan ini, Sylvia itu, sangat jarang untuk berkunjung ke rumah sakit.
Sejujurnya, tidak ada orang di rumah yang menjaga Kak Erlan ketika berada di rumah sakit.
Hanya dirinya yang akan sekali-sekali menjenguknya di rumah sakit.
Kalau dipikir-pikir lagi, Airin juga merasa sangat kasihan kepada pria yang di depannya ini, dia yang memiliki nasib begitu malang.
"Nanti Aku akan menjelaskannya, yang jelas Kak Sylvia baik-baik saja. Kak Erlan sebaiknya istirahat dulu,"
Dan begitulah, Erlan juga memilih untuk tidak banyak bertanya dan mengikuti saran dokter untuk kembali beristirahat, telah melakukan beberapa pemeriksaan.
Berdasarkan hasil rontgen sepertinya memang ada beberapa masalah di saraf Kaki Erlan, itu mungkin tidak bisa berjalan, atau lumpuh untuk sementara, namun itu masih bisa disembuhkan.
Airin tentu saja berada di ruangan itu untuk menjaga Erlan, bagaimanapun juga Airin tidak memiliki tempat untuk pulang sekarang.
Hah, mungkin lebih baik jika dirinya menginap di rumah sakit saja, sampai dirinya menemukan tempat yang bagus untuk tinggal.
Dan begitulah, satu hari segera berlalu sejak Erlan sadar.
Namun jelas ketika hari menjelang siang, Erlan merasa ada sesuatu yang aneh, dan segera bertanya pada Airin,
"Sylvia tidak datang hari ini? Apakah dia masih beristirahat di rumah?"
Airin yang lagi-lagi mendengar pertanyaan soal Sylvia, jelas saja menjadi bingung akan menjawab apa.
Namun ini memang sebaiknya tidak perlu ditutupi lagi.
"Kak Erlan, Tolong dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan, ini mungkin sulit dipercaya..."
Erlan jelas merasa bingung ketika kata-kata Airin, dirinya segera bertanya,
"Memang ada apa sebenernya?"
Airin mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya untuk mencoba menormalkan emosi di dalam dirinya lalu dirinya segera berkata,
"Kak Erlan, perlu tahu tentang apa yang terjadi ketika Kak Erlan koma. Sebenarnya, saat Kak Erlan Koma, Kak Sylvia bukannya merawat Kak Erlan di Rumah Sakit... Namun, dia kembali ke Rumah Keluarga Castillo, terlebih dia ternyata diam-diam berselingkuh dengan Suamiku, Austin. Ini memang mungkin sulit untuk dipercaya namun itu adalah kenyataan yang terjadi sebelumnya aku pernah bilang pada Kak Erlan, kalau aku ingin membicarakan hal penting bukan? Inilah yang ingin aku bicarakan, pernyataan bahwa Kak Sylvia berselingkuh dari Kakak, lebih ini dengan suamiku Austin, Adik Kakak sendiri,"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Airin segera melihat raut wajah pucat Erlan.
Ya, Kak Erlan Pasti sangat terpukul sekali ketika mendengar ini apalagi tentang, hal buruk lain yang akan segera dirinya ceritakan setelah ini.